Senin, 10 November 2014

Mengapa kita perlu Islamic Financial Planning (IFP) ?



Ketika melihat keadaan sekitar, masalah apa sebenarnya yang menciptakan dunia ini terlihat begitu keras? Mengapa sampai seseorang harus rela meninggalkan keluarganya di bogor untuk kerja di Jakarta? Mengapa sampai ada orang-orang yang ingin mencelakakan dan mengambil hak orang lain? Pada dasarnya semua ini adalah karena masalah finansial. Kita sadari atau tidak inilah salah satu sumber masalah terbesar dalam hidup. Apabila seseorang sudah terbebas dari masalah finansial ini maka akan semakin mudahlah seseorang menghadapi masalah-masalah lain dalam hidup mereka. Namun apabila seseorang belum terbebas dengan masalah finansial ini maka yakinlah seumur hidup masalah mereka hanya akan berkutat pada masalah finansial ini.


Senin, 03 November 2014

Sukuk di Indonesia

Perkembangan Keuangan Syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak satu dekade ini. Begitu pula di pasar keuangan, salah satu instrumen syariah di pasar keuangan adalah sukuk. Sukuk secara bahasa berarti sertifikat / dokument sedang secara istilah menurut AAOIFI Sharia Standards No.17 adalah Certificates of equal value representing undivided shares in ownership of tangible assets, usufruct and services or (in the ownership of) the assets of particular projects or special investment activity.

Sukuk dapat dikeluarkan oleh sebuah perusahaan atau Negara. Sukuk yang dikeluarkan oleh perusahaan biasa disebut dengan sukuk corporation sedang sukuk yang dikeluarkan oleh Negara biasa disebut sukuk Negara. Menurut UU nomor 19 tahun 2008 SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau Sukuk Negara adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan RI

Direktorat pembiyaan Syariah merupakan salah satu unit organisasi Eselon II di Direktorat Jendral Pengelolaan utang yang berfungsi sebagai front office. Tugas utama DPS berdasarkan PMK 184/ PMK.01/2010 adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang pembiayaan syariah berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur jendral.

Ceritanya habis magang he :D

Kamis, 28 Agustus 2014

KALAU KAU BILANG


kalau kau bilang harga BBM di negeri ini
     terlalu murah dibanding negara lain
     naikan saja berapa kau suka

jangan perdulikan berapa pendapatan rata-rata
     rakyat indonesia dibanding negara lain
     karena tidak penting diperbandingkan

kalau kau bilang mensubsidi rakyat sendiri
     haram, tidak mendidik dan tidak adil
     cabut saja subsidi itu kapan kau mau

mungkin benar seperti sering kau bilang
     subsidi BBM hanya dinikmati para pemilik mobil
     yang setiap hari frustrasi dalam kemacetan

bagimu tidak penting juga memahami mereka
     yang lebih separuh pemilik mobil murahan
     yang setiap bulan pening memikirkan cicilan

tapi rakyat sudah terbiasa hidup dalam penderitaan
     dilatih penjajah selama ratusan tahun
     sehingga penderitaan sudah menjadi hiburan


Selasa, 26 Agustus 2014

Sang Pembebas

Para pelempar batu itu kini telah menjadi para peluncur roket.



“Sekarang kami izinkan para pemukim Yahudi, terutama yang berada di sekitar Jalur Gaza untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Itu adalah izin dari Hamas, bukan dari perdana menteri Netanyahu.”
Sahut Dr. Sami Abu Zuhri , juru bicara hamas







Kamis, 12 Juni 2014

Ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta vs Aksi Trisaka Jokowi-JK


Tergelitik untuk “ikut-ikutan” meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, tapi tentu mencoba untuk tidak terjebak dalam pragmatism dukung-mendukung salah satu calon, malu sama almamater cihuy, yah izinkanlah sebagai mahasiswa ekonomi mengkritisi paparan visi misi dan program kedua calon dari perspektif ekonomi tentunya. Masih jauh dari sempurna, dan belum tentu benar apa yang akan saya kritisi, tapi setidaknya ini bukti saya mencintai negeri ini, dan saya peduli siapa yang akan menjadi pemimpin saya setidaknya 5 tahun kedepan.

Dari berbagai sumber baik dari media massa dan www.kpu.go.id sendiri, saya menemukan visi dan misi kedua capres, tak akan dikritisi semua karena saya belum punya kapasitas untuk itu, tapi setidaknya mencolok untuk mengkritisi di bidang ekonominya, sebenernya ini sudah masuk ke program bukan lagi visi dan misi, karena sudah mulai rinci dan spesifik apa yang akan mereka lakukan di bidang ekonomi jika nanti terpilih memegang amanah sebagai presiden Republik Indonesia. Berikut program dari kedua calon , dimana pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta mereka sebut dengan Ekonomi Kerakyatan dan pasangan nomor 2 Jokowi-jusuf Kalla dengan sebutuan Aksti Trisaka.

Ekonomi kerakyatan versi Prabowo-Hatta:.

1. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran untuk program pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM, serta industri kecil dan menengah.

2. Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lainnya untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil lainnya.

3. Mendirikan Bank Tani dan Nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil, petani, peternak, nelayan buruh, pedagang tradisional dan pedagang kecil.

4.  Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional serta mengkonsolidasi belanja negara untuk program pengembangan koperasi dan UMKM dan revitalisasi pasar tradisional.

5. Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW).

6. Mengalokasikan dana minimal Rp 1 miliar per desa atau kelurahan setiap tahun secara langsung, dan mengimplementasikan pula UU Tentang Desa.  Dana APBN yang disiapkan sebesar Rp 385 triliun selama tahun 2015 sampai 2019 bagi 75.244 desa atau kelurahan. Dana ini digunakan untuk program pembangunan pedesaan dan membangun infrastruktur untuk rakyat melalui 8 Program Desa.

Aksi Trisaka Jokowi JK
1.   Akan melakukan Pembangunan Sumber daya manusia, dengan menerapkan kebijakan Indonesia pintar, Indonesia kerja, Indonesia sehat, dan Indonesia sejahtera.

2.  Akan meningkatkan daya saing dan produktivitas rakyat, dengan membangun infrastruktur, pasar tradisional dan sentra perikanan, investasi mudah dan menarik, serta menjadikan BUMN sebagai agen pembangunan

3. Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi.

 Begitu garis besar dari program ekonomi kedua calon, nah saatnya berpendapat, kalau dari sudut pandang ekonomi konvensional kayaknya udah biasa dan gak terlalu penting lah ya, saya coba dari sudut pandang ekonomi islam. Salah satu yang menjadi ruh dari ekonomi islam adalah ingin menghilangkan dekapling , yaitu kesenjangan antara ekonomi moneter dengan ekonomi di sector riil, sehingga berbicara ekonomi islam adalah berbicara bagaimana meningkatkan ekonomi di sector riil yang sejatinya merupakan tonggak dan fondasi khusus dalam pertumbuhan ekonomi.

Dari pemaparan diatas saya rasa kedua calon sudah mengarahkan kepada pembangunan disektor riil , baik dari ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta maupun dari Aksi trisaka Jokowi-JK , namun apabila ingin membandingkan dalam hal siapa yang lebih mendekati kepada pembangunan di sector riil maka menurut saya Prabowo-Hatta mempunyai nilai lebih daripada jokowi – Jk, kenapa? Terbukti dari pemaparan program Prabowo-Hatta yang sudah spesifik sampai membahas dari pedagang sebagai individu, kemudian UMKM sebagai kelompok dalam usaha mikro sampai kepada perbankan yang biasanya hanya untuk kepentingan menengah keatas diarahkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Sedang dari pemaparan dari Jokowi-JK yang memulai dengan pembangunan dari manusianya sampai kepada kedaulatan energy dan pangan masih terlalu melebar dan belum spesifik, padahal ini sudah masuk kedalam program yang seharusnya lebih spesifik, dan langsung bisa di implementaskan. Namun dari paparan diatas, Jokowi-JK masih dalam taraf sebuah konsep yang belum rinci. Sebenarnya salah satu point dari trisaka sudah mulai rinci mengarah kepada pembangunan di sector riil seperti pembangunan infrastruktur dan pasar tradisional, namun sayang tidak diikuti dengan 2 point lainnya yang masih dalam taraf normative, seperti ingin melakukan Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi, tapi sederhananya kedaulatan seperti apa yang diharapkan? Kedaulatan untuk rakyat atau untuk asing? Masih terlalu ambigu dan belum sampai ketaraf apa yang akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut, sehingga dari sisi kedekatan program ekonomi ke sector riil yang merupakan ruh dari system ekonomi islam satu point untuk Prabowo-Hatta.

eits tapi baru dari sisi ini ya, silahkan di analisa dari sisi yang lain, sehingga dengan cara sepert ini ini kita mengharapkan mempercepat proses demokrasi yang substansial  dan tidak terjebak dalam aksi dukung mendukung tanpa alasan yang jelas, apalagi yang mahasiswa, ehm malu sama almameter cuy hee, sekian. Wallahua’lam. 

Akulah Produk Privatisasi Pendidikan

Kini aku ingin berbicara tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah kontroversi Ujian Nasional  dan permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Di tengah hiruk pikuk permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya, tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari privatisasi pendidikan.

Tidak bermaksud menyalahkan siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik, dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus kita jawab.

Sederhananya seperti yang aku katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ? tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti saat ini!

Aku tak ingin diam tentunya lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu, tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika  system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi, argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus menjadi konsen utama kita.

Masuk ke system pendidikan kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam, dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.


Menarik membahas tentang dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini, ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J

Kebutuhan Sang Manusia

Asfahani berpendapat bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.

Dari pendapat ulama di atas ada hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual? Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera, mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg memang beragam macamnya di dunia ini?

Sebelumnya kita kesampingkan pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan? Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis, apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.

Sampai disini tidak ada masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.

Sederhananya begini, seseorang yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer lainnya?  di atas saya berkata bahwa kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu, tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas, banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup, dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.

Semisal saya seorang yg insya Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang saya tangkap dari sang ulama ini.


Sehingga selanjutnya adalah di bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Wallahua’lam J

Senin, 26 Mei 2014

Politik, off the record yaa..



“Ketika Islam beribadah maka akan dibiarkan, ketika islam berekonomi maka akan diawasi, ketika islam berpolitik maka akan di hancurkan sampai keakar-akarnya”, begitu kata Mohammad Natsir.
Politik? Yaa sekali-kali menulis politik boleh lah ya, walaupun kayaknya banyak yang tak suka politik, banyak yang bilang politik itu keji dan kotor, sampai orang-orang yang kerjaannya memaki-maki politik dengan system serta semua dinamikanya seolah-olah tau luar dalam padahal mungkin tau kulitnya saja tidak, yah selamat anda telah termakan tipuan-tipuan sang politikus kotor sehingga anda tidak akan tertarik kepada politik jadi dia kekurangan saingan deh , tapi ya sudahlah. Saat ini hanya ingin membagi pandangan ku terhadap politik, semoga menarik.
Politik bagiku tak ubahnya seperti ilmu pengetahuan yang lain, seperti ekonomi, hokum, sampai ilmu fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Mereka suci, mereka bersih, mereka ada untuk menunjang peradaban dan kehidupan umat manusia di dunia, tanpa perkembangan semua ilmu itu maka tidak berkembang juga kualitas kehidupan kita, benar kalau ada orang didalamnya yang keji dan kotor, benar kalau ada orang yang menguasai ilmu-ilmu itu digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga seolah-olah kita tak sadar membenci ilmu-ilmu yang suci itu, sesederhana itu kesalahanfahaman sebagian besar orang-orang yang memaki-maki politik menurutku.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ada sedikit yang berbeda dalam ilmu ini, “Fatih, ini off the record yaa” , kata sang jendral kepadaku, begitu kerap kali kalimat yang kutemui ketika dalam proses pembelajaran ilmu ini, tak semua hal orang perlu tau, tak semua hal perlu dikatakan, apa yang terucap di mulut memang kadang berbeda dengan yang di hati, tidak berarti bohong walau kadang kebohongan itu tetap dilakukan sebagian orang, hah tidak sesederhana itu, ini semua hanya seni, sehingga bagi kalian yang tak biasa hanya akan menjadi penonton dan terdiam, tapi begitulah politik, seni untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan. Tapi catat, tujuannya adalah selalu mulia, selalu mulia, politik yang identic dengan kekuasaan adalah dalam rangka untuk mengatur hajat hidup orang banyak untuk menjadi lebih baik, itulah tujuan utama kita berpolitik, mulia bukan? Justru kalau mau fair aku bisa mengatakan berbeda dengan ilmu ekonomi yang aku kuasai, ilmu ekonomi diawali dengan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tercermin dalam selalu dimulainya mikro sebelum belajar makro, dalam sudut pandang ini individual sekali bukan?
Tapi politik dimulai dengan tujuannya yang mulia, namun jalan menuju kekuasaan itu crowded kawan, macet, penuh, sehingga orang-orang yang berniat baik tadi harus bersaing untuk menuju singgasana tersebut, dalam proses menuju singgasana inilah orang-orang yang mulai tak sabar akan menjadi sang pecundang yang melupakan tujuan awalnya tadi sehingga menghalalkan semua cara, orang-orang ini biasa kita sebut dengan orang-orang yang pragmatis, namun tidak jarang juga orang-orang yang tak sanggup bertahan dalam persaingan itu mundur mengakui kekalahannya sambil memaki-maki dari luar medan perang, sehingga biasa kita sebut dengan orang-orang idealis, setidaknya mereka merasa seperti itu.

Karena itu menurutku keseimbangan dan integrasi sangat diperlukan disini, yap jadilah seseorang yang idealis namun tetap menikmati proses yang ada, sehingga kau akan menguasai seni berpolitik, yang terpenting adalah ingat tujuan mulia kita dalam berpolitik, mengatur hajat hidup orang banyak, sehingga ini adalah tugas mulia yang harus kita rebut, namun perkataan M. Natsir diatas tentu menunjukkan bahwa musuh kita nyata, bahwa dunia tau, kepemimpinan islam akan menghancurkan barat dengan hegemoninya, karena itu mereka selalu berusaha menghancurkan kita, ssst ini of the record yaa hee, okelah mungkin cukup dulu, lain kali mungkin menarik membahas demokrasi atau prabowo dan jokowi? J

Sabtu, 24 Mei 2014

Cinta, Kata ini yang sempat hilang!



Bismillahirrohmanirrohim
Lama rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini, tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama ini?
Aku tak ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan secara maksimal, “Cinta” , yah kata ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan pemikiranku saat ini.
Jangan menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak, ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur, seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah hingga akhir hayat.
Mereka semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini, apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang, tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia suatu saat nanti, Insya Allah J


Sabtu, 05 Mei 2012

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%


Bab I dari Buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Penerbit : Pustaka Pohon Bodhi (Oktober 2007)

Terjemahan dari artikel : Larry Hannigan


sebuah dongeng sebelum memulai...

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%

Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan sekarang rencana barunya siap untuk dimulai.

Selama puluhan generasi, masyarakat terbiasa dengan sistem perdagangan barter. Seseorang akan menghidupi keluarganya dengan memproduksi semua yang mereka butuhkan ataupun mengkhususkan diri dalam perdagangan produk tertentu. Kelebihan dari yang dia produksi, akan dia tukarkan dengan kelebihan barang lain yang diproduksi orang lain.

Pasar setiap hari ramai dan bersemangat, orang-orang berteriak dan melambaikan dagangannya. Sebelumnya pasar adalah tempat yang menyenangkan, tetapi sekarang jumlah orang terlalu banyak, pertengkaran pun semakin banyak. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dan bercanda, sebuah sistem yang lebih baik mulai diperlukan.


Secara umum, orang-orang relatif bahagia, dan mereka menikmati buah dari hasil kerja keras mereka.

Di setiap komunitas dibentuk sebuah pemerintahan yang sederhana yang tugasnya menjaga agar kebebasan dan hak setiap anggota masyarakat dilindungi dan untuk memastikan bahwa tak seorang pun akan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan oleh siapapun juga.


INI ADALAH TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PEMERINTAH (GOVERNMENT) DAN SETIAP ANGGOTA PEMERINTAH DIPILIH SECARA SUKARELA OLEH ANGGOTA KOMUNITAS YANG ADA.

Jumat, 04 Mei 2012

Serumpun Tapi Tak Sama


(Catatan Perjalanan bag 2 ^^ )


“Kita berperang untuk kita, namun kita akan menggunakan akses dana Negara lain untuk membiayainya” – Meshulam Nahari ( Menteri Perekonomian Israel)
“Hancurkan kaum yahudi ya Allah sebagaimana engkau menghancurkan mereka dulunya di Benteng khaibar” - Abu Sulaiman (panglima hamas)
“Bergembiralah untuk syahid, wahai jiwa. Karena engkau akan dikaruniakan tubuh yang baru di hadapan rabbmu.” - Hasan ( wakil pimpinan pasukan hijau)
“Hari ini mereka telah merasakan sedikit ketakutan, seperti ketakutan yang mereka berikan kepada anak-anak, ibu-ibu dan saudara-saudara kita.” – Ismail Haniyah ( Perdana mentri otoritas Palestina)

        Begitulah sedikit cuplikan dari sebuah novel berjudul “The Gate of Heaven” karangan R.H. Fitriadi. Walaupun ini sebuah novel namun kisah ini didasari dari fakta akurat dan perkembangan harian di gaza. Lokasi tempat dan situasi kejadian seratus persen nyata. Sebagian nama pelaku benar adanya, dan tulisan ini juga mengarah kepada suatu kebenaran yang paling nyata. Terlepas kita mau percaya atau tidak, terlepas apabila sebagai anak ekonomi saya akan mengatakan bahwa ini hanya sebuah pernyataan agar membuat novel ini laku, seperti halnya apabila kalian juga telah membaca buku-buku karya Zaynur Ridwan, salah satunya berjudul Novus Ordo seclorum ( Tatanan Dunia Baru) yang bercerita ttg berbagai konspirasi yahudi, dibuat menjadi sebuah novel agar lebih menarik, buku yang bahkan membuat kita merasa tak ada tempat lagi dibumi ini yang tidak terjamah oleh mereka, hingga tujuan akhirnya adalah membuat dunia baru di bawah kekuasaan mereka. Kita bisa percaya atau tidak, namun saya rasa hal-hal seperti ini perlu untuk kita ketahui kawan, karena apa? Tak lain adalah mereka adalah salah satu musuh utama kita sebagai umat islam, bagaimana mungkin kita akan berperang kalau kita tidak mengetahui kekuatan lawan? Dalam permain catur itu, yang paling hebat merancang strategi belum tentu dialah yang menang, namun siapa yang bisa membaca pergerakan lawan, lalu dapat meredamnya sudah bisa di pastikan dia tidak akan kalah. Mengerti maksudku? Jangan terlalu focus kepada kekuatan kita, pelajari juga kekuatan lawan, yah begitulah. Atau anda bukan orang muslim? Wah berarti tulisan ini bukan untuk mu kawan ;)
        “hey tih, kepalamu gak pusing”
        “ loh kenapa pusing? Buku ini gak seberat buku-buku fisika dasar kok”
        “gak makudnya bisa-bisanya disaat seperti ini baca buku.”
“lah terserah ane dong, yang jelas kan gak ada larangan baca, yang ada kan hanya larangan mengaktifkan hp dan apalah itu. Week “
        “yah terserah mulah” . sahut kawan ku kesal

        Diatas ketinggan puluhan ribu kaki dari dasar laut, diatas sebuah burung besi raksasa, di dalam pejalanan menuju negeri seberang, disinilah saya sekarang. Sedang menikmati penerbangan  Indonesia-malaysia, rasa kantuk yang tak kunjung datang memaksa ku untuk membuka sebuah novel tentang perjuangan saudara kita di palestina. Hanya sekadar mengisi waktu dan saya menikmati itu. Setelah jantung ini dibuat sedikit deg-degan ketika melakukan perjalanan dari bogor menuju bandara, ditengah-tengah pertanyaan “apakah saya jadi berangkat?, apakah saya akan ditinggal, dan bla bla, akhirnya begitulah semua berakhir gembira hho.  

Kamis, 19 April 2012

SYADDU RIHAL ILAL AQSHA


 Perjalanan Menuju Pembebasan Masjid Al Aqsha

Gaza.. Gaza.. Gaza..
Semuanya bermula
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Tanah para syuhada
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Kemenangan kan nyata
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Palestina merdeka
                Bersorak, bernyani, meloncat, sambil bertakbir  dan dengan suara lantang meneriakkan,
“Satu kata untuk palestina, BEBASKAN”
“Dua kata untuk palestina, BEBASKAN PALESTINA”
“Tiga kata untuk Palestina ,BEBASKAN PALESTINA ALLAHUAKBAR”
                 Begitulah kira-kira semaraknya acara penggalangan dana sekaligus pelepasan relawan berjumlah sekitar 8 orang ke palestina, bersama kurang lebih 8 orang teman-teman ku kami datang dari bogor untuk ikut andil dalam acara didepok itu.
                Izzatul islam, Arruhul jadid, dan beberapa grup nasyid lain ikut meramaikan acara tersebut, namun minus satu, sohaaaaaaaaaar gak adaaaaaaaa  , yap minus shoutul harokah, sibuk kali ya, andaikan ada wuiiih lengkap sudah , namun apalah daya Allah berkehendak mereka tak datang, namun izzis dan arruhul jadid pun rasanya sudah cukup membuatku dan teman-teman ku berkeringat karena loncat sana sini hahay mantep dah  
Ini Panggung Utama nya kawan,











Tau siapa orang tua disamping? Bukan , bukan kakek kakek nyasar , enak aja hha, beliau adalah taufik ismail bro, bersama dengan seorang pemuda dari palestin sedang membacakan puisi, udah tua namun semangat jihadnya luar biasa, salah satu yang dikirim ke palestina juga lo




Senin, 16 April 2012

Jenis-Jenis serta Dampak Negatif RIBA

-->

                 Terdapat beberapa jenis jenis Riba, yang Insya Allah akan coba saya bahas disini,
1.   Riba Al-Fadhl
  • Riba ini muncul karena adanya pertukaran dua barang sejenis dengan kelebihan/tambahan pada salah satunya.
  • Diskusi tentang riba al-fadhl muncul dalam hadis ketika emas, perak, gandum, roti, kurma dan garam ditukar di antara barang tersebut harus dilakukan saat itu juga serta harus sama dan sejenis.
2.   Riba An-Nasi’ah
  • Berasal dari kata nasa’a yang berarti menunda atau menunggu.
  • Riba Nasi’ah adalah riba yang timbul karena adanya tambahan dari nilai premium yang diperjanjikan karena terjadi penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.
  • Riba ini merupakan tambahan atas pinjaman.

Namun terdapat sedikit perbedaan pendapat, yah disini perlu saya jelaskan perbedaan dalam fiqh muamalah itu sering terjadi tapi Insya Allah semuanya berasal dari sumber yang sama yaitu Al-Quran dan Al Sunnah.
Ada juga yang membagi RIBA menjadi 2 garis besar dulu baru kemudian di jelaskan lebih rinci lagi agar lebih, misalkan saja yang terdapat dalam buku “Bank Syariah dari teori Ke praktik” karya DR.M.Syafii antonio, beliau membagi RIBA menjadi
Ø  Riba utang piutang, terdiri dari :
•          Riba qardh: suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang, contohnya Bunga.
•          Riba Jahiliyah : utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

Di Balik Sudut Kecil Kota Jakarta



            Magrib yang kelam di kota bogor, kota yang disebut kota hujan ini benar benar kota hujan, setelah hampir seharian mendung, sang awan menumpahkan juga isi perutnya ketika azan magrib berkumandang. Deras, deras sekali sampai sampai dapat membuat alasan untuk tidak shalat kemasjid namun tetap saya lakukan, menerjang badai dan hujan untuk berjalan menuju masjid , ya iyalah orang jarak kamar ke masjid hanya beberapa langkah hehe, namun satu yang kufikirkan jadikah aku pergi malam ini? Menghapus lelah dan penat sejenak kehidupan keras di asrama dengan bermain main kerumah seorang teman liqo di jakarta. Setelah shalat isya akhirnya kami putuskan untuk tetap pergi karena nampaknya hujan sudah mulai berganti dengan gerimis. Setelah sedikit beres beres, kami berangkat menuju stasiun, lalu naik kereta menuju keramat jati, jakarta timur, (kalau gak salah). Sampai di stasiun keramat jati kami naik angkot 2 kali lalu sampailah kami di rumah saudara saya itu.
 sederhana, tak terlalu besar, sedikit berantakan,  kertas disana sini, bahkan terkesan sempit karena banyak barang-barang , waduh jujur amat yak , tapi ada perasaan aneh yang saya rasakan ketika memasuki rumah tersebut, sebuah kerinduan yang ntah datang darimana, pikirian saya melayang jauh menuju pelabuhan merak lalu menyebrangi selat sunda hingga sampai di pelabuhan bakauheni di lampung, terus berjalan hingga melewati palembang terus mencapai daerah jambi lalu naik ke gunung kerinci terus turun lagi, bermain main di kebun tehnya, sungguh tak jelas mw kemana,  belum belum, fikiran saya terus ke ibukota sumatera barat, masuk kota padang sampai di sebuah perumahan bernama belimbing, Jeruk 3 nomor 6, memasuki rumah yang sederhana , perkarangannya, dindingnya sampai bau tanah tempat saya sering bermain kelereng pun rasanya masih jelas terbayang, rumah tempat aku menghabiskan masa kecil ku selama kurang lebih 5 tahun, indah ,tenang dan damai begitulah yang kuingat dari rumah ku itu dulu.
“Eh tih, itu kue nya di makan,” kata kawan ku itu sambil menyodorkan sepiring berisi kue2 kecil. “yoi , makasih makasih, gak usah repot-repot, yang ada keluarin aja semua,” jawabku dengan penuh percaya diri haha. Pandangan ku kembali menyapu ke seluruh ruangan, berantakan tapi damai, rasanya seperti kembali kemasa-masa itu, sungguh kerinduan yang tiba2 menusuk. Lalu melihat adik-adiknya yang masih kecil , gemes dah, dan akhirnya pandangan ku tertuju ke sebuah kertas iklan, yah kurang lebih seperti brosur gtulah, ketika ku baca judulnya sangat menarik, mau tau ya? Gak mau? Ya udah siapa juga yang peduli haha.
“Hidayat-Didik, Ayo bereskan jakarta” begitulah, sebentar lagi pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI JAKARTA. Aku baca brosur ttg riwayat pendidikan dan organisasi ke2 orang tersebut, menarik dan sedikit menyita perhatianku, setelah selesai membolak-balik brosurnya kututup dengan berdoa untuk kemenangan pak hidayat ini, semoga pak hidayat menang dan partainya berkuasa sehingga islam kembali berjaya di negeri ini amin. Malah kampanye –‘ haha bodo amat, terserah saya dong,  lalu penasaran aku bertanya, “orang tua antum mana?” , “belum pulang, lagi rapat kayaknya” , jawabnya. mendegar itu aku langsung tersenyum, kayak abi  buanget, malem2 belum pulang, rapat teruuus, gak sudah sudah memikirkan umat haha. Lalu tak lama kemudian orang tuanya pulang, dan tak selang beberapa menit sudah keluar lagi, oalah sibuk amat ni orang, pikirku, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, penasaran aku keluar dan ternyata apa yang sedang beliau lakukan? Sedang menempel sebuah poster “Hidayat-Didik” ternyata, wah timses nih kayaknya hahay. Hingga akhirnya kawan saya tersebut berkata,
“eh tih yuk kita jalan , udah malem nih.”
“yang bilang siang siapa? –‘ , emang kita mau jalan kemana malem2 gini?” tanyaku
“ke Kalibata, kita tidur disana aja, gak enak disini, agak sempit dan lagi pada sibuk kayaknya.”
“loh , kenapa? Ane suka kok disni.”
“ya gak papa kita kesana aja .”
“woke ane ikut antum aja lah”
“sip lah.”

            Lalu menaiki motor sederhananya kami bertolak dari keramat jati menuju kalibata, berasama adek kecilnya yg bernama ibrahim, biasa di panggil aim, yah biasa panggilan imut seorang anak yang belum genap berumur 3 tahun itu. Saya penasaran apakah ketika umurnya sudah mencapai 40 tahun masih di panggil aim haha. Sejenak saya tinggalkan keluarga aktivis , wih aktivis, keren bener yak bahasanya, begitulah. Lalu sampailah kami di daerah kalibata, memasuki sebuah perumahan, dan saya membaca tulisan di gerbangnya, karena sudah gelap dan mata saya sedikit mengantuk kayaknya saya salah baca atau apa, kalau gak salah tulisannya seperti ini ,
 “RUMAH JABATAN ANGGOTA DPR-RI KALIBIATA JAKARTA”
??? ha serius nih? Ah kayaknya kawan saya ini salah masuk perumahan, atau memang mata ini minusnya semakin parah kali ya, tak taulah, dan akhirnya kami memasuki sebuah rumah , 2 tingkat , 4 kamar atau mungkin 5 lengkap dengan kasur empuk atw biasa di sebut springbed ya,  3 atau 4 kamar mandinya ya, ( maaf gak tau jelas, rumah orang uy haha) ruang tamu, ruang tengah, dapur , garasi dan ruangan2 kosong ntah apa gunanya kyknya sih untuk kantor atau ruang kerja, dan ada lagi ruangan untuk pembantu kayaknya di bagian dekat atap, yah gak gede dan mewah mewah amat sih, cuman mewah banget haha, pokonya jauh dari rumah yang sebelumnya,  tapi teng nong sepi luar biasa, disana cman tinggal seorang anak sma kelas 1 bernama hafid yang kyknya di tugasi untuk menjaga rumah tersebut, hampa, begitulah pandangan pertama ketika saya memasuki rumah tersebut.
            “ Kita nginap disini?” tanyaku
            “ yap, disini lebih luas”. Jawabnya
            “hm yah luas sih, tapi..”
            “kenapa ? ada yg aneh?”
            “ gak gak, emang ini rumah antum?” , Sungguh pertanyaan yang benar-benar tolol , udah jelas tulisannya rumah jabatan, ya jelas rumah dinas milik pemerintah --‘
            “ya bukanlah, “
            “Jadi orang tua antum anggota DPR?”
“Bukan – bukan, ada saudara aja, jadi rumahnya jarang dipakai, kalau ada tamu-tamu aja biasa di pakai”
            “ooh gitu,” kata ku seolah tak terlalu peduli.
 Tak ingin rasanya bertanya lebih lanjut masalah pribadinya, cukuplah aku tau malam ini akan menginap di rumah mewah. Ini mah rasanya bukan jadi kayak nginep di rumah kawan, tapi kayak pindah ke hotel, gak seru ah batinku.
“Eh tau gini kemaren pas ke jakarta ama anak-anak mau ke IBF , malemnya mending kami kesini aja ya?” aku memulai perbincangan lagi .
            “ Loh emang kalian gak jadi ke mesjid BI?”
“apaan, di kunci uy, kami agak kemaleman datangnya, heran ntah kenapa mesjidnya gak 24 jam, mungkin orang BI nyimpen duit jga di mesjid kali ya haha, akhirnya kami kerumah arif di bekasi” kataku
“Jadi mabitnya gak jadi?”
“Yah gtu dah,tapi Insya Allah niatnya udah, ttp dpt pahala lah hehe.”
“Yah kalian gak ngomong sih, ane waktu itu pas lagi ngumpul ama keluarga besar jadi gak bisa ikut.”
“Ya udahlah mw diapakan”

Begitulah, lain waktu saya pernah bersama sekitar 11 orang anak2 liqo juga pernah maen ke jakarta untuk mencari buku atau tepatnya menghabiskan uang, yang penting jelas dari pada menghabiskan uang untuk orang orang yang tak jelas mending beli buku, yang tersinggung tersinggunglah, karena sesungguhnya saya benar benar tak peduli haha, sempat terlantar malam harinya di jakarta karena tak ada penginapan, seru abiis tapi bukan waktunya membicarakan itu sekarang, kapan kapanlah kalau ada umur panjang :D
Lanjut , akhirnya malam itu kami habiskan waktu dengan mengobrol bersama, saya , kawan saya , dan seorang anak sma kelas 1 dan adek kecil berumur kurang dari 3 tahun di sebuah rumah yang saya rasa bisa diisi lebih dari 10 orang, sesekali bermain PS 2, bola tentunya, alhamdulillah saya menang beberapa kali, gak penting –‘ . Kemudian ketika jam menujukkan setengah satu pagi, kawan saya menuju kamar di lantai 1, dan berkata,
“Tih, kalau antum mw tidur dilantai atas aja ya,”
“Ah gampanglah, ntar ane lihat2, paling ane tidur di sofa ini aja.”
“janganlah, mending di atas aja.”
“ya ya”. Sahutku sambil membaca artikel di sebuah website.
Akhirnya aku naik keatas, melihat lagi 3 kamar besar lengkap dengan springbednya dan ac nya, sungguh menggiurkan , sayangnya dari 3 kamar itu saya tak menemukan tempat yang nyaman untuk tidur, gaya amat yak , padahal emang biasa tidur di lantai ni hehe, dan ujung-ujungnya saya tertidur di atas sofa bersama laptop yang menyala..
Pagi yang cerah, shalat subuh agak telat namun belum terlambat, pagi yang indah untuk jalan-jalan melihat perumahan mewah anggota DPR rasanya,
“eh , jalan-jalan yuk.” Ajakku
“kemana?”
“Muter-muter aja”
“oh ayok lah”

            Berkeliling melihat-lihat , yah tak perlu lagi ku jelaskan lagi , satu hal yang pasti dari setiap rumah dinas semua rumah sama bro, hanya di bedakan dengan nomor, penasaran aku bertanya lagi tentang mesjidnya, setelah melihat-lihat, afwan ini hanya pendapat pribadi ya,  yah cukuplah untuk dikatakan sebuah mesjid bagus, hanya kalau di fikirkan ini perumahan dinas DPR seharusnya mesjidnya bisa 200 kali lipat lebih bagus dari ini , berapa sih anggarannya tak akan melebih anggaran toilet di DPR kurasa?? haha, yah minimal 2 tingkat atau gmana kek, tapi mungkin yang buat juga mikirnya gini, “Berapa banyak sih anggota DPR yang mau shalat kemesjid?” jadi mungkin itu juga menjadi salah satu alasan sehingga mesjidnya tak terlalu besar dan mewah seperti halnya rumah rumah persinggahan mereka. Maaf pak bercanda :D
            Sempat mencicipi mesjidnya dengan shalat duha, dan berkeliling-keliling sendirian dengan motor dan sempat melihat cengiran satpam karena benar-benar keliling mencari rumah kawan saya itu. “Ni orang pasti baru dateng, daritadi muter muter kayak orang tolol,” begitulah yang saya fikirkan dari cengiran sang satpam itu haha. Rencanya saya mau diajaknya main ke TMII, tapi karena kayaknya hari udah siang akhirnya kami putuskan untuk balik kerumah kawan saya yang di keramat jati agar sorenya bisa balik ke asrama.
            Keramat jati,  sekitar pukul 14.00
Rumah sederhana itu kumasuki lagi, kali ini lebih terlihat lebih rapi,
            “Bentar ya ane mau kedalem dulu.” Sahut kawan saya
            “Eh ane mw rebahan nih, disini emang gak papa?” ketika itu sedang berada di ruang tamunya.
            “Hem, janganlah kita ke atas saja.”
            “Okeeh,” aku menurut sama tuan rumah tentunya.

            Lagi-lagi bagian atasnya , afwan kayak kapal pecah, eh tapi ini kawan ane sendiri yang ngomong :D, “benar-benar kayak kapal pecah ni rumah” begitu katanya. Aku hanya tersenyum, tak sedikitpun suasana ini membuatku tak nyaman, jujur justru aku merasa rileks berada disini, lalu aku merebahkan diri di kamarnya yang berisi sekitar 4 kasur sederhana yang disitu juga ada adek2nya yang laki-laki sedang khusyuk dengan laptopnya.
            Pulas hingga ketika ashar aku tak sempat kemasjid, karena sdikit terlambat, asik sih, rumahnya gue banget kayaknya haha, udah lama gak bertemu dengan suasana seperti ini sih, suara berisik adek-adek nya yang bermain , kadang ada suara anak perempuan yang menangis, pasti abangnya ada yang jahil, gak kayak saya yang tak pernah membuat adek nangis, boong banget haha , suara umminya yang lagi masak waaa kangen rumaaaah uy.
            Magrib,
Sedikit ada insiden, sendal gunung ane yang baru beli hilang bro hik hik , curhat nih bang? Haha. Gak sekedar info aja, ke mesjid jangan make sendal bagus, kecuali kalau udah ikhlas dan niat mau berinfak hehe, yah Insya Allah ikhlas lah kehilangan sendal itu, *ikhlas ngomong-ngomong, apanya yang ikhlas yak –‘ wkww,  hanya saja saya berfikir yah bayaran dari perjalanan yang menyenangkan ini rasanya pantas lah untuk sekedar kehilangan sendal gunung ;)
Ba’da isya,
Di mesjid yang sama, sendalnya masih tak ada ternyata, ooh masih ngarep toh –‘, ya iyalaahh wkwkw,          
“ayok tih kita siap-siap balik ke asrama” sahut kawan ku di jalan menuju rumahnya dari masjid.
“Yoi”. Jawabku santai
            Setelah pamitan dengan orang tuanya kami pun berjalan menuju angkot, sebagai cerita penutup, ada yang sedikit menarik di angkot, gak sengaja di tengah keramaian jakarta kami dapat angkot yang kosong, dan si mamang angkot yang kayaknya sudah tua dan bangka hha, gak ding tua aja gak make bangka, bangka itu kampung saya tempat yang indah yang tak bisa disangkut pautkan dengan ni abang angkot, apaan sih geje banget yak wkwk, dan kemudian dia tiba tiba nyeletuk,
“hmm, kalau dulu motor dan mobil seramai ini di jakarta pasti mau kampanye, sekarang mah rame terus.”
            Ya iyalah bang, namanya juga ibu kota, kalau papua kali dah. Tapi dalam hati hehe
“wah iya ya bang?” tanyaku pura-pura bego, nenek-nenek juga pasti tau klw jakarta padetnya minta ampun.
            “yah begitulah, gimana kalau ntar ada kampanye ya? Pasti lebih rame nih”
            “hha , iya mungkin gtu bang .” sahutku tak terlalu tertarik.
“eh ngomong-ngomong kalian ntar milih siapa? Sebentar lagi kan pemilihan gubernur kalian tinggal di jakarta kan?” . Si abang ini ngoceh lagi, tapi kali ini menarik kyaknya
            Saya biarkan kawan saya yang menjawab.
            “iya bang tuh di keramat jati.” Jawab temanku
            “Jadi kalian ntar milih siapa?” tanya nya lagi kayak badan survei aje
Saya tersenyum, gak tau dia nih bapak orang yang ditanya timses hidayat-didik wkwkw. Saya biarkan kawan saya yang menjawab,  ya iyalah masak saya yang mw jawab, milih kagak –‘
“kami kayaknya milih pak Hidayat pak” . sahut kawan ku,eh bntar, katanya tadi kami? Lu aja kali gw kagak. Haha
            “ooh wah hidayat, berarti ada kader PKS nih hehe” kata sang abang angkot nyengir
            “gak gak kami milih karena pak didik juga.” Kata kawanku lagi
Ehem ehem aku batuk yang tak perlu, “emang bapak milih apa pak?” tanyaku membalas pertanyaan si bapak karena kayaknya kwanku mulai terdesak dengan penyataan si bapak  :D
“hem saya ya? Sebenernya saya pada awalnya agak apatis dengan pemilihan ini. Yah rasanya tak akan ada yang jauh berubah siapapun pemimpinnya. Tapi kalau ditanya saya milih siapa saya ada 2 kandidat sih, yah kita kan negara demokrasi jadi bebas toh. Tapi ini saya baru nglihat-lihat aja belum terlalu yakin.”
            Iya iya, ni tukang angkot udah kayak pejabat yang birokrasinya berbelit-belit, ngomong muter muter jawab aja langsung woy hha ,
            “yang pertama saya kayaknya lebih condong ke jokowi, karena melihat solo sekarang kayaknya ada kemajuan, orangnya juga merakyat, sering  kemasyarakat tanpa ada pengawalan , yang kedua kayaknya faisal.”
            “Oh gitu ya pak, ya ya ya betul juga.” Jawab ku seolah olah sependapat dengan pernyataan si bapak angkot, tak taunya dia kalau-kalau preman di pasar itu anak buah jokowi semua, sama halnya dengan partai “sensor” yang dimana mana banyak preman menjadi anggota partai mereka, jadi ya wajar aja dia gak bawak pengawal, memang udah pengawal semua di sekitar dia, paling cuman mau nyari muka, astaugfirullah jadi seudzon dah ama jagoan si supir angkot ini haha . yah ini juga berbicara berdasarkan fakta yang banyak saya temui kok. Dan bolehlah  saya menshare ini untuk kalian gratis silahkan di baca wahai para pemuda-pemudi islam 
http://www.shoutussalam.com/read/in-depth/12737/di-balik-pencitraan-dahlan-iskan-dan-jokowi
wallahua’lam , kebenaran hanya Allah yang tau, cukuplah bangsa yahudi terkutuk itu mencampuri urusan negara kita, Demi Allah saya tidak rela bila negara ini benar benar di pimpin seorang yang ada hubungan dengan yahudi.
            Tapi yang pasti pelajaran yang saya dapat, rakyat itu cinta apabila merasa pemimpinnya itu benar-benar peduli, tak perlu ribet-ribet mengurusi korupsi, tak perlu bersuara keras untuk menentang kenaikan BBM sehingga bakal di keluarin dari koalisi, sekedar main – main kepasar aja mereka udah seneng, apalagi kalau dikasih "oleh-oleh sedikit" , Eh eh ngawur –‘ haha. Begitulah dan akhirnya saya kembali ke asrama dengan perasaan yang bahagia karena banyak mendapat pelajaran dari perjalanan singkat ini, keserdahanaanmu, ketenanganmu,perkataan dan candamu sungguh menjadi pelajaran, terimakasih kawan, sungguh aku mencintaimu karena Allah ya akhi ^^