Kamis, 12 Juni 2014

Akulah Produk Privatisasi Pendidikan

Kini aku ingin berbicara tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah kontroversi Ujian Nasional  dan permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Di tengah hiruk pikuk permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya, tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari privatisasi pendidikan.

Tidak bermaksud menyalahkan siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik, dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus kita jawab.

Sederhananya seperti yang aku katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ? tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti saat ini!

Aku tak ingin diam tentunya lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu, tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika  system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi, argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus menjadi konsen utama kita.

Masuk ke system pendidikan kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam, dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.


Menarik membahas tentang dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini, ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar