Kini aku ingin berbicara
tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang
ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan
sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai
berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah
kontroversi Ujian Nasional dan
permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang
tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita
kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan
global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.
Di tengah hiruk pikuk
permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan
system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya,
tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan
sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya
di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari
privatisasi pendidikan.
Tidak bermaksud menyalahkan
siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada
sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya
menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan
menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku
sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan
SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi
tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik,
dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang
merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau
ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak
mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai
dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada
sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik
berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus
kita jawab.
Sederhananya seperti yang aku
katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan
kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih
baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu
salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil
kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena
justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu
pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ?
tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan
pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah
adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti
saat ini!
Aku tak ingin diam tentunya
lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak
sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu,
tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang
di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak
seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak
bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis
dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat
merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan
tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika
system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi,
argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila
system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi
sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus
menjadi konsen utama kita.
Masuk ke system pendidikan
kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok
permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan
pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin
dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga
seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun
tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus
ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang
menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk
agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya
temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan
sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam,
dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai
mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit
kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi
ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.
Menarik membahas tentang
dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek
dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin
tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang
ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi
sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera
di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan
antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative
menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat
undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga
kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah
satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini,
ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan
manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar