Jumat, 14 November 2014

Indonesia For Sale??




Sepertinya tema ini lagi hangat pasca pidato jokowi dalam pertemuan negara2 yg tergabung di apec beberapa waktu yg lalu.  inti pidato atw lebih tepatnya persentasi jokowi adalah dimana bapak president kita mengajak dan membuka lebar2 bagi negara2 lain untuk berinvestasi di Indonesia. inilah yang kemudian mulai memicu kontroversi, dimana ada yang mengatakan bahwa jokowi menjual indonesia kepada asing dan ada pula yang memuji persentasi dari jokowi tersebut. oke saya coba berargument, semoga argument saya objektif dan berasal dari nalar dan pemahaman serta ilmu saya saat ini bukan berdasarkan emosi belaka. yang saya fahami, dalam ilmu ekonomi, investasi merupakan salah satu faktor penting dalam memajukan dan mengembangkan perekonomian suatu daerah atau negara, dimana dengan investasi maka akan menghasilkan multiplayer effect kepada masyarakat, ntah berupa tenaga kerja dll. namun ada beberapa kondisi dimana investasi menjadi ideal, pertama investasi idealnya berasal dari dalam negeri sendiri di suatu negara, misal investasi orang jepang di dominasi oleh orang jepang sendiri, ini bagus. Resikonya kecil, positifnya banyak.apabila belum bisa maka tentu pilihan selanjutnya adalah mencari investasi dari luar negeri atau asing yg mempunyai kemampuan untuk berinvestasi.
Namun investasi dari luar ini juga harus kita lihat secara menyeluruh agar tidak menjadi bomerang bagi negara sendiri. pertama yg paling ideal ada investasi langsung yg masuk ke sektor riil, bukan hanya berputar di pasar uang atau pasar modal, dalam bahasa kerennya foreign direct investment (FDI) , misal nike membuka pabrik di Indonesia, ini bagus karena inveatasinya riil, akan menghasilkan sesuatu yg riil pula (sepatu2 buatan indonesia *walaupun merknya  ya ttp nike), tenaga kerja terserap, intinya terjadi proses dan kegiatan ekonomi di suatu daerah, walaupun ini tetap mempunyai resiko akan mematikan industri dalam negeri, disini peran pemerintah utk menjaga industri dalam negeri menjadi penting. Sehingga dari sini juga kita dapat mencegah terjadinya capital outflow (kejadian dimana modal asing yg masuk ke indonesia tiba2 ditarik dalam jumlah besar) yg dapat menyebabkan krisis seperti tahun 1998, itu lah mengapa kita menghindari investasi yg hanya berputar di pasar uang dan pasar modal ( orang bilang sektor moneter) , klw udah jadi pabrik ya gmana mau langsung di ambil kan? contoh lain pesantren2 yg dapat bantuan dari timur tengah, itu contoh dana asing tuh, namun sosialnya lebih tinggi dari bisnis, tpi intinya klw udah jadi sesuatu yg riil di indonesia maka itu akan berefek positif.




Nah dari sini kita kembali ke pak jokowi , ketika jokowi mengajak investor asing ikut ambil andil dalam pembangunan di indonesia maka menurut saya itu baik, dengan beberapa kondisi, pertama investor dalam negeri juga sudah harus di maksimalkan, kedua investasinya harus langsung masuk ke sektor riil, ketiga payung hukum dan peraturan yg jelas sehingga tidak ada yg dirugikan baik negara yang mempunyai modal ataupun indonesia sebagai tuan rumah.  Jadi kalau nanti uang investasinya jadi tol laut ya bagus dong, hal2 lain semacam nanti perarian kita dikuasai ya kita bisa kawal bersama, kecuali memang kita sudah benar2 pesimis. Jadi disini saya kurang sependapat dengan teman2 yg mengatakan jokowi menjual indonesia, sehingga tindakan jokowi dalam Apec kemaren adalah sebuah kesalahan fatal yang seakan akan membuat negeri ini tiba2 terjajah lagi, terlalu jauh dan sedikit provokatif rasanya he, santailah sejenak dan mari berfikir serta berargument dengan tenang. mengapa saya kurang sependapat? analogi sederhananya begini, kita punya lahan pertanian, tapi keluarga kita tidak bisa mengggarapnya karena kekurangan modal, nah akhirnya kita bertemu seseorang yg ingin bekerja sama atau dalam kata lain berinvestasi, lalu kita berdiskusi dan diputuskan akan membagi hasilnya 10 : 90 , kita pemilik lahan hanya mendapatkan 10 sedang pemodal mendapatkan 90, dan akhirnya lahan kita mulai tergarap. apakah ini menguntungkan? atau merugikan? oke bisa kita bilang merugikan walaupun pada dasarnya mendaptkan 10 pun lebih baik daripada lahannya tidak bisa di garap sama sekali, tapi tentu idealnya kita harus mendapatkan min 50 atau lebih bukan? klw kita mendapatkan 50 atau lebih maka ini konsep yg ideal sehingga investasi tadi menjadi layak untuk diteruskan, jadi klw ada orang yg mau berinvestasi, terus kita dirugikan maka solusinya bukan dengan kita melarang orang berinvestasi di lahan kita, tapi tentu menguatkan hukum dan peraturan yg mengatur hak2 dan kewajiban seperti pembagian margin tadi. jadi akan sangat fatalistik jika melarang orang berinvestasi ya gak bakal kegarap2 tanahnya.
Sederhana bukan? ini yg saya fahami, jadi masalahnya bukan di investornya bukan? masalahnya di hukum dan peraturannya, dimana orang yg mau berinvestasi disini ya harus ikut peraturan kita, klw gak mau ya baru di tendang , nah hukum dan peraturan ini tugasnya siapa? legislatif dong, kok malah jokowi yg disalahin ehm, jika takut jokowi menjual negara ini, berarti sama saja kalian meremehkan kemampuan orang2 yg berada di parlemen dan juga orang2 yg bertugas menegakkan hukum di negeri ini, klw sama presiden gak percaya, sama parlemen gak percaya, sama penegak hukum gak percaya, untuk apa lagi kita bernegara? Beginilah argument saya saat ini, tak tahu besok lusa dan seterusnya, yg jelas semua saya coba bingkai dalam kerangka nalar dan pemahaman saya sebagai seorang mahasiswa, saya terbuka dengan argument2 lain yg ingin berdiskusi ,  semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar