Kamis, 12 Juni 2014

Kebutuhan Sang Manusia

Asfahani berpendapat bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.

Dari pendapat ulama di atas ada hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual? Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera, mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg memang beragam macamnya di dunia ini?

Sebelumnya kita kesampingkan pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan? Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis, apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.

Sampai disini tidak ada masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.

Sederhananya begini, seseorang yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer lainnya?  di atas saya berkata bahwa kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu, tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas, banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup, dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.

Semisal saya seorang yg insya Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang saya tangkap dari sang ulama ini.


Sehingga selanjutnya adalah di bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Wallahua’lam J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar