Asfahani berpendapat bahwa
kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana
kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat
tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan
kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga
menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan
bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya
seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg
bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah
S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.
Dari pendapat ulama di atas ada
hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan
dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual?
Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas
identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera,
mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg
memang beragam macamnya di dunia ini?
Sebelumnya kita kesampingkan
pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak
sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba
analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari
kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh
makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis
manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat
tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan?
Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk
dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi
munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait
dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang
indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan
yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis,
apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu
kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi
berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.
Sampai disini tidak ada
masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh
ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh
tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu
seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia
akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.
Sederhananya begini, seseorang
yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam
menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita
melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan
makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana
mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen
sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah
sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya
saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.
Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer
lainnya? di atas saya berkata bahwa
kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga
ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya
kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila
merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari
kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu,
tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah
untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas,
banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar
saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup,
dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita
bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.
Semisal saya seorang yg insya
Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya
bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja
atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya
sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya
punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin
mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan
kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia
yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari
kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi
kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu
pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya
setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir
kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah
selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita
sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka
selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang
saya tangkap dari sang ulama ini.
Sehingga selanjutnya adalah di
bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan
yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan
kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.
Wallahua’lam J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar