Sabtu, 24 Mei 2014

Cinta, Kata ini yang sempat hilang!



Bismillahirrohmanirrohim
Lama rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini, tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama ini?
Aku tak ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan secara maksimal, “Cinta” , yah kata ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan pemikiranku saat ini.
Jangan menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak, ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur, seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah hingga akhir hayat.
Mereka semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini, apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang, tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia suatu saat nanti, Insya Allah J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar