Bismillahirrohmanirrohim
Lama
rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan
aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari
goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya
ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir
hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada
banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi
dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat
tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari
ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa
di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang
membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku
bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat
pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai
kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak
pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya
tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian
satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah
satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua
hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini,
tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi
nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang
biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya
lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di
bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang
politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah
yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi
ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini
habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam
kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung
jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun
disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri
ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam
perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan
ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu
menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses
perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama
ini?
Aku tak
ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak
perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini
bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah
ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada
paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku
menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan
secara maksimal, “Cinta” , yah kata
ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan
pemikiranku saat ini.
Jangan
menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak
sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian
tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak,
ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi
untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan
sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur,
seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya
hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah
hingga akhir hayat.
Mereka
semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula
sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang
satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi
hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan
orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai
apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika
objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya
kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah
waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan
semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga
denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan
tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh
liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar
dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak
mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang
tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan
apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada
negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku
bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru
kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini,
apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari
tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai
dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan
kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka
membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah
indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang
dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum
sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku
merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa
inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka
remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin
mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan
pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku
tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang,
tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk
seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat
kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia
suatu saat nanti, Insya Allah J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar