“Ketika Islam beribadah maka
akan dibiarkan, ketika islam berekonomi maka akan diawasi, ketika islam
berpolitik maka akan di hancurkan sampai keakar-akarnya”, begitu kata Mohammad
Natsir.
Politik? Yaa sekali-kali
menulis politik boleh lah ya, walaupun kayaknya banyak yang tak suka politik, banyak
yang bilang politik itu keji dan kotor, sampai orang-orang yang kerjaannya
memaki-maki politik dengan system serta semua dinamikanya seolah-olah tau luar
dalam padahal mungkin tau kulitnya saja tidak, yah selamat anda telah termakan
tipuan-tipuan sang politikus kotor sehingga anda tidak akan tertarik kepada
politik jadi dia kekurangan saingan deh , tapi ya sudahlah. Saat ini hanya ingin
membagi pandangan ku terhadap politik, semoga menarik.
Politik bagiku tak ubahnya seperti
ilmu pengetahuan yang lain, seperti ekonomi, hokum, sampai ilmu fiqh dan
ilmu-ilmu lainnya. Mereka suci, mereka bersih, mereka ada untuk menunjang
peradaban dan kehidupan umat manusia di dunia, tanpa perkembangan semua ilmu itu
maka tidak berkembang juga kualitas kehidupan kita, benar kalau ada orang
didalamnya yang keji dan kotor, benar kalau ada orang yang menguasai ilmu-ilmu
itu digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga seolah-olah kita tak sadar
membenci ilmu-ilmu yang suci itu, sesederhana itu kesalahanfahaman sebagian
besar orang-orang yang memaki-maki politik menurutku.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ada
sedikit yang berbeda dalam ilmu ini, “Fatih, ini off the record yaa” , kata
sang jendral kepadaku, begitu kerap kali kalimat yang kutemui ketika dalam
proses pembelajaran ilmu ini, tak semua hal orang perlu tau, tak semua hal
perlu dikatakan, apa yang terucap di mulut memang kadang berbeda dengan yang di
hati, tidak berarti bohong walau kadang kebohongan itu tetap dilakukan sebagian
orang, hah tidak sesederhana itu, ini semua hanya seni, sehingga bagi kalian
yang tak biasa hanya akan menjadi penonton dan terdiam, tapi begitulah politik,
seni untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan. Tapi catat, tujuannya adalah
selalu mulia, selalu mulia, politik yang identic dengan kekuasaan adalah dalam
rangka untuk mengatur hajat hidup orang banyak untuk menjadi lebih baik, itulah
tujuan utama kita berpolitik, mulia bukan? Justru kalau mau fair aku bisa
mengatakan berbeda dengan ilmu ekonomi yang aku kuasai, ilmu ekonomi diawali
dengan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tercermin dalam
selalu dimulainya mikro sebelum belajar makro, dalam sudut pandang ini individual
sekali bukan?
Tapi politik dimulai dengan
tujuannya yang mulia, namun jalan menuju kekuasaan itu crowded kawan, macet,
penuh, sehingga orang-orang yang berniat baik tadi harus bersaing untuk menuju
singgasana tersebut, dalam proses menuju singgasana inilah orang-orang yang
mulai tak sabar akan menjadi sang pecundang yang melupakan tujuan awalnya tadi
sehingga menghalalkan semua cara, orang-orang ini biasa kita sebut dengan
orang-orang yang pragmatis, namun tidak jarang juga orang-orang yang tak
sanggup bertahan dalam persaingan itu mundur mengakui kekalahannya sambil
memaki-maki dari luar medan perang, sehingga biasa kita sebut dengan
orang-orang idealis, setidaknya mereka merasa seperti itu.
Karena itu menurutku
keseimbangan dan integrasi sangat diperlukan disini, yap jadilah seseorang yang
idealis namun tetap menikmati proses yang ada, sehingga kau akan menguasai seni
berpolitik, yang terpenting adalah ingat tujuan mulia kita dalam berpolitik,
mengatur hajat hidup orang banyak, sehingga ini adalah tugas mulia yang harus
kita rebut, namun perkataan M. Natsir diatas tentu menunjukkan bahwa musuh kita
nyata, bahwa dunia tau, kepemimpinan islam akan menghancurkan barat dengan
hegemoninya, karena itu mereka selalu berusaha menghancurkan kita, ssst ini of
the record yaa hee, okelah mungkin cukup dulu, lain kali mungkin menarik
membahas demokrasi atau prabowo dan jokowi? J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar