Senin, 17 November 2014

BBM Naik, Saatnya Turun Gunung!!



                Tak henti-hentinya negeri ini bergejolak. Dari balik layar gadget, ku jelajahi hampir seluruh wilayah di negeriku. Mengerikan , terlalu mengerikan, aku sudah faham sebagian besar karakter masyarakat dinegeri ini, karena darah ku pun berasal dari darah yang sama. Kepanikan melanda, antrian di pom bensin tiba-tiba tak terkira. Seketika Jokowi memutuskan dengan tiba-tiba, benar dengan tiba-tiba, bukan hanya aku, saya yakin hampir seluruh aktivis mahasiswa tidak bisa menduga ini. Saya ingat beberapa bulan yang lalu, ketika BBM juga hendak dinaikkan, saya masih berada di depan gedung DPR menunggu hasil rapat yang diakhiri dengan voting sehingga hasilnya sudah jelas BBM akan naik, masih segar di ingatanku, adalah PDIP salah satu daru partai yang menolak keras kenaikan BBM ketika itu. Ah sudahlah ini tinggal kenangan. 



Pengumuman BBM naik melesat di telinga ku, ketika aku baru pulang dari aktivitas akademikku tadi malam, heh kenapa saja aku beberapa bulan ini? Seperti seorang pertapa yang sedang bersemedi ditengah gunung, aku benar-benar tak menyadari akan secepat ini. Malu, yah aku malu akan ilmuku yang belum bisa banyak membantu. Rumpun keilmuan ku justru semakin membuat ku merasa bersalah, aku faham angka-angka yang di lontarkan di Media, aku faham semuanya, angka-angka itu hanya makanan kecil di kelas ku hampir setiap semester, dan ini juga di ulang-ulang abang-abang ku ketika membimbing ku belajar di Kementerian keuangan. Defisit negara akibat subsidi BBM itu memang benar, tidak bisa dielakkan, memang itulah yang terjadi, negara ini defisit akibat subsidi untuk rakyat ini. Lalu ini akan ditarik agar dananya akan dapat di alihkan menuju pengembangan yang lain, infrastruktur dan lainnya. Sekitar 100 Triliun, yap 100 Triliun pemerintah akan mendapatkan dana segar akibat pencabutan subsudi BBM ini. Angka ini dapat membangun bandara, dapat membangun jalan beribu-ribu kilo, bahkan mungkin tol laut yang diimpikan jokowi akan juga mudah tercapai, aku pun sangat senang jika jembatan yang menghubungkan jawa dan sumatera segera terealisasi.
Ah sungguh indah analisanya, sungguh sederahana analisanya, rasanya tak setetespun keringat yang jatuh saat menganalisa angka-angka tersebut. Tapi jangan lupa kawan, bahwa banyak hal yang tidak dapat dijangkau dari penelitian dan aktivitas akademis belaka, akademis tidak dapat menjangkau ke seluruh pelosok negeri ini hanya dengan angka-angka. Ada aktivitas real yang pasti terabaikan apabila kita hanya melihat kepada paper-paper dan jurnal-jurnal yang tak sederhana. Mafia migas adalah salah satunya. Dan ini yang utama yang menjungkirbalikkan logika kita para akademisi. Kerugian dan ketamakan mereka yang tidak tercatat tak bisa menjadi bahan analisis dan seakan mematikan nalar dan logika kita. Sedeharananya seperti ini, mengapa BBM kita harus di subsidi? Karena cost untuk membuat atau memproduksi BBM di Indonesia tidaklah seperti harga yang kita beli saat ini sehingga harus disubsidi pemerintah. Lalu mengapa bisa costnya begitu mahal? Karena Indonesia kekurangan produksi untuk memenuhi kebutuhan negerinya sendiri, tapi bukan berarti minyak di Indonesia tidak cukup, namun minyak yang di hasilkan pertamina selaku BUMN milik pemerintah yang tidak cukup memproduksinya, bukan karena Allah kurang memberikan kekayaan minyak di negeri ini, lalu untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita mengekspor minyak mentah keluar yang kemudian di olah oleh asing kemudian kita beli lagi dalam bentuk BBM yang siap pakai. Inilah yang menyebabkan cost produksinya begitu mahal, Konyol bukan? Jangan perdebatkan tentang ketidaksiapan anak bangsa mengolah minyak sendiri karena ini benar-benar pembodohan. Sudah jelas ada orang-orang yang terus membiarkan hal ini terjadi sehingga keuntungan terus mengalir ke kantong orang-orang besar di negeri ini. Ini lah faktor penyebab indonesia terbebani subsidi BBM yang membuat APBN defisit. Ini penyebabnya namun tidak dapat dijadikan analisa secara akademis karena datanya yang tentu tak mudah untuk di temukan. Lalu dengan sederhananya analisa akademis mengatakan untuk menghapus subsidi BBM karena memberatkan negara. Menyelesaikan masalah? Secara akademis iya, secara real tidak!! Kenapa? Karena ini hanya pengalihan keuntungan untuk para mafia migas dari dana APBN kepada masyarakat. Tentu kita fahami Sejatinya APBN juga berasal dari masyarakat, namun apabila langsung dibebankan kepada masyarakat saat ini maka bukan hanya BBM yang naik, hampir seluruh komoditas di negeri ini akan naik, dan inilah yang akan membunuh jutaan warga indonesia. Mengembalikan mereka ke jurang kemiskinan, memaksa mereka untuk berbuat kriminal, dan membuat tersenyum para mafia migas yang mendapatkan keuntungan tambahan dari kebijakan ini, dikarenakan BBM sekarang yang sudah tak jauh dari angka pom bensin-pom bensin asing , dengan karakter sebagian rakyat Indonesia yang logis namun tak dapat dipungkiri masih memuja buatan asing karena tampilannya yang tentu lebih  menarik maka tinggal menunggu waktu pom bensin mereka akan ramai.
Dan akhirnya, aku melihat tak ada satupun yang diselesaikan pemerintahan kali ini dengan jelas dan komprehensif terkait masalah ini, setidaknya sampai saat ini. Pengelolaan migas yang amburadul yang merupakan akar dari penyebab subsidi tak digubris sama sekali. Pencabutan subsidi yang hanya dampak dari akar masalah PASTI akan menimbulkan masalah baru. Untuk saat ini dana segar yang didapat dari pencabutan subsidi inilah yang harus dikontrol dengan baik, aku percaya DPR sudah mulai sehat. Kartu-kartu sakti jokowi juga menjadi harapan terakhir bagi mereka yang mendapatkan, sederhana, agar mereka masih bisa makan, dan masih bisa mempertahankan hidup mereka, hanya itu. Namun bukan berarti tak ada yang bisa aku lakukan saat ini, kendati aku tak ingin negeri ini semakin berdarah, tapi aku juga tak bisa diam tanpa berbuat sesuatu membiarkan hal ini terjadi, setidaknya untuk menjawab pertanyaan dan pertanggung jawabanku di akhirat kelak, bahwa aku tidak diam atas semua hal yang kufahami. Dimulai dengan tulisan ini dan “SAATNYA TURUN GUNUNG !!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar