Tak henti-hentinya negeri ini
bergejolak. Dari balik layar gadget, ku jelajahi hampir seluruh wilayah di
negeriku. Mengerikan , terlalu mengerikan, aku sudah faham sebagian besar
karakter masyarakat dinegeri ini, karena darah ku pun berasal dari darah yang
sama. Kepanikan melanda, antrian di pom bensin tiba-tiba tak terkira. Seketika
Jokowi memutuskan dengan tiba-tiba, benar dengan tiba-tiba, bukan hanya aku,
saya yakin hampir seluruh aktivis mahasiswa tidak bisa menduga ini. Saya ingat
beberapa bulan yang lalu, ketika BBM juga hendak dinaikkan, saya masih berada
di depan gedung DPR menunggu hasil rapat yang diakhiri dengan voting sehingga
hasilnya sudah jelas BBM akan naik, masih segar di ingatanku, adalah PDIP salah
satu daru partai yang menolak keras kenaikan BBM ketika itu. Ah sudahlah ini
tinggal kenangan.
Pengumuman BBM naik melesat di telinga ku, ketika aku baru pulang dari
aktivitas akademikku tadi malam, heh kenapa saja aku beberapa bulan ini?
Seperti seorang pertapa yang sedang bersemedi ditengah gunung, aku benar-benar
tak menyadari akan secepat ini. Malu, yah aku malu akan ilmuku yang belum bisa
banyak membantu. Rumpun keilmuan ku justru semakin membuat ku merasa bersalah,
aku faham angka-angka yang di lontarkan di Media, aku faham semuanya, angka-angka
itu hanya makanan kecil di kelas ku hampir setiap semester, dan ini juga di
ulang-ulang abang-abang ku ketika membimbing ku belajar di Kementerian keuangan.
Defisit negara akibat subsidi BBM itu memang benar, tidak bisa dielakkan,
memang itulah yang terjadi, negara ini defisit akibat subsidi untuk rakyat ini.
Lalu ini akan ditarik agar dananya akan dapat di alihkan menuju pengembangan
yang lain, infrastruktur dan lainnya. Sekitar 100 Triliun, yap 100 Triliun
pemerintah akan mendapatkan dana segar akibat pencabutan subsudi BBM ini. Angka
ini dapat membangun bandara, dapat membangun jalan beribu-ribu kilo, bahkan
mungkin tol laut yang diimpikan jokowi akan juga mudah tercapai, aku pun sangat
senang jika jembatan yang menghubungkan jawa dan sumatera segera terealisasi.
Ah sungguh indah analisanya, sungguh sederahana analisanya, rasanya tak
setetespun keringat yang jatuh saat menganalisa angka-angka tersebut. Tapi
jangan lupa kawan, bahwa banyak hal yang tidak dapat dijangkau dari penelitian
dan aktivitas akademis belaka, akademis tidak dapat menjangkau ke seluruh
pelosok negeri ini hanya dengan angka-angka. Ada aktivitas real yang pasti
terabaikan apabila kita hanya melihat kepada paper-paper dan jurnal-jurnal yang
tak sederhana. Mafia migas adalah salah satunya. Dan ini yang utama yang
menjungkirbalikkan logika kita para akademisi. Kerugian dan ketamakan mereka
yang tidak tercatat tak bisa menjadi bahan analisis dan seakan mematikan nalar
dan logika kita. Sedeharananya seperti ini, mengapa BBM kita harus di subsidi?
Karena cost untuk membuat atau memproduksi BBM di Indonesia tidaklah seperti
harga yang kita beli saat ini sehingga harus disubsidi pemerintah. Lalu mengapa
bisa costnya begitu mahal? Karena Indonesia kekurangan produksi untuk memenuhi
kebutuhan negerinya sendiri, tapi bukan berarti minyak di Indonesia tidak
cukup, namun minyak yang di hasilkan pertamina selaku BUMN milik pemerintah
yang tidak cukup memproduksinya, bukan karena Allah kurang memberikan kekayaan
minyak di negeri ini, lalu untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita mengekspor
minyak mentah keluar yang kemudian di olah oleh asing kemudian kita beli lagi
dalam bentuk BBM yang siap pakai. Inilah yang menyebabkan cost produksinya
begitu mahal, Konyol bukan? Jangan perdebatkan tentang ketidaksiapan anak
bangsa mengolah minyak sendiri karena ini benar-benar pembodohan. Sudah jelas
ada orang-orang yang terus membiarkan hal ini terjadi sehingga keuntungan terus
mengalir ke kantong orang-orang besar di negeri ini. Ini lah faktor penyebab
indonesia terbebani subsidi BBM yang membuat APBN defisit. Ini penyebabnya
namun tidak dapat dijadikan analisa secara akademis karena datanya yang tentu
tak mudah untuk di temukan. Lalu dengan sederhananya analisa akademis
mengatakan untuk menghapus subsidi BBM karena memberatkan negara. Menyelesaikan
masalah? Secara akademis iya, secara real tidak!! Kenapa? Karena ini hanya
pengalihan keuntungan untuk para mafia migas dari dana APBN kepada masyarakat.
Tentu kita fahami Sejatinya APBN juga berasal dari masyarakat, namun apabila
langsung dibebankan kepada masyarakat saat ini maka bukan hanya BBM yang naik,
hampir seluruh komoditas di negeri ini akan naik, dan inilah yang akan membunuh
jutaan warga indonesia. Mengembalikan mereka ke jurang kemiskinan, memaksa
mereka untuk berbuat kriminal, dan membuat tersenyum para mafia migas yang mendapatkan
keuntungan tambahan dari kebijakan ini, dikarenakan BBM sekarang yang sudah tak
jauh dari angka pom bensin-pom bensin asing , dengan karakter sebagian rakyat
Indonesia yang logis namun tak dapat dipungkiri masih memuja buatan asing
karena tampilannya yang tentu lebih
menarik maka tinggal menunggu waktu pom bensin mereka akan ramai.
Dan akhirnya, aku melihat tak ada satupun yang diselesaikan pemerintahan
kali ini dengan jelas dan komprehensif terkait masalah ini, setidaknya sampai
saat ini. Pengelolaan migas yang amburadul yang merupakan akar dari penyebab
subsidi tak digubris sama sekali. Pencabutan subsidi yang hanya dampak dari
akar masalah PASTI akan menimbulkan masalah baru. Untuk saat ini dana segar
yang didapat dari pencabutan subsidi inilah yang harus dikontrol dengan baik,
aku percaya DPR sudah mulai sehat. Kartu-kartu sakti jokowi juga menjadi
harapan terakhir bagi mereka yang mendapatkan, sederhana, agar mereka masih bisa
makan, dan masih bisa mempertahankan hidup mereka, hanya itu. Namun bukan
berarti tak ada yang bisa aku lakukan saat ini, kendati aku tak ingin negeri
ini semakin berdarah, tapi aku juga tak bisa diam tanpa berbuat sesuatu
membiarkan hal ini terjadi, setidaknya untuk menjawab pertanyaan dan
pertanggung jawabanku di akhirat kelak, bahwa aku tidak diam atas semua hal
yang kufahami. Dimulai dengan tulisan ini dan “SAATNYA TURUN GUNUNG !!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar