Tak henti-hentinya negeri ini
bergejolak. Dari balik layar gadget, ku jelajahi hampir seluruh wilayah di
negeriku. Mengerikan , terlalu mengerikan, aku sudah faham sebagian besar
karakter masyarakat dinegeri ini, karena darah ku pun berasal dari darah yang
sama. Kepanikan melanda, antrian di pom bensin tiba-tiba tak terkira. Seketika
Jokowi memutuskan dengan tiba-tiba, benar dengan tiba-tiba, bukan hanya aku,
saya yakin hampir seluruh aktivis mahasiswa tidak bisa menduga ini. Saya ingat
beberapa bulan yang lalu, ketika BBM juga hendak dinaikkan, saya masih berada
di depan gedung DPR menunggu hasil rapat yang diakhiri dengan voting sehingga
hasilnya sudah jelas BBM akan naik, masih segar di ingatanku, adalah PDIP salah
satu daru partai yang menolak keras kenaikan BBM ketika itu. Ah sudahlah ini
tinggal kenangan.
Senin, 17 November 2014
Jumat, 14 November 2014
Indonesia For Sale??
Sepertinya
tema ini lagi hangat pasca pidato jokowi dalam pertemuan negara2 yg tergabung
di apec beberapa waktu yg lalu. inti pidato atw lebih tepatnya persentasi
jokowi adalah dimana bapak president kita mengajak dan membuka lebar2 bagi
negara2 lain untuk berinvestasi di Indonesia. inilah yang kemudian mulai memicu
kontroversi, dimana ada yang mengatakan bahwa jokowi menjual indonesia kepada
asing dan ada pula yang memuji persentasi dari jokowi tersebut. oke saya coba
berargument, semoga argument saya objektif dan berasal dari nalar dan pemahaman
serta ilmu saya saat ini bukan berdasarkan emosi belaka. yang saya fahami,
dalam ilmu ekonomi, investasi merupakan salah satu faktor penting dalam
memajukan dan mengembangkan perekonomian suatu daerah atau negara, dimana
dengan investasi maka akan menghasilkan multiplayer effect kepada masyarakat,
ntah berupa tenaga kerja dll. namun ada beberapa kondisi dimana investasi
menjadi ideal, pertama investasi idealnya berasal dari dalam negeri sendiri di
suatu negara, misal investasi orang jepang di dominasi oleh orang jepang
sendiri, ini bagus. Resikonya kecil, positifnya banyak.apabila belum bisa maka
tentu pilihan selanjutnya adalah mencari investasi dari luar negeri atau asing
yg mempunyai kemampuan untuk berinvestasi.
Namun
investasi dari luar ini juga harus kita lihat secara menyeluruh agar tidak
menjadi bomerang bagi negara sendiri. pertama yg paling ideal ada investasi
langsung yg masuk ke sektor riil, bukan hanya berputar di pasar uang atau pasar
modal, dalam bahasa kerennya foreign direct investment (FDI) , misal nike
membuka pabrik di Indonesia, ini bagus karena inveatasinya riil, akan
menghasilkan sesuatu yg riil pula (sepatu2 buatan indonesia *walaupun merknya
ya ttp nike), tenaga kerja terserap, intinya terjadi proses dan kegiatan
ekonomi di suatu daerah, walaupun ini tetap mempunyai resiko akan mematikan
industri dalam negeri, disini peran pemerintah utk menjaga industri dalam
negeri menjadi penting. Sehingga dari sini juga kita dapat mencegah terjadinya
capital outflow (kejadian dimana modal asing yg masuk ke indonesia tiba2
ditarik dalam jumlah besar) yg dapat menyebabkan krisis seperti tahun 1998, itu
lah mengapa kita menghindari investasi yg hanya berputar di pasar uang dan
pasar modal ( orang bilang sektor moneter) , klw udah jadi pabrik ya gmana mau
langsung di ambil kan? contoh lain pesantren2 yg dapat bantuan dari timur
tengah, itu contoh dana asing tuh, namun sosialnya lebih tinggi dari bisnis,
tpi intinya klw udah jadi sesuatu yg riil di indonesia maka itu akan berefek
positif.
Kamis, 13 November 2014
Siapa saja yang terkait dan membutuhkan Islamic Financial Planning?
Pada dasarnya
kebutuhan mengelola keuangan adalah kebutuhan setiap individu dimana dengan
keberhasilan mengelola keuangan masing-masing individu maka akan dapat
menyelesaikan masalah-masalah lainnya. Namun IFP juga dibutuhkan dalam
mengelola keuangan keluarga. Dimana disini akan ada penyatuan bagaimana
mengelola keuangan dari dua individu atau lebih yang berkomitmen bersama.
Selanjutnya perusahaan merupakan element yang juga pasti membutuhkan
perencanaan keuangan dan yang terakhir adalah sebuah negara. Tanpa perencaaan
keuangan yang matang maka semua element dan golongan akan menemui masalah.
Semua dimulai dengan bagaimana setiap individu dapat mengatur keuangannya,
dengan melihat instrument-instrument dalam pendapatannya kemudian disesuaikan
dengan pengeluarannya, sehingga pada dasarnya tidak akan mengalami yang namanya
kekurangan. Seorang pegawai akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya apabila
mempunyai pengeluaran seperti halnya seorang direktur, namun seorang satpam
tidak akan mengalami masalah dalam finansial apabila pengeluaran dan gaya
hidupnya seperti halnya pendapatan yang dia miliki. Semua berawal dari
bagaimana kita dapat mengatur dan mengelola pengeluaran kita dan gaya hidup
kita. Pada dasarnya hal ini lah yang dapat menyebabkan seseorang mempunyai
masalah finansial. Setelah hal ini dapat diselesaikan barulah nanti akan
beranjak kepada instrument-instrument lain dalam sebuah perencaan keuangan,
seperti bagaimana berinvestasi dan bagaimana kita juga tidak melupakan hak-hak
orang lain dalam harta kita yang merupakan sebuah satu kesatuan dalam Islamic
Financial Planning.
Senin, 10 November 2014
Mengapa kita perlu Islamic Financial Planning (IFP) ?
Ketika melihat keadaan sekitar, masalah apa sebenarnya
yang menciptakan dunia ini terlihat begitu keras? Mengapa sampai seseorang
harus rela meninggalkan keluarganya di bogor untuk kerja di Jakarta? Mengapa sampai
ada orang-orang yang ingin mencelakakan dan mengambil hak orang lain? Pada dasarnya
semua ini adalah karena masalah finansial. Kita sadari atau tidak inilah salah
satu sumber masalah terbesar dalam hidup. Apabila seseorang sudah terbebas dari
masalah finansial ini maka akan semakin mudahlah seseorang menghadapi
masalah-masalah lain dalam hidup mereka. Namun apabila seseorang belum terbebas
dengan masalah finansial ini maka yakinlah seumur hidup masalah mereka hanya
akan berkutat pada masalah finansial ini.
Senin, 03 November 2014
Sukuk di Indonesia
Perkembangan Keuangan
Syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak satu dekade ini. Begitu
pula di pasar keuangan, salah satu instrumen syariah di pasar keuangan adalah
sukuk. Sukuk secara bahasa berarti sertifikat / dokument sedang secara istilah
menurut AAOIFI Sharia Standards
No.17 adalah Certificates of equal value representing undivided
shares in ownership of tangible assets, usufruct and services or (in the
ownership of) the assets of particular projects or special investment activity.
Sukuk dapat dikeluarkan
oleh sebuah perusahaan atau Negara. Sukuk yang dikeluarkan oleh perusahaan
biasa disebut dengan sukuk corporation sedang sukuk yang dikeluarkan oleh
Negara biasa disebut sukuk Negara. Menurut UU nomor 19 tahun 2008 SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau Sukuk Negara adalah surat berharga negara
yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian
penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.
Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan RI
Direktorat
pembiyaan Syariah merupakan salah satu unit organisasi Eselon II di Direktorat
Jendral Pengelolaan utang yang berfungsi sebagai front office. Tugas utama DPS berdasarkan PMK 184/ PMK.01/2010
adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di
bidang pembiayaan syariah berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh
Direktur jendral.
Ceritanya habis magang he :D
Ceritanya habis magang he :D
Kamis, 28 Agustus 2014
KALAU KAU BILANG
kalau kau bilang harga BBM di negeri ini
terlalu murah dibanding negara lain
naikan saja berapa kau suka
jangan perdulikan berapa pendapatan rata-rata
rakyat indonesia dibanding negara lain
karena tidak penting diperbandingkan
kalau kau bilang mensubsidi rakyat sendiri
haram, tidak mendidik dan tidak adil
cabut saja subsidi itu kapan kau mau
mungkin benar seperti sering kau bilang
subsidi BBM hanya dinikmati para pemilik mobil
yang setiap hari frustrasi dalam kemacetan
bagimu tidak penting juga memahami mereka
yang lebih separuh pemilik mobil murahan
yang setiap bulan pening memikirkan cicilan
tapi rakyat sudah terbiasa hidup dalam penderitaan
dilatih penjajah selama ratusan tahun
sehingga penderitaan sudah menjadi hiburan
Selasa, 26 Agustus 2014
Sang Pembebas
Para pelempar batu itu kini telah menjadi para peluncur roket.
“Sekarang kami izinkan para pemukim Yahudi, terutama yang berada di sekitar Jalur Gaza untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Itu adalah izin dari Hamas, bukan dari perdana menteri Netanyahu.”
Sahut Dr. Sami Abu Zuhri , juru bicara hamas
“Sekarang kami izinkan para pemukim Yahudi, terutama yang berada di sekitar Jalur Gaza untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Itu adalah izin dari Hamas, bukan dari perdana menteri Netanyahu.”
Sahut Dr. Sami Abu Zuhri , juru bicara hamas
Kamis, 12 Juni 2014
Ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta vs Aksi Trisaka Jokowi-JK
Tergelitik untuk “ikut-ikutan”
meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, tapi tentu mencoba untuk tidak
terjebak dalam pragmatism dukung-mendukung salah satu calon, malu sama
almamater cihuy, yah izinkanlah sebagai mahasiswa ekonomi mengkritisi paparan
visi misi dan program kedua calon dari perspektif ekonomi tentunya. Masih jauh
dari sempurna, dan belum tentu benar apa yang akan saya kritisi, tapi
setidaknya ini bukti saya mencintai negeri ini, dan saya peduli siapa yang akan
menjadi pemimpin saya setidaknya 5 tahun kedepan.
Dari berbagai sumber baik dari media
massa dan www.kpu.go.id sendiri, saya
menemukan visi dan misi kedua capres, tak akan dikritisi semua karena saya
belum punya kapasitas untuk itu, tapi setidaknya mencolok untuk mengkritisi di
bidang ekonominya, sebenernya ini sudah masuk ke program bukan lagi visi dan
misi, karena sudah mulai rinci dan spesifik apa yang akan mereka lakukan di
bidang ekonomi jika nanti terpilih memegang amanah sebagai presiden Republik
Indonesia. Berikut program dari kedua calon , dimana pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta
mereka sebut dengan Ekonomi Kerakyatan
dan pasangan nomor 2 Jokowi-jusuf Kalla dengan sebutuan Aksti Trisaka.
Ekonomi kerakyatan versi Prabowo-Hatta:.
1. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran untuk program pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM, serta industri kecil dan menengah.
2. Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lainnya untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil lainnya.
3. Mendirikan Bank Tani dan Nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil, petani, peternak, nelayan buruh, pedagang tradisional dan pedagang kecil.
4. Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional serta mengkonsolidasi belanja negara untuk program pengembangan koperasi dan UMKM dan revitalisasi pasar tradisional.
5. Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW).
6. Mengalokasikan dana minimal Rp 1 miliar per desa atau kelurahan setiap tahun secara langsung, dan mengimplementasikan pula UU Tentang Desa. Dana APBN yang disiapkan sebesar Rp 385 triliun selama tahun 2015 sampai 2019 bagi 75.244 desa atau kelurahan. Dana ini digunakan untuk program pembangunan pedesaan dan membangun infrastruktur untuk rakyat melalui 8 Program Desa.
1. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran untuk program pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM, serta industri kecil dan menengah.
2. Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lainnya untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil lainnya.
3. Mendirikan Bank Tani dan Nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil, petani, peternak, nelayan buruh, pedagang tradisional dan pedagang kecil.
4. Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional serta mengkonsolidasi belanja negara untuk program pengembangan koperasi dan UMKM dan revitalisasi pasar tradisional.
5. Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW).
6. Mengalokasikan dana minimal Rp 1 miliar per desa atau kelurahan setiap tahun secara langsung, dan mengimplementasikan pula UU Tentang Desa. Dana APBN yang disiapkan sebesar Rp 385 triliun selama tahun 2015 sampai 2019 bagi 75.244 desa atau kelurahan. Dana ini digunakan untuk program pembangunan pedesaan dan membangun infrastruktur untuk rakyat melalui 8 Program Desa.
Aksi Trisaka Jokowi JK
1. Akan melakukan Pembangunan Sumber daya manusia, dengan menerapkan
kebijakan Indonesia pintar, Indonesia kerja, Indonesia sehat, dan Indonesia
sejahtera.
2. Akan meningkatkan daya saing dan produktivitas rakyat, dengan
membangun infrastruktur, pasar tradisional dan sentra perikanan, investasi
mudah dan menarik, serta menjadikan BUMN sebagai agen pembangunan
3. Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan
pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi.
Begitu garis besar dari
program ekonomi kedua calon, nah saatnya berpendapat, kalau dari sudut pandang
ekonomi konvensional kayaknya udah biasa dan gak terlalu penting lah ya, saya
coba dari sudut pandang ekonomi islam. Salah satu yang menjadi ruh dari ekonomi
islam adalah ingin menghilangkan dekapling , yaitu kesenjangan antara ekonomi
moneter dengan ekonomi di sector riil, sehingga berbicara ekonomi islam adalah
berbicara bagaimana meningkatkan ekonomi di sector riil yang sejatinya
merupakan tonggak dan fondasi khusus dalam pertumbuhan ekonomi.
Dari pemaparan diatas
saya rasa kedua calon sudah mengarahkan kepada pembangunan disektor riil , baik
dari ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta maupun dari Aksi trisaka Jokowi-JK ,
namun apabila ingin membandingkan dalam hal siapa yang lebih mendekati kepada
pembangunan di sector riil maka menurut saya Prabowo-Hatta mempunyai nilai
lebih daripada jokowi – Jk, kenapa? Terbukti dari pemaparan program Prabowo-Hatta
yang sudah spesifik sampai membahas dari pedagang sebagai individu, kemudian
UMKM sebagai kelompok dalam usaha mikro sampai kepada perbankan yang biasanya hanya
untuk kepentingan menengah keatas diarahkan kepada masyarakat menengah ke
bawah. Sedang dari pemaparan dari Jokowi-JK yang memulai dengan pembangunan
dari manusianya sampai kepada kedaulatan energy dan pangan masih terlalu
melebar dan belum spesifik, padahal ini sudah masuk kedalam program yang
seharusnya lebih spesifik, dan langsung bisa di implementaskan. Namun dari
paparan diatas, Jokowi-JK masih dalam taraf sebuah konsep yang belum rinci. Sebenarnya
salah satu point dari trisaka sudah mulai rinci mengarah kepada pembangunan di sector
riil seperti pembangunan infrastruktur dan pasar tradisional, namun sayang
tidak diikuti dengan 2 point lainnya yang masih dalam taraf normative, seperti ingin
melakukan Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki
kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan
teknologi, tapi sederhananya kedaulatan seperti apa yang diharapkan? Kedaulatan
untuk rakyat atau untuk asing? Masih terlalu ambigu dan belum sampai ketaraf apa
yang akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut, sehingga dari sisi kedekatan
program ekonomi ke sector riil yang merupakan ruh dari system ekonomi islam
satu point untuk Prabowo-Hatta.
eits tapi baru dari sisi ini ya, silahkan di
analisa dari sisi yang lain, sehingga dengan cara sepert ini ini kita
mengharapkan mempercepat proses demokrasi yang substansial dan tidak terjebak dalam aksi dukung mendukung
tanpa alasan yang jelas, apalagi yang mahasiswa, ehm malu sama almameter cuy
hee, sekian. Wallahua’lam.
Akulah Produk Privatisasi Pendidikan
Kini aku ingin berbicara
tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang
ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan
sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai
berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah
kontroversi Ujian Nasional dan
permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang
tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita
kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan
global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.
Di tengah hiruk pikuk
permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan
system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya,
tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan
sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya
di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari
privatisasi pendidikan.
Tidak bermaksud menyalahkan
siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada
sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya
menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan
menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku
sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan
SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi
tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik,
dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang
merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau
ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak
mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai
dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada
sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik
berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus
kita jawab.
Sederhananya seperti yang aku
katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan
kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih
baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu
salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil
kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena
justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu
pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ?
tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan
pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah
adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti
saat ini!
Aku tak ingin diam tentunya
lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak
sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu,
tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang
di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak
seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak
bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis
dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat
merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan
tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika
system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi,
argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila
system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi
sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus
menjadi konsen utama kita.
Masuk ke system pendidikan
kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok
permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan
pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin
dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga
seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun
tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus
ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang
menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk
agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya
temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan
sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam,
dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai
mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit
kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi
ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.
Menarik membahas tentang
dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek
dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin
tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang
ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi
sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera
di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan
antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative
menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat
undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga
kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah
satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini,
ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan
manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J
Kebutuhan Sang Manusia
Asfahani berpendapat bahwa
kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana
kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat
tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan
kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga
menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan
bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya
seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg
bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah
S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.
Dari pendapat ulama di atas ada
hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan
dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual?
Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas
identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera,
mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg
memang beragam macamnya di dunia ini?
Sebelumnya kita kesampingkan
pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak
sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba
analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari
kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh
makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis
manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat
tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan?
Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk
dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi
munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait
dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang
indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan
yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis,
apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu
kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi
berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.
Sampai disini tidak ada
masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh
ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh
tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu
seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia
akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.
Sederhananya begini, seseorang
yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam
menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita
melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan
makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana
mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen
sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah
sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya
saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.
Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer
lainnya? di atas saya berkata bahwa
kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga
ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya
kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila
merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari
kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu,
tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah
untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas,
banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar
saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup,
dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita
bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.
Semisal saya seorang yg insya
Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya
bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja
atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya
sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya
punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin
mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan
kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia
yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari
kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi
kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu
pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya
setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir
kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah
selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita
sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka
selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang
saya tangkap dari sang ulama ini.
Sehingga selanjutnya adalah di
bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan
yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan
kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.
Wallahua’lam J
Senin, 26 Mei 2014
Politik, off the record yaa..
“Ketika Islam beribadah maka
akan dibiarkan, ketika islam berekonomi maka akan diawasi, ketika islam
berpolitik maka akan di hancurkan sampai keakar-akarnya”, begitu kata Mohammad
Natsir.
Politik? Yaa sekali-kali
menulis politik boleh lah ya, walaupun kayaknya banyak yang tak suka politik, banyak
yang bilang politik itu keji dan kotor, sampai orang-orang yang kerjaannya
memaki-maki politik dengan system serta semua dinamikanya seolah-olah tau luar
dalam padahal mungkin tau kulitnya saja tidak, yah selamat anda telah termakan
tipuan-tipuan sang politikus kotor sehingga anda tidak akan tertarik kepada
politik jadi dia kekurangan saingan deh , tapi ya sudahlah. Saat ini hanya ingin
membagi pandangan ku terhadap politik, semoga menarik.
Politik bagiku tak ubahnya seperti
ilmu pengetahuan yang lain, seperti ekonomi, hokum, sampai ilmu fiqh dan
ilmu-ilmu lainnya. Mereka suci, mereka bersih, mereka ada untuk menunjang
peradaban dan kehidupan umat manusia di dunia, tanpa perkembangan semua ilmu itu
maka tidak berkembang juga kualitas kehidupan kita, benar kalau ada orang
didalamnya yang keji dan kotor, benar kalau ada orang yang menguasai ilmu-ilmu
itu digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga seolah-olah kita tak sadar
membenci ilmu-ilmu yang suci itu, sesederhana itu kesalahanfahaman sebagian
besar orang-orang yang memaki-maki politik menurutku.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ada
sedikit yang berbeda dalam ilmu ini, “Fatih, ini off the record yaa” , kata
sang jendral kepadaku, begitu kerap kali kalimat yang kutemui ketika dalam
proses pembelajaran ilmu ini, tak semua hal orang perlu tau, tak semua hal
perlu dikatakan, apa yang terucap di mulut memang kadang berbeda dengan yang di
hati, tidak berarti bohong walau kadang kebohongan itu tetap dilakukan sebagian
orang, hah tidak sesederhana itu, ini semua hanya seni, sehingga bagi kalian
yang tak biasa hanya akan menjadi penonton dan terdiam, tapi begitulah politik,
seni untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan. Tapi catat, tujuannya adalah
selalu mulia, selalu mulia, politik yang identic dengan kekuasaan adalah dalam
rangka untuk mengatur hajat hidup orang banyak untuk menjadi lebih baik, itulah
tujuan utama kita berpolitik, mulia bukan? Justru kalau mau fair aku bisa
mengatakan berbeda dengan ilmu ekonomi yang aku kuasai, ilmu ekonomi diawali
dengan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tercermin dalam
selalu dimulainya mikro sebelum belajar makro, dalam sudut pandang ini individual
sekali bukan?
Tapi politik dimulai dengan
tujuannya yang mulia, namun jalan menuju kekuasaan itu crowded kawan, macet,
penuh, sehingga orang-orang yang berniat baik tadi harus bersaing untuk menuju
singgasana tersebut, dalam proses menuju singgasana inilah orang-orang yang
mulai tak sabar akan menjadi sang pecundang yang melupakan tujuan awalnya tadi
sehingga menghalalkan semua cara, orang-orang ini biasa kita sebut dengan
orang-orang yang pragmatis, namun tidak jarang juga orang-orang yang tak
sanggup bertahan dalam persaingan itu mundur mengakui kekalahannya sambil
memaki-maki dari luar medan perang, sehingga biasa kita sebut dengan
orang-orang idealis, setidaknya mereka merasa seperti itu.
Karena itu menurutku
keseimbangan dan integrasi sangat diperlukan disini, yap jadilah seseorang yang
idealis namun tetap menikmati proses yang ada, sehingga kau akan menguasai seni
berpolitik, yang terpenting adalah ingat tujuan mulia kita dalam berpolitik,
mengatur hajat hidup orang banyak, sehingga ini adalah tugas mulia yang harus
kita rebut, namun perkataan M. Natsir diatas tentu menunjukkan bahwa musuh kita
nyata, bahwa dunia tau, kepemimpinan islam akan menghancurkan barat dengan
hegemoninya, karena itu mereka selalu berusaha menghancurkan kita, ssst ini of
the record yaa hee, okelah mungkin cukup dulu, lain kali mungkin menarik
membahas demokrasi atau prabowo dan jokowi? J
Sabtu, 24 Mei 2014
Cinta, Kata ini yang sempat hilang!
Bismillahirrohmanirrohim
Lama
rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan
aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari
goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya
ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir
hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada
banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi
dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat
tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari
ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa
di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang
membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku
bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat
pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai
kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak
pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya
tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian
satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah
satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua
hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini,
tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi
nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang
biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya
lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di
bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang
politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah
yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi
ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini
habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam
kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung
jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun
disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri
ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam
perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan
ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu
menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses
perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama
ini?
Aku tak
ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak
perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini
bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah
ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada
paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku
menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan
secara maksimal, “Cinta” , yah kata
ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan
pemikiranku saat ini.
Jangan
menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak
sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian
tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak,
ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi
untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan
sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur,
seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya
hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah
hingga akhir hayat.
Mereka
semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula
sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang
satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi
hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan
orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai
apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika
objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya
kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah
waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan
semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga
denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan
tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh
liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar
dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak
mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang
tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan
apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada
negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku
bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru
kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini,
apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari
tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai
dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan
kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka
membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah
indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang
dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum
sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku
merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa
inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka
remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin
mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan
pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku
tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang,
tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk
seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat
kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia
suatu saat nanti, Insya Allah J
Langganan:
Komentar (Atom)







