Senin, 17 November 2014

BBM Naik, Saatnya Turun Gunung!!



                Tak henti-hentinya negeri ini bergejolak. Dari balik layar gadget, ku jelajahi hampir seluruh wilayah di negeriku. Mengerikan , terlalu mengerikan, aku sudah faham sebagian besar karakter masyarakat dinegeri ini, karena darah ku pun berasal dari darah yang sama. Kepanikan melanda, antrian di pom bensin tiba-tiba tak terkira. Seketika Jokowi memutuskan dengan tiba-tiba, benar dengan tiba-tiba, bukan hanya aku, saya yakin hampir seluruh aktivis mahasiswa tidak bisa menduga ini. Saya ingat beberapa bulan yang lalu, ketika BBM juga hendak dinaikkan, saya masih berada di depan gedung DPR menunggu hasil rapat yang diakhiri dengan voting sehingga hasilnya sudah jelas BBM akan naik, masih segar di ingatanku, adalah PDIP salah satu daru partai yang menolak keras kenaikan BBM ketika itu. Ah sudahlah ini tinggal kenangan. 


Jumat, 14 November 2014

Indonesia For Sale??




Sepertinya tema ini lagi hangat pasca pidato jokowi dalam pertemuan negara2 yg tergabung di apec beberapa waktu yg lalu.  inti pidato atw lebih tepatnya persentasi jokowi adalah dimana bapak president kita mengajak dan membuka lebar2 bagi negara2 lain untuk berinvestasi di Indonesia. inilah yang kemudian mulai memicu kontroversi, dimana ada yang mengatakan bahwa jokowi menjual indonesia kepada asing dan ada pula yang memuji persentasi dari jokowi tersebut. oke saya coba berargument, semoga argument saya objektif dan berasal dari nalar dan pemahaman serta ilmu saya saat ini bukan berdasarkan emosi belaka. yang saya fahami, dalam ilmu ekonomi, investasi merupakan salah satu faktor penting dalam memajukan dan mengembangkan perekonomian suatu daerah atau negara, dimana dengan investasi maka akan menghasilkan multiplayer effect kepada masyarakat, ntah berupa tenaga kerja dll. namun ada beberapa kondisi dimana investasi menjadi ideal, pertama investasi idealnya berasal dari dalam negeri sendiri di suatu negara, misal investasi orang jepang di dominasi oleh orang jepang sendiri, ini bagus. Resikonya kecil, positifnya banyak.apabila belum bisa maka tentu pilihan selanjutnya adalah mencari investasi dari luar negeri atau asing yg mempunyai kemampuan untuk berinvestasi.
Namun investasi dari luar ini juga harus kita lihat secara menyeluruh agar tidak menjadi bomerang bagi negara sendiri. pertama yg paling ideal ada investasi langsung yg masuk ke sektor riil, bukan hanya berputar di pasar uang atau pasar modal, dalam bahasa kerennya foreign direct investment (FDI) , misal nike membuka pabrik di Indonesia, ini bagus karena inveatasinya riil, akan menghasilkan sesuatu yg riil pula (sepatu2 buatan indonesia *walaupun merknya  ya ttp nike), tenaga kerja terserap, intinya terjadi proses dan kegiatan ekonomi di suatu daerah, walaupun ini tetap mempunyai resiko akan mematikan industri dalam negeri, disini peran pemerintah utk menjaga industri dalam negeri menjadi penting. Sehingga dari sini juga kita dapat mencegah terjadinya capital outflow (kejadian dimana modal asing yg masuk ke indonesia tiba2 ditarik dalam jumlah besar) yg dapat menyebabkan krisis seperti tahun 1998, itu lah mengapa kita menghindari investasi yg hanya berputar di pasar uang dan pasar modal ( orang bilang sektor moneter) , klw udah jadi pabrik ya gmana mau langsung di ambil kan? contoh lain pesantren2 yg dapat bantuan dari timur tengah, itu contoh dana asing tuh, namun sosialnya lebih tinggi dari bisnis, tpi intinya klw udah jadi sesuatu yg riil di indonesia maka itu akan berefek positif.

Kamis, 13 November 2014

Siapa saja yang terkait dan membutuhkan Islamic Financial Planning?




Pada dasarnya kebutuhan mengelola keuangan adalah kebutuhan setiap individu dimana dengan keberhasilan mengelola keuangan masing-masing individu maka akan dapat menyelesaikan masalah-masalah lainnya. Namun IFP juga dibutuhkan dalam mengelola keuangan keluarga. Dimana disini akan ada penyatuan bagaimana mengelola keuangan dari dua individu atau lebih yang berkomitmen bersama. Selanjutnya perusahaan merupakan element yang juga pasti membutuhkan perencanaan keuangan dan yang terakhir adalah sebuah negara. Tanpa perencaaan keuangan yang matang maka semua element dan golongan akan menemui masalah. Semua dimulai dengan bagaimana setiap individu dapat mengatur keuangannya, dengan melihat instrument-instrument dalam pendapatannya kemudian disesuaikan dengan pengeluarannya, sehingga pada dasarnya tidak akan mengalami yang namanya kekurangan. Seorang pegawai akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya apabila mempunyai pengeluaran seperti halnya seorang direktur, namun seorang satpam tidak akan mengalami masalah dalam finansial apabila pengeluaran dan gaya hidupnya seperti halnya pendapatan yang dia miliki. Semua berawal dari bagaimana kita dapat mengatur dan mengelola pengeluaran kita dan gaya hidup kita. Pada dasarnya hal ini lah yang dapat menyebabkan seseorang mempunyai masalah finansial. Setelah hal ini dapat diselesaikan barulah nanti akan beranjak kepada instrument-instrument lain dalam sebuah perencaan keuangan, seperti bagaimana berinvestasi dan bagaimana kita juga tidak melupakan hak-hak orang lain dalam harta kita yang merupakan sebuah satu kesatuan dalam Islamic Financial Planning.



Senin, 10 November 2014

Mengapa kita perlu Islamic Financial Planning (IFP) ?



Ketika melihat keadaan sekitar, masalah apa sebenarnya yang menciptakan dunia ini terlihat begitu keras? Mengapa sampai seseorang harus rela meninggalkan keluarganya di bogor untuk kerja di Jakarta? Mengapa sampai ada orang-orang yang ingin mencelakakan dan mengambil hak orang lain? Pada dasarnya semua ini adalah karena masalah finansial. Kita sadari atau tidak inilah salah satu sumber masalah terbesar dalam hidup. Apabila seseorang sudah terbebas dari masalah finansial ini maka akan semakin mudahlah seseorang menghadapi masalah-masalah lain dalam hidup mereka. Namun apabila seseorang belum terbebas dengan masalah finansial ini maka yakinlah seumur hidup masalah mereka hanya akan berkutat pada masalah finansial ini.


Senin, 03 November 2014

Sukuk di Indonesia

Perkembangan Keuangan Syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak satu dekade ini. Begitu pula di pasar keuangan, salah satu instrumen syariah di pasar keuangan adalah sukuk. Sukuk secara bahasa berarti sertifikat / dokument sedang secara istilah menurut AAOIFI Sharia Standards No.17 adalah Certificates of equal value representing undivided shares in ownership of tangible assets, usufruct and services or (in the ownership of) the assets of particular projects or special investment activity.

Sukuk dapat dikeluarkan oleh sebuah perusahaan atau Negara. Sukuk yang dikeluarkan oleh perusahaan biasa disebut dengan sukuk corporation sedang sukuk yang dikeluarkan oleh Negara biasa disebut sukuk Negara. Menurut UU nomor 19 tahun 2008 SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau Sukuk Negara adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan RI

Direktorat pembiyaan Syariah merupakan salah satu unit organisasi Eselon II di Direktorat Jendral Pengelolaan utang yang berfungsi sebagai front office. Tugas utama DPS berdasarkan PMK 184/ PMK.01/2010 adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang pembiayaan syariah berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur jendral.

Ceritanya habis magang he :D

Kamis, 28 Agustus 2014

KALAU KAU BILANG


kalau kau bilang harga BBM di negeri ini
     terlalu murah dibanding negara lain
     naikan saja berapa kau suka

jangan perdulikan berapa pendapatan rata-rata
     rakyat indonesia dibanding negara lain
     karena tidak penting diperbandingkan

kalau kau bilang mensubsidi rakyat sendiri
     haram, tidak mendidik dan tidak adil
     cabut saja subsidi itu kapan kau mau

mungkin benar seperti sering kau bilang
     subsidi BBM hanya dinikmati para pemilik mobil
     yang setiap hari frustrasi dalam kemacetan

bagimu tidak penting juga memahami mereka
     yang lebih separuh pemilik mobil murahan
     yang setiap bulan pening memikirkan cicilan

tapi rakyat sudah terbiasa hidup dalam penderitaan
     dilatih penjajah selama ratusan tahun
     sehingga penderitaan sudah menjadi hiburan


Selasa, 26 Agustus 2014

Sang Pembebas

Para pelempar batu itu kini telah menjadi para peluncur roket.



“Sekarang kami izinkan para pemukim Yahudi, terutama yang berada di sekitar Jalur Gaza untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Itu adalah izin dari Hamas, bukan dari perdana menteri Netanyahu.”
Sahut Dr. Sami Abu Zuhri , juru bicara hamas







Kamis, 12 Juni 2014

Ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta vs Aksi Trisaka Jokowi-JK


Tergelitik untuk “ikut-ikutan” meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, tapi tentu mencoba untuk tidak terjebak dalam pragmatism dukung-mendukung salah satu calon, malu sama almamater cihuy, yah izinkanlah sebagai mahasiswa ekonomi mengkritisi paparan visi misi dan program kedua calon dari perspektif ekonomi tentunya. Masih jauh dari sempurna, dan belum tentu benar apa yang akan saya kritisi, tapi setidaknya ini bukti saya mencintai negeri ini, dan saya peduli siapa yang akan menjadi pemimpin saya setidaknya 5 tahun kedepan.

Dari berbagai sumber baik dari media massa dan www.kpu.go.id sendiri, saya menemukan visi dan misi kedua capres, tak akan dikritisi semua karena saya belum punya kapasitas untuk itu, tapi setidaknya mencolok untuk mengkritisi di bidang ekonominya, sebenernya ini sudah masuk ke program bukan lagi visi dan misi, karena sudah mulai rinci dan spesifik apa yang akan mereka lakukan di bidang ekonomi jika nanti terpilih memegang amanah sebagai presiden Republik Indonesia. Berikut program dari kedua calon , dimana pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta mereka sebut dengan Ekonomi Kerakyatan dan pasangan nomor 2 Jokowi-jusuf Kalla dengan sebutuan Aksti Trisaka.

Ekonomi kerakyatan versi Prabowo-Hatta:.

1. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran untuk program pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM, serta industri kecil dan menengah.

2. Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lainnya untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil lainnya.

3. Mendirikan Bank Tani dan Nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil, petani, peternak, nelayan buruh, pedagang tradisional dan pedagang kecil.

4.  Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional serta mengkonsolidasi belanja negara untuk program pengembangan koperasi dan UMKM dan revitalisasi pasar tradisional.

5. Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW).

6. Mengalokasikan dana minimal Rp 1 miliar per desa atau kelurahan setiap tahun secara langsung, dan mengimplementasikan pula UU Tentang Desa.  Dana APBN yang disiapkan sebesar Rp 385 triliun selama tahun 2015 sampai 2019 bagi 75.244 desa atau kelurahan. Dana ini digunakan untuk program pembangunan pedesaan dan membangun infrastruktur untuk rakyat melalui 8 Program Desa.

Aksi Trisaka Jokowi JK
1.   Akan melakukan Pembangunan Sumber daya manusia, dengan menerapkan kebijakan Indonesia pintar, Indonesia kerja, Indonesia sehat, dan Indonesia sejahtera.

2.  Akan meningkatkan daya saing dan produktivitas rakyat, dengan membangun infrastruktur, pasar tradisional dan sentra perikanan, investasi mudah dan menarik, serta menjadikan BUMN sebagai agen pembangunan

3. Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi.

 Begitu garis besar dari program ekonomi kedua calon, nah saatnya berpendapat, kalau dari sudut pandang ekonomi konvensional kayaknya udah biasa dan gak terlalu penting lah ya, saya coba dari sudut pandang ekonomi islam. Salah satu yang menjadi ruh dari ekonomi islam adalah ingin menghilangkan dekapling , yaitu kesenjangan antara ekonomi moneter dengan ekonomi di sector riil, sehingga berbicara ekonomi islam adalah berbicara bagaimana meningkatkan ekonomi di sector riil yang sejatinya merupakan tonggak dan fondasi khusus dalam pertumbuhan ekonomi.

Dari pemaparan diatas saya rasa kedua calon sudah mengarahkan kepada pembangunan disektor riil , baik dari ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta maupun dari Aksi trisaka Jokowi-JK , namun apabila ingin membandingkan dalam hal siapa yang lebih mendekati kepada pembangunan di sector riil maka menurut saya Prabowo-Hatta mempunyai nilai lebih daripada jokowi – Jk, kenapa? Terbukti dari pemaparan program Prabowo-Hatta yang sudah spesifik sampai membahas dari pedagang sebagai individu, kemudian UMKM sebagai kelompok dalam usaha mikro sampai kepada perbankan yang biasanya hanya untuk kepentingan menengah keatas diarahkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Sedang dari pemaparan dari Jokowi-JK yang memulai dengan pembangunan dari manusianya sampai kepada kedaulatan energy dan pangan masih terlalu melebar dan belum spesifik, padahal ini sudah masuk kedalam program yang seharusnya lebih spesifik, dan langsung bisa di implementaskan. Namun dari paparan diatas, Jokowi-JK masih dalam taraf sebuah konsep yang belum rinci. Sebenarnya salah satu point dari trisaka sudah mulai rinci mengarah kepada pembangunan di sector riil seperti pembangunan infrastruktur dan pasar tradisional, namun sayang tidak diikuti dengan 2 point lainnya yang masih dalam taraf normative, seperti ingin melakukan Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi, tapi sederhananya kedaulatan seperti apa yang diharapkan? Kedaulatan untuk rakyat atau untuk asing? Masih terlalu ambigu dan belum sampai ketaraf apa yang akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut, sehingga dari sisi kedekatan program ekonomi ke sector riil yang merupakan ruh dari system ekonomi islam satu point untuk Prabowo-Hatta.

eits tapi baru dari sisi ini ya, silahkan di analisa dari sisi yang lain, sehingga dengan cara sepert ini ini kita mengharapkan mempercepat proses demokrasi yang substansial  dan tidak terjebak dalam aksi dukung mendukung tanpa alasan yang jelas, apalagi yang mahasiswa, ehm malu sama almameter cuy hee, sekian. Wallahua’lam. 

Akulah Produk Privatisasi Pendidikan

Kini aku ingin berbicara tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah kontroversi Ujian Nasional  dan permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Di tengah hiruk pikuk permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya, tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari privatisasi pendidikan.

Tidak bermaksud menyalahkan siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik, dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus kita jawab.

Sederhananya seperti yang aku katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ? tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti saat ini!

Aku tak ingin diam tentunya lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu, tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika  system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi, argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus menjadi konsen utama kita.

Masuk ke system pendidikan kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam, dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.


Menarik membahas tentang dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini, ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J

Kebutuhan Sang Manusia

Asfahani berpendapat bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.

Dari pendapat ulama di atas ada hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual? Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera, mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg memang beragam macamnya di dunia ini?

Sebelumnya kita kesampingkan pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan? Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis, apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.

Sampai disini tidak ada masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.

Sederhananya begini, seseorang yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer lainnya?  di atas saya berkata bahwa kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu, tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas, banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup, dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.

Semisal saya seorang yg insya Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang saya tangkap dari sang ulama ini.


Sehingga selanjutnya adalah di bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Wallahua’lam J

Senin, 26 Mei 2014

Politik, off the record yaa..



“Ketika Islam beribadah maka akan dibiarkan, ketika islam berekonomi maka akan diawasi, ketika islam berpolitik maka akan di hancurkan sampai keakar-akarnya”, begitu kata Mohammad Natsir.
Politik? Yaa sekali-kali menulis politik boleh lah ya, walaupun kayaknya banyak yang tak suka politik, banyak yang bilang politik itu keji dan kotor, sampai orang-orang yang kerjaannya memaki-maki politik dengan system serta semua dinamikanya seolah-olah tau luar dalam padahal mungkin tau kulitnya saja tidak, yah selamat anda telah termakan tipuan-tipuan sang politikus kotor sehingga anda tidak akan tertarik kepada politik jadi dia kekurangan saingan deh , tapi ya sudahlah. Saat ini hanya ingin membagi pandangan ku terhadap politik, semoga menarik.
Politik bagiku tak ubahnya seperti ilmu pengetahuan yang lain, seperti ekonomi, hokum, sampai ilmu fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Mereka suci, mereka bersih, mereka ada untuk menunjang peradaban dan kehidupan umat manusia di dunia, tanpa perkembangan semua ilmu itu maka tidak berkembang juga kualitas kehidupan kita, benar kalau ada orang didalamnya yang keji dan kotor, benar kalau ada orang yang menguasai ilmu-ilmu itu digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga seolah-olah kita tak sadar membenci ilmu-ilmu yang suci itu, sesederhana itu kesalahanfahaman sebagian besar orang-orang yang memaki-maki politik menurutku.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ada sedikit yang berbeda dalam ilmu ini, “Fatih, ini off the record yaa” , kata sang jendral kepadaku, begitu kerap kali kalimat yang kutemui ketika dalam proses pembelajaran ilmu ini, tak semua hal orang perlu tau, tak semua hal perlu dikatakan, apa yang terucap di mulut memang kadang berbeda dengan yang di hati, tidak berarti bohong walau kadang kebohongan itu tetap dilakukan sebagian orang, hah tidak sesederhana itu, ini semua hanya seni, sehingga bagi kalian yang tak biasa hanya akan menjadi penonton dan terdiam, tapi begitulah politik, seni untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan. Tapi catat, tujuannya adalah selalu mulia, selalu mulia, politik yang identic dengan kekuasaan adalah dalam rangka untuk mengatur hajat hidup orang banyak untuk menjadi lebih baik, itulah tujuan utama kita berpolitik, mulia bukan? Justru kalau mau fair aku bisa mengatakan berbeda dengan ilmu ekonomi yang aku kuasai, ilmu ekonomi diawali dengan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tercermin dalam selalu dimulainya mikro sebelum belajar makro, dalam sudut pandang ini individual sekali bukan?
Tapi politik dimulai dengan tujuannya yang mulia, namun jalan menuju kekuasaan itu crowded kawan, macet, penuh, sehingga orang-orang yang berniat baik tadi harus bersaing untuk menuju singgasana tersebut, dalam proses menuju singgasana inilah orang-orang yang mulai tak sabar akan menjadi sang pecundang yang melupakan tujuan awalnya tadi sehingga menghalalkan semua cara, orang-orang ini biasa kita sebut dengan orang-orang yang pragmatis, namun tidak jarang juga orang-orang yang tak sanggup bertahan dalam persaingan itu mundur mengakui kekalahannya sambil memaki-maki dari luar medan perang, sehingga biasa kita sebut dengan orang-orang idealis, setidaknya mereka merasa seperti itu.

Karena itu menurutku keseimbangan dan integrasi sangat diperlukan disini, yap jadilah seseorang yang idealis namun tetap menikmati proses yang ada, sehingga kau akan menguasai seni berpolitik, yang terpenting adalah ingat tujuan mulia kita dalam berpolitik, mengatur hajat hidup orang banyak, sehingga ini adalah tugas mulia yang harus kita rebut, namun perkataan M. Natsir diatas tentu menunjukkan bahwa musuh kita nyata, bahwa dunia tau, kepemimpinan islam akan menghancurkan barat dengan hegemoninya, karena itu mereka selalu berusaha menghancurkan kita, ssst ini of the record yaa hee, okelah mungkin cukup dulu, lain kali mungkin menarik membahas demokrasi atau prabowo dan jokowi? J

Sabtu, 24 Mei 2014

Cinta, Kata ini yang sempat hilang!



Bismillahirrohmanirrohim
Lama rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini, tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama ini?
Aku tak ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan secara maksimal, “Cinta” , yah kata ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan pemikiranku saat ini.
Jangan menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak, ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur, seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah hingga akhir hayat.
Mereka semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini, apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang, tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia suatu saat nanti, Insya Allah J