Semuanya bermula
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Tanah para syuhada
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Kemenangan kan nyata
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Palestina merdeka
Bersorak,
bernyani, meloncat, sambil bertakbir dan
dengan suara lantang meneriakkan,
“Satu kata untuk palestina,
BEBASKAN”
“Dua kata untuk palestina,
BEBASKAN PALESTINA”
“Tiga kata untuk Palestina ,BEBASKAN
PALESTINA ALLAHUAKBAR”
Begitulah kira-kira semaraknya acara
penggalangan dana sekaligus pelepasan relawan berjumlah sekitar 8 orang ke
palestina, bersama kurang lebih 8 orang teman-teman ku kami datang dari bogor
untuk ikut andil dalam acara didepok itu.
Izzatul
islam, Arruhul jadid, dan beberapa grup nasyid lain ikut meramaikan acara
tersebut, namun minus satu, sohaaaaaaaaaar gak adaaaaaaaa , yap minus shoutul
harokah, sibuk kali ya, andaikan ada wuiiih lengkap sudah , namun apalah daya
Allah berkehendak mereka tak datang, namun izzis dan arruhul jadid pun rasanya
sudah cukup membuatku dan teman-teman ku berkeringat karena loncat sana sini
hahay mantep dah
Ini Panggung Utama nya kawan,
Tau siapa
orang tua disamping? Bukan , bukan kakek kakek nyasar , enak aja hha, beliau
adalah taufik ismail bro, bersama dengan seorang pemuda dari palestin sedang
membacakan puisi, udah tua namun semangat jihadnya luar biasa, salah satu yang
dikirim ke palestina juga lo
Terdapat
beberapa jenis jenis Riba, yang Insya Allah akan coba saya bahas disini,
1. Riba
Al-Fadhl
Riba ini muncul karena adanya pertukaran
dua barang sejenis dengan kelebihan/tambahan pada salah satunya.
Diskusi tentang riba al-fadhl
muncul dalam hadis ketika emas, perak, gandum, roti, kurma dan garam
ditukar di antara barang tersebut harus dilakukan saat itu juga serta
harus sama dan sejenis.
2. Riba An-Nasi’ah
Berasal dari kata nasa’a yang
berarti menunda atau menunggu.
Riba
Nasi’ah adalah riba yang timbul karena adanya tambahan dari nilai premium
yang diperjanjikan karena terjadi penangguhan dalam pembayaran yang
diperjanjikan sebelumnya.
Riba ini merupakan tambahan
atas pinjaman.
Namun terdapat sedikit perbedaan
pendapat, yah disini perlu saya jelaskan perbedaan dalam fiqh muamalah itu
sering terjadi tapi Insya Allah semuanya berasal dari sumber yang sama yaitu
Al-Quran dan Al Sunnah.
Ada juga yang membagi RIBA
menjadi 2 garis besar dulu baru kemudian di jelaskan lebih rinci lagi agar
lebih, misalkan saja yang terdapat dalam buku “Bank Syariah dari teori Ke
praktik” karya DR.M.Syafii antonio, beliau membagi RIBA menjadi
ØRiba utang piutang, terdiri dari :
•Riba qardh: suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu
yang disyaratkan terhadap yang berhutang, contohnya Bunga.
•Riba Jahiliyah : utang
dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya
pada waktu yang ditetapkan.
Magrib yang kelam di kota bogor,
kota yang disebut kota hujan ini benar benar kota hujan, setelah hampir
seharian mendung, sang awan menumpahkan juga isi perutnya ketika azan magrib
berkumandang. Deras, deras sekali sampai sampai dapat membuat alasan untuk
tidak shalat kemasjid namun tetap saya lakukan, menerjang badai dan hujan untuk
berjalan menuju masjid , ya iyalah orang jarak kamar ke masjid hanya beberapa
langkah hehe, namun satu yang kufikirkan jadikah aku pergi malam ini? Menghapus
lelah dan penat sejenak kehidupan keras di asrama dengan bermain main kerumah
seorang teman liqo di jakarta. Setelah shalat isya akhirnya kami putuskan untuk
tetap pergi karena nampaknya hujan sudah mulai berganti dengan gerimis. Setelah
sedikit beres beres, kami berangkat menuju stasiun, lalu naik kereta menuju
keramat jati, jakarta timur, (kalau gak salah). Sampai di stasiun keramat jati
kami naik angkot 2 kali lalu sampailah kami di rumah saudara saya itu.
sederhana, tak terlalu besar, sedikit
berantakan, kertas disana sini, bahkan
terkesan sempit karena banyak barang-barang , waduh jujur amat yak , tapi ada
perasaan aneh yang saya rasakan ketika memasuki rumah tersebut, sebuah
kerinduan yang ntah datang darimana, pikirian saya melayang jauh menuju
pelabuhan merak lalu menyebrangi selat sunda hingga sampai di pelabuhan
bakauheni di lampung, terus berjalan hingga melewati palembang terus mencapai
daerah jambi lalu naik ke gunung kerinci terus turun lagi, bermain main di kebun
tehnya, sungguh tak jelas mw kemana,
belum belum, fikiran saya terus ke ibukota sumatera barat, masuk kota
padang sampai di sebuah perumahan bernama belimbing, Jeruk 3 nomor 6, memasuki
rumah yang sederhana , perkarangannya, dindingnya sampai bau tanah tempat saya
sering bermain kelereng pun rasanya masih jelas terbayang, rumah tempat aku
menghabiskan masa kecil ku selama kurang lebih 5 tahun, indah ,tenang dan damai
begitulah yang kuingat dari rumah ku itu dulu.
“Eh tih, itu kue nya di makan,” kata kawan
ku itu sambil menyodorkan sepiring berisi kue2 kecil. “yoi , makasih makasih,
gak usah repot-repot, yang ada keluarin aja semua,” jawabku dengan penuh
percaya diri haha. Pandangan ku kembali menyapu ke seluruh ruangan, berantakan
tapi damai, rasanya seperti kembali kemasa-masa itu, sungguh kerinduan yang
tiba2 menusuk. Lalu melihat adik-adiknya yang masih kecil , gemes dah, dan
akhirnya pandangan ku tertuju ke sebuah kertas iklan, yah kurang lebih seperti
brosur gtulah, ketika ku baca judulnya sangat menarik, mau tau ya? Gak mau? Ya
udah siapa juga yang peduli haha.
“Hidayat-Didik, Ayo bereskan jakarta”
begitulah, sebentar lagi pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI JAKARTA. Aku
baca brosur ttg riwayat pendidikan dan organisasi ke2 orang tersebut, menarik
dan sedikit menyita perhatianku, setelah selesai membolak-balik brosurnya
kututup dengan berdoa untuk kemenangan pak hidayat ini, semoga pak hidayat
menang dan partainya berkuasa sehingga islam kembali berjaya di negeri ini
amin. Malah kampanye –‘ haha bodo amat, terserah saya dong, lalu penasaran aku bertanya, “orang tua antum
mana?” , “belum pulang, lagi rapat kayaknya” , jawabnya. mendegar itu aku
langsung tersenyum, kayak abi buanget,
malem2 belum pulang, rapat teruuus, gak sudah sudah memikirkan umat haha. Lalu
tak lama kemudian orang tuanya pulang, dan tak selang beberapa menit sudah
keluar lagi, oalah sibuk amat ni orang, pikirku, padahal jam sudah menunjukkan
pukul setengah sebelas malam, penasaran aku keluar dan ternyata apa yang sedang
beliau lakukan? Sedang menempel sebuah poster “Hidayat-Didik” ternyata, wah
timses nih kayaknya hahay. Hingga akhirnya kawan saya tersebut berkata,
“eh tih yuk kita jalan , udah malem nih.”
“yang bilang siang siapa? –‘ , emang kita
mau jalan kemana malem2 gini?” tanyaku
“ke Kalibata, kita tidur disana aja, gak
enak disini, agak sempit dan lagi pada sibuk kayaknya.”
“loh , kenapa? Ane suka kok disni.”
“ya gak papa kita kesana aja .”
“woke ane ikut antum aja lah”
“sip lah.”
Lalu menaiki motor sederhananya kami
bertolak dari keramat jati menuju kalibata, berasama adek kecilnya yg bernama
ibrahim, biasa di panggil aim, yah biasa panggilan imut seorang anak yang belum
genap berumur 3 tahun itu. Saya penasaran apakah ketika umurnya sudah mencapai
40 tahun masih di panggil aim haha. Sejenak saya tinggalkan keluarga aktivis ,
wih aktivis, keren bener yak bahasanya, begitulah. Lalu sampailah kami di
daerah kalibata, memasuki sebuah perumahan, dan saya membaca tulisan di
gerbangnya, karena sudah gelap dan mata saya sedikit mengantuk kayaknya saya
salah baca atau apa, kalau gak salah tulisannya seperti ini ,
“RUMAH JABATAN ANGGOTA DPR-RI KALIBIATA
JAKARTA”
???
ha serius nih? Ah kayaknya kawan saya ini salah masuk perumahan, atau memang
mata ini minusnya semakin parah kali ya, tak taulah, dan akhirnya kami memasuki
sebuah rumah , 2 tingkat , 4 kamar atau mungkin 5 lengkap dengan kasur empuk
atw biasa di sebut springbed ya, 3 atau
4 kamar mandinya ya, ( maaf gak tau jelas, rumah orang uy haha) ruang tamu,
ruang tengah, dapur , garasi dan ruangan2 kosong ntah apa gunanya kyknya sih
untuk kantor atau ruang kerja, dan ada lagi ruangan untuk pembantu kayaknya di
bagian dekat atap, yah gak gede dan mewah mewah amat sih, cuman mewah banget
haha, pokonya jauh dari rumah yang sebelumnya,
tapi teng nong sepi luar biasa, disana cman tinggal seorang anak sma
kelas 1 bernama hafid yang kyknya di tugasi untuk menjaga rumah tersebut,
hampa, begitulah pandangan pertama ketika saya memasuki rumah tersebut.
“ Kita nginap disini?” tanyaku
“ yap, disini lebih luas”. Jawabnya
“hm yah luas sih, tapi..”
“kenapa ? ada yg aneh?”
“ gak gak, emang ini rumah antum?” ,
Sungguh pertanyaan yang benar-benar tolol , udah jelas tulisannya rumah
jabatan, ya jelas rumah dinas milik pemerintah --‘
“ya bukanlah, “
“Jadi orang tua antum anggota DPR?”
“Bukan – bukan, ada saudara aja, jadi
rumahnya jarang dipakai, kalau ada tamu-tamu aja biasa di pakai”
“ooh gitu,” kata ku seolah tak
terlalu peduli.
Tak
ingin rasanya bertanya lebih lanjut masalah pribadinya, cukuplah aku tau malam
ini akan menginap di rumah mewah. Ini mah rasanya bukan jadi kayak nginep di
rumah kawan, tapi kayak pindah ke hotel, gak seru ah batinku.
“Eh tau gini kemaren pas ke jakarta ama
anak-anak mau ke IBF , malemnya mending kami kesini aja ya?” aku memulai
perbincangan lagi .
“ Loh emang kalian gak jadi ke
mesjid BI?”
“apaan, di kunci uy, kami agak kemaleman
datangnya, heran ntah kenapa mesjidnya gak 24 jam, mungkin orang BI nyimpen
duit jga di mesjid kali ya haha, akhirnya kami kerumah arif di bekasi” kataku
“Yah kalian gak ngomong sih, ane waktu itu
pas lagi ngumpul ama keluarga besar jadi gak bisa ikut.”
“Ya udahlah mw diapakan”
Begitulah, lain waktu saya pernah bersama
sekitar 11 orang anak2 liqo juga pernah maen ke jakarta untuk mencari buku atau
tepatnya menghabiskan uang, yang penting jelas dari pada menghabiskan uang
untuk orang orang yang tak jelas mending beli buku, yang tersinggung
tersinggunglah, karena sesungguhnya saya benar benar tak peduli haha, sempat
terlantar malam harinya di jakarta karena tak ada penginapan, seru abiis tapi bukan
waktunya membicarakan itu sekarang, kapan kapanlah kalau ada umur panjang :D
Lanjut , akhirnya malam itu kami habiskan
waktu dengan mengobrol bersama, saya , kawan saya , dan seorang anak sma kelas
1 dan adek kecil berumur kurang dari 3 tahun di sebuah rumah yang saya rasa
bisa diisi lebih dari 10 orang, sesekali bermain PS 2, bola tentunya,
alhamdulillah saya menang beberapa kali, gak penting –‘ . Kemudian ketika jam
menujukkan setengah satu pagi, kawan saya menuju kamar di lantai 1, dan
berkata,
“Tih, kalau antum mw tidur dilantai atas aja
ya,”
“Ah gampanglah, ntar ane lihat2, paling ane
tidur di sofa ini aja.”
“janganlah, mending di atas aja.”
“ya ya”. Sahutku sambil membaca artikel di
sebuah website.
Akhirnya aku naik keatas, melihat lagi 3
kamar besar lengkap dengan springbednya dan ac nya, sungguh menggiurkan ,
sayangnya dari 3 kamar itu saya tak menemukan tempat yang nyaman untuk tidur,
gaya amat yak , padahal emang biasa tidur di lantai ni hehe, dan ujung-ujungnya
saya tertidur di atas sofa bersama laptop yang menyala..
Pagi yang cerah, shalat subuh agak telat
namun belum terlambat, pagi yang indah untuk jalan-jalan melihat perumahan
mewah anggota DPR rasanya,
“eh , jalan-jalan yuk.” Ajakku
“kemana?”
“Muter-muter aja”
“oh ayok lah”
Berkeliling melihat-lihat , yah tak
perlu lagi ku jelaskan lagi , satu hal yang pasti dari setiap rumah dinas semua
rumah sama bro, hanya di bedakan dengan nomor, penasaran aku bertanya lagi
tentang mesjidnya, setelah melihat-lihat, afwan ini hanya pendapat pribadi
ya, yah cukuplah untuk dikatakan sebuah
mesjid bagus, hanya kalau di fikirkan ini perumahan dinas DPR seharusnya
mesjidnya bisa 200 kali lipat lebih bagus dari ini , berapa sih anggarannya tak
akan melebih anggaran toilet di DPR kurasa?? haha, yah minimal 2 tingkat atau
gmana kek, tapi mungkin yang buat juga mikirnya gini, “Berapa banyak sih
anggota DPR yang mau shalat kemesjid?” jadi mungkin itu juga menjadi salah satu
alasan sehingga mesjidnya tak terlalu besar dan mewah seperti halnya rumah
rumah persinggahan mereka. Maaf pak bercanda :D
Sempat mencicipi mesjidnya dengan
shalat duha, dan berkeliling-keliling sendirian dengan motor dan sempat melihat
cengiran satpam karena benar-benar keliling mencari rumah kawan saya itu. “Ni
orang pasti baru dateng, daritadi muter muter kayak orang tolol,” begitulah
yang saya fikirkan dari cengiran sang satpam itu haha. Rencanya saya mau
diajaknya main ke TMII, tapi karena kayaknya hari udah siang akhirnya kami
putuskan untuk balik kerumah kawan saya yang di keramat jati agar sorenya bisa
balik ke asrama.
Keramat jati, sekitar pukul 14.00
Rumah
sederhana itu kumasuki lagi, kali ini lebih terlihat lebih rapi,
“Bentar ya ane mau kedalem dulu.”
Sahut kawan saya
“Eh ane mw rebahan nih, disini emang
gak papa?” ketika itu sedang berada di ruang tamunya.
“Hem, janganlah kita ke atas saja.”
“Okeeh,” aku menurut sama tuan rumah
tentunya.
Lagi-lagi bagian atasnya , afwan
kayak kapal pecah, eh tapi ini kawan ane sendiri yang ngomong :D, “benar-benar
kayak kapal pecah ni rumah” begitu katanya. Aku hanya tersenyum, tak sedikitpun
suasana ini membuatku tak nyaman, jujur justru aku merasa rileks berada disini,
lalu aku merebahkan diri di kamarnya yang berisi sekitar 4 kasur sederhana yang
disitu juga ada adek2nya yang laki-laki sedang khusyuk dengan laptopnya.
Pulas hingga ketika ashar aku tak
sempat kemasjid, karena sdikit terlambat, asik sih, rumahnya gue banget
kayaknya haha, udah lama gak bertemu dengan suasana seperti ini sih, suara
berisik adek-adek nya yang bermain , kadang ada suara anak perempuan yang
menangis, pasti abangnya ada yang jahil, gak kayak saya yang tak pernah membuat
adek nangis, boong banget haha , suara umminya yang lagi masak waaa kangen
rumaaaah uy.
Magrib,
Sedikit ada insiden, sendal gunung ane yang
baru beli hilang bro hik hik , curhat nih bang? Haha. Gak sekedar info aja, ke
mesjid jangan make sendal bagus, kecuali kalau udah ikhlas dan niat mau
berinfak hehe, yah Insya Allah ikhlas lah kehilangan sendal itu, *ikhlas
ngomong-ngomong, apanya yang ikhlas yak –‘ wkww, hanya saja saya berfikir yah bayaran dari
perjalanan yang menyenangkan ini rasanya pantas lah untuk sekedar kehilangan
sendal gunung ;)
Ba’da isya,
Di mesjid yang sama, sendalnya masih tak
ada ternyata, ooh masih ngarep toh –‘, ya iyalaahh wkwkw,
“ayok tih kita siap-siap balik ke asrama”
sahut kawan ku di jalan menuju rumahnya dari masjid.
“Yoi”. Jawabku santai
Setelah
pamitan dengan orang tuanya kami pun berjalan menuju angkot, sebagai cerita
penutup, ada yang sedikit menarik di angkot, gak sengaja di tengah keramaian
jakarta kami dapat angkot yang kosong, dan si mamang angkot yang kayaknya sudah
tua dan bangka hha, gak ding tua aja gak make bangka, bangka itu kampung saya
tempat yang indah yang tak bisa disangkut pautkan dengan ni abang angkot, apaan
sih geje banget yak wkwk, dan kemudian dia tiba tiba nyeletuk,
“hmm, kalau dulu motor dan mobil seramai
ini di jakarta pasti mau kampanye, sekarang mah rame terus.”
Ya iyalah bang, namanya juga ibu
kota, kalau papua kali dah. Tapi dalam hati hehe
“wah iya ya bang?” tanyaku pura-pura bego,
nenek-nenek juga pasti tau klw jakarta padetnya minta ampun.
“yah begitulah, gimana kalau ntar
ada kampanye ya? Pasti lebih rame nih”
“hha , iya mungkin gtu bang .”
sahutku tak terlalu tertarik.
“eh ngomong-ngomong kalian ntar milih siapa?
Sebentar lagi kan pemilihan gubernur kalian tinggal di jakarta kan?” . Si abang
ini ngoceh lagi, tapi kali ini menarik kyaknya
Saya biarkan kawan saya yang
menjawab.
“iya bang tuh di keramat jati.” Jawab
temanku
“Jadi kalian ntar milih siapa?”
tanya nya lagi kayak badan survei aje
Saya tersenyum, gak tau dia nih bapak orang
yang ditanya timses hidayat-didik wkwkw. Saya biarkan kawan saya yang
menjawab, ya iyalah masak saya yang mw
jawab, milih kagak –‘
“kami kayaknya milih pak Hidayat pak” .
sahut kawan ku,eh bntar, katanya tadi kami? Lu aja kali gw kagak. Haha
“ooh wah hidayat, berarti ada kader
PKS nih hehe” kata sang abang angkot nyengir
“gak gak kami milih karena pak didik
juga.” Kata kawanku lagi
Ehem ehem aku batuk yang tak perlu, “emang
bapak milih apa pak?” tanyaku membalas pertanyaan si bapak karena kayaknya
kwanku mulai terdesak dengan penyataan si bapak :D
“hem saya ya? Sebenernya saya pada awalnya
agak apatis dengan pemilihan ini. Yah rasanya tak akan ada yang jauh berubah
siapapun pemimpinnya. Tapi kalau ditanya saya milih siapa saya ada 2 kandidat
sih, yah kita kan negara demokrasi jadi bebas toh. Tapi ini saya baru
nglihat-lihat aja belum terlalu yakin.”
Iya iya, ni tukang angkot udah kayak
pejabat yang birokrasinya berbelit-belit, ngomong muter muter jawab aja langsung
woy hha ,
“yang pertama saya kayaknya lebih
condong ke jokowi, karena melihat solo sekarang kayaknya ada kemajuan, orangnya
juga merakyat, sering kemasyarakat tanpa
ada pengawalan , yang kedua kayaknya faisal.”
“Oh gitu ya pak, ya ya ya betul
juga.” Jawab ku seolah olah sependapat dengan pernyataan si bapak angkot, tak
taunya dia kalau-kalau preman di pasar itu anak buah jokowi semua, sama halnya
dengan partai “sensor” yang dimana mana banyak preman menjadi anggota partai
mereka, jadi ya wajar aja dia gak bawak pengawal, memang udah pengawal semua di
sekitar dia, paling cuman mau nyari muka, astaugfirullah jadi seudzon dah ama
jagoan si supir angkot ini haha . yah ini juga berbicara berdasarkan fakta yang
banyak saya temui kok. Dan bolehlah saya
menshare ini untuk kalian gratis silahkan di baca wahai para pemuda-pemudi
islam
wallahua’lam
, kebenaran hanya Allah yang tau, cukuplah bangsa yahudi terkutuk itu
mencampuri urusan negara kita, Demi Allah saya tidak rela bila negara ini benar
benar di pimpin seorang yang ada hubungan dengan yahudi.
Tapi yang pasti pelajaran yang saya
dapat, rakyat itu cinta apabila merasa pemimpinnya itu benar-benar peduli, tak
perlu ribet-ribet mengurusi korupsi, tak perlu bersuara keras untuk menentang
kenaikan BBM sehingga bakal di keluarin dari koalisi, sekedar main – main kepasar
aja mereka udah seneng, apalagi kalau dikasih "oleh-oleh sedikit" , Eh eh ngawur –‘ haha. Begitulah dan akhirnya saya kembali ke
asrama dengan perasaan yang bahagia karena banyak mendapat pelajaran dari
perjalanan singkat ini, keserdahanaanmu, ketenanganmu,perkataan dan candamu
sungguh menjadi pelajaran, terimakasih kawan, sungguh aku mencintaimu karena
Allah ya akhi ^^
Umar bin Al Khattab berkata : “hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah
sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk
menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada
saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyii dari
kalian.”
Saudaraku sekalian, pernahkah kita menyendiri dan menghisab apa yang telah
kita katakan dan kita perbuat ? pernahkan kita satu hari menghitung keburukan
kita sebagaimana kita menghitung kebaikan ? bahkan apakah kita pernah
mengkhayal tentang ketaatan kita yang kita banggakan ? bila kita mendapatkan
bahwa kebanyakan dari amalan kita itu dipenuhi dengan riya' lalu bagaimana
mungkin kita dapat bersabar pada keadaan seperti ini, sedangkan perjalanan
hidup ini selalu penuh dengan liku liku dan godaan, bagaimana mungkin kita akan
menghadap Allah sedangkan kita dipenuhi dengan beban dan dosa-dosa ? Karena itu
marilah kita mulai berbenah diri , salah satu caranya dengan muhasabah diri
sendiri.
Beberapa macam muhasabah diri
Muhasabah diri terbagi menjadi dua : sebelum perbuatan dan sesudah
perbuatan.
1.Macam yang pertama : muhasabah diri
sebelum perbuatan yaitu seorang hamba melihat awal kemauannya, dan jangan
bersegera beramal hingga jelas perioritas amalannya. Al Hasan berkata : Allah
memberikan rahmat kepada seorang hamba yang melihat tujannya, bila tujuannya
karena Allah dia melakukannya, dan bila tidak dia mengakhirkannya.
2.Macam yang kedua : muhasabah diri setelah
perbuatan
Cara bermuhasabah diri
Imam Ibnul Qoyyim RA menyebutkan bahwa muhasabah diri dapat dilakukan
dengan :
Memulai dari melihat perbuatan-perbuatan yang wajib, bila dia
mendapatkan kekurangan maka usahakan memenuhinya.
Kemudian larangan-larangan Allah, bila dia mengetahui bahwa dia
telah berbuat satu dosa, maka tutuplah dengan taubat, istighfar dan kebaikan
yang dapat menghapusnya.
Bermuhasabah diri atas kelalaian, dan menutupinya dengan dzikir
dan menghadap Allah.
Bermuhasabah diri atas gerak-gerik anggota tubuh, ucapan lisan,
perjalanan kedua kaki, perbuatan tangan, dan pendengaran kedua telinga, apa
yang kamu inginkan dengan ini semua ? dan untuk siapa dia melakukannya ? dan
demi apa kamu melakukannya ?
Beberapa faedah muhasabah diri adalah :
1.Melihat aib diri sendiri, dan barang siapa
yang tidak mampu melihat aibnya sendiri maka dia tidak mungkin
menghilangkannya.
2.Bertaubat, menyesal dan berusaha mengganti
yang tertinggal dikala mampu.
3.Mengetahui hak Allah, karena dasar
muhasabah diri adalah bermuhasaba atas keteledorannya terhadap hak Allah.
4.Merasa banyak salah dihadapan Allah.
5.Mengetahui kebaikan Allah, ampunan, dan
rahmat-Nya terhadap hamba-Nya bahwa Dia tidak menyegerakan memberikan balasan
walaupun mereka telah berbuat kemaksiatan dan pelanggaran.
6.Mencoba menghilangkan ujub dan riya'
terhadap amalan.
7.Berusaha sekuat mungkin untuk taat dan
meninggalkan kemaksiatan agar mempermudah muhasabah.
8.Mengembalikan hak-hak pada pemiliknya, dan
meminta kerelaannya, dan berbudi baik, ini merupakan buah dari muhasabah yang
paling besar.
Mari kita lihat para kebiasaan sahabat Rasul ketika dahulu kala,
ØAbu bakar As shiddiq RA : dia banyak menangis, dan dia berkata :
menangislah kalian, bila tidak dapat menangis maka berusahalah menangis, dan
dia berkata : demi Allah saya lebih senang menjadi pohon yang dapat dimakan dan
dapat dijadikan tongkat.
ØUmar bin Al Khattab RA membaca surat At Thur dan ketika sampai
pada firman Allah yang berbunyi: “sungguh azab tuhanmu pasti terjadi” (QS. At
Thur: 7) dia menangis dan tangisnya semakin menjadi hingga dia jatuh sakit dan
dia selalu membiasakan itu. Suatu saat dia melewati ayat pada wirid malamnya
dan membuatnya takut, dia tinggal dirumah beberapa hari dan orang-orang
menjenguknya, mereka mengiranya sakit, dan pada wajahnya terdapat dua garis
hitam disebabkan menangis.
ØUtsman bin Affan RA bila dia berdiri diatas kuburan dia menangis hingga
jenggotnya basah, dan dia berkata : andaikata saya berada antara surga dan
neraka, saya tidak tahu kemana saya diperintahkan, maka saya akan memilih
menjadi debu sebelum saya mengetahui kemana saya akan kembali.
ØAli bin Abi Thalib RA : dia banyak menangis dan takut, dan banyak menghisab
dirinya. Dan ketakutannya yang paling besar adalah dari dua hal : panjang
cita-cita dan mengikuti hawa nafsu. Dia berkata : adapun panjang cita-cita akan
melupakan pada akhirat, dan adapun mengikuti hawa nafsu maka akan menutup dari
kebenaran.
Beginilah keadaan para salaf kita, mereka mendekatkan diri pada Allah
dengan segala ketaatan, dan berlomba-lomba dengan beragam perbuatan yang dapat
mendekatkan dirinya pada Allah, dan mereka menghisab dirinya atas keteledoran,
kemudian mereka merasa takut bila amalan mereka tidak diterima Allah. Sekarang bagaimana
dengan kita? Bagaimana dengan ibadah kita selama ini? Jangankan menangisi
kesalahan kita, untuk shalat ke masjid saja terkadang kita masih sulit, sedikit
beramal tapi panjang ceritanya, seakan-akan amal kita sudah pasti di terima,
karena itu marilah kita saling menghisab diri kita masing-masing sebelum kelak
Allah yang maha teliti akan menghisab semua amal kita.
“Gpp bi , cman mw ngasih tw tadi ada kakak kelas yg bisnis
travel mau nawarin kyk staditur gtu ke malaysia dan singapur bi.”
“Wah gtu ya? Staditurnya dalam rangka apa emang? Trus mw
kemana aja disana bang?”
“Nah mngkin cuman sekedar ngisi liburan kali , katanya sih
kunjungan ke unversitas-unversitas disana, trus sama bank-bank syariah disana
bi, gtu yang abang denger kali aja abang bisa lanjut S2 disana ”.
“ Hm, biayanya berapa bang?”
“Wah abang gk tau, gak ikut sampe abis sih, gak terlalu
tertarik. Kayaknya sih mahal jadi abang lngsung balik ke kamar”
“ Abang mw ikut?”
“ Wah Kalau ditanya ya maulah, hehe”
“ Ya udah , kalau abang mau ikut aja staditurnya”
“Haaaaaaaaaaaaa?”
Begitulah
sekilas percakapan yang kira-kira satu atau dua bulan lalu yang rasanya sulit
saya lupakan, mengejutkan, tidak percaya, aneh , janggal, haha itulah yang saya
rasakan setelah menerima jawaban abi di telpon, buru-buru saya iyakan dan tutup
telponnya agar abi tak berubah fikiran hhi , biasanya sih, abi pelit, gak
pelit-pelit amat juga sih , tapi cukup pelit kalau tentang hal-hal yang menurut
beliau tidak penting, misalkan saja ketika liburan semester satu kemaren, saya
dan kawan – kawan sudah mengatur rencana perjalanan dari palembang menuju
bandung, bahkan villa kawan di bandung sudah siap sedia, namun apa yang
terjadi? Abi tidak mengizinkan saya pergi, kesal sedih kecewa sudah pasti,
karena dari sekitar 8 orang kawan , saya sendiri yang tak jadi berangkat, sempat
berfikir mau “maksa” pergi dgn uang sendiri tapi tak sanggup, akhirnya saya
mengisi waktu libur saya di rumah paling jauh ke tempat kakek. Begitu juga
ketika ada wisata sekolah ke Bali, abi bahkan tidak pernah menggubrisnya.
Itulah sedikit dari “kepelitan” abi, ups cukup dah, ntar kalau di baca nya uang
jajan bulan depan bisa di stop lagi haha :D
Oke lanjut,
mendengar abi berkata, “ Ya udah kalau abang mau ikut aja staditurnya” seketika
itu juga jantung saya berdegup kencang , seakan-akan mau loncat keluar, bohong
banget –‘ , kenapa? Yah wajar saja, perjalanan dari palembang ke bandung yg
saya rasa biayanya tak terlalu mahal saja tak diperbolehkan, apalagi perjalanan
keluar negeri yang kata orang muahal dan tidak pernah terfikirkan juga ,
mengisi liburan semester pertama kuliah ke luar negeri, sesuatu yang aneh dalam
hidup saya selama ini. Abi memang aneh , jalan fikirannya kadang sangat sulit
di tebak, emang dukun mau baca jalan fikiran hha, Namun insting dari anak yang sering melawan
akhirnya keluar, wah jarang-jarang nih, kali aja abi lagi dapet rezeki,
bisnisnya lagi lancar, ada uang sekarung jatuh di belakang rumah, atau apalah
itu saya tak peduli, saya tutup telponnya dan buru-buru bertanya serta mencari
info tentang staditur itu.
Sekitar 2
minggu sebelum keberangkatan, paspor serta dokumen penting semua telah saya
urus, namun tiba-tiba ummi menelpon, “bang, ntar pas libur abang harus pulang
ke palembang ya, mw buat e-ktp, petugasnya gak mau ngurus satu-satu, semua
keluarga yg mw bwat ktp harus dateng biar ngurusnya sekalian”. Mampus,
bagaimana iniiii, bagaimana kalau gak jadi berangkat, yah nasib nasib , mungkin
memang tak pernah di takdirkan pergi liburan kali saya ini, begitulah fikirku.
Akhirnya saya dan kakak tercinta eh gak make tercinta ding, akhirnya saya dan
kakak saya yg bernama anide, “e” yang di
ujung bukan salah ketik tapi sengaja haha, kami pulang ke palembang untuk membuat e -ktp atau apa itulah yang menurut saya sangat
mengganggu. Jadwal saya berangkat ke
malaysia tanggal senin tanggal 30 januari, dan sampai sekitar tanggal 25
januari saya belum jelas akan tanggal berapa menyelesaikan e-ktp itu, di urus saja belum, apakah langsung selesai
habis di urus, kalau butuh beberapa hari gmana?? ya Allah akankah benar benar
di cancel perjalanan saya itu , kalau kalian jadi saya apa yg akan kalian
lakukan? Nangis ya? Saya gak yee :p haha,
namun ternyata malem nya kami mengurus e-ktp itu, dan ternyata lagi tak
perlu ditunggu sampai selesai, katanya sih makan waktu sekitar 4 bulan, buat
ktp apa mw renovasi rumah sih tu pak lurah sampai 4 bulan? Ntahlah bukan urusan
ku, yang jelas akhirnya aku jadi berangkat karena alhamdulillah tiket sudah
dipesan untuk tanggal 28 sehingga aku bisa segera kebogor dan tanggal 30 nya
aku terbang menuju kuala lumpur ^^
29 Januari
2012 malam ,di kota bogor,
Sibuk,
packing sana sini kayak orang mw pindahan, baju terbaik di siapkan , gimana
gak, pengalaman pertama keluar negeri boy hehe, dan akhirnya skitar jam 11 saya
putuskan untuk segera tidur karena pesawat nya dijadwalkan akan berangkat jam 09.00 , berarti
saya sudah harus tiba pukul 07.00 untuk check in di bandara soeta, dan dari bogor ke bandara memakan waktu
sekitar 2-3 jam menggunakan bus, berarti secara logika matematik, cuih gayanya
sok anak ipa hha, saya harus sudah berangkat jam 4 atau paling lambat jam 5 pagi
, yah kita lihat saja saya bangun jam berapa besok..
30 Januari 2012, Dini hari,
Allahuakbar
Allahuakbar, adzan magrib berkumandang, eh maksudnya azan subuh, berarti? Ini udah
mau jam limaaaa? Mandi gak ya? Rasanya sih sempet mandi tapi gak tw deh mandi
apa gak saya lupa, langsung siap-siap untuk berangkat, saya sms khalis, teman
satu asrama di STEI TAZKIA, kamarnya ada di lantai dua, nama lengkapnya
Nurcholis Majid, sang tokoh yang katanya liberal dan sedikit bermasalah, tapi
Insya Allah kawan saya gak kok , dia mewarisi kecerdasan sang tokoh tapi tidak
dengan liberalnya, sama-sama lulusan SMA membuat saya dengan khalis banyak
persamaan pemikiran, tapi jangan salah ilmu agamanya lumayan tinggi, fiqh
muamalah dikuasainya juga, begitulah sekilas ttg kawan saya yg sama-sama dapat
rezeki berangkat melihat negeri orang.
“ Lis, udah siap belum? Udah shubuh nih, berarti kita shalat
shubuh dlu disini baru berangkat kebandara.”
“wah bentar, lagi packing nih, kta berangkat abis shubuh juga
kan?”
“walah buruan kalau bisa kita gk usah ikt jamaah , kita
shalat di belakang aja berdua, jamaah juga kan hehe”
“oke oke , bentar bentar.”
Namun memang
takdirnya harus jamaah dengah syaikh ramadhan, salah satu dari skitar 20 an
syeikh syaikh dari Al-Azhar yang dikirim ke Indonesia untuk mengajar , dan
salah satunya berada di kampus kami ini, dan ternyata Allahuakbar, Allah maha
besar, sang syeikh membacakan salah satu surah di juz 30, juz 30 nya sih gk
masalah tapi yah surat nya pembuka juz 30 sih , udah ketebak kan? Yap An- Naba’
, hmm gak terlalu panjang sih cman 40 ayat , lumayan membuat saya dan khalis
tidak khusyuk shalatnya , keringat
mengucur, fikiran melayang layang ke bandara soeta, teringat perkataan kak
shutan sang pemandu perjalanan atau biasa disebut tourguide ya, “kalau jam 7
tak di soeta, bisa bisa ketinggalan pesawat, kalau ada yang ketinggalan
daripada acara di cancel , ya jelas yg terlambat itu ditinggal. Assalamu’alaykum
warohmatullah wabarakatuh, akhirnya salam dan shalat pun selesai, melirik jam
tangan yg Insya Allah akan saya jaga sampai kapanpun, hadiah ummi pulang dari
umroh, kalau ilang kurang ngajar bner ya –‘ hha, pukul 05.30 WIB , teng tong mampus secara logika
matematik , brangkat sekrang berarti klw 2 jam nyampai jam setengah 8 ,
sedangkan dari kampus ke tempat pemberhetian bus harus naik angkot dlu, yah klw
hoki bisa 15 menit tapi kalau macet ampe stengah jam, berarti jam 6 baru bisa
berangkat, kalau jam 6 berangkat berarti paling cepat nyampai soeta jam 8 dan
kalau nyampe jam 8 bakal susah check in
dan dan dan haaaaa, pikiranpun kacau, “ lis ayo buruan, cepeeet” sahut ku dr
luar mesjid, tak sempet zikir , doa , al- ma’tsurat apalagi shalat sunnah, ya iyalah mana ada
shalat sunnah abis shubuh haha , dan benar sesuai perkiraan jam 6 kami baru
berangkat menuju soeta.
Di bus damri yang nyaman kurebahkan kepalaku
sejenak melupakan segala fikiran yang tadi terfikirkan, kenapa? Ternyata kak
shutan yang merupakan pemandu ikut sama-sama kami naik damri, saya kira dia
akan naik BMW nya langsung menuju bandara, ternyata dia peduli sama saya, eh
gak ding soalnya saya tidak sendiri sih, selain khalis ada 3 akhwat dan 3 orang
kakak kelas yang sama-sama naik damri dan yang lainnya berkumpul di bandara,
jadi secara logika dan bukan logika matematik tapi kali ini, ini sebuah logika
kepastian , “kalau kak shutannya aja di depan mata saya, kalau kami ditinggal
pesawat berarti dia juga ditinggal, kalau dia ditinggal gak mungkin tu
orang-orang keliling sendiri di negeri sebrang, berarti? Saya dan Khalis aman,
Alhamdulillah , terima kasih syaikh Ramadhan, loh? Hha maksud saya terima kasih
ya Allah, husnudzon saja , Allah sedang iseng terhadap kami, dan ternyta shalat
itu tak pernah menimbulkan masalah kok kawan, jadi bagaimanapun sibuknya
tetaplah shalat dalam keadaan apapun, tak percaya, mw contoh? Oke sekaran gini,
Kalaupun saya tadi memaksa untuk ttp terus ke bandara tanpa shalat shubuh dlu
karena yakin akan telat , apa yg terjadi? Yah saya Insya Allah tidak akan
telat, namun shubuh saya pasti ketinggalan, dan meninggalkan shalat malah
membuat hati tak tentram, dan kalau hati tak tentram biasanya sih akan bnyak
timbul masalah selanjutnya, yah itu hanya sedikit masukan, yang percaya
silahkan yang gak ya terserah, tulisan-tulisan saya haha.
Lanjut? Okee , waktu menunjukkan
pukul tujuh , kami baru separuh perjalanan, hm harusnya sih udah harus check in,
tapi namanya juga Indonesia, “budaya ngaret itu tetap berakar , nantilah saya
ceritakan bagaimana di singapur kalau
telat sdikit ya udah ditinggal, you know? time is money bro ;) . dan ternyata
teng nong muaceeet , haha tak taulah saya bakal jadi apa ini, klw semua di
cancel kyknya tidak ada orang yang patut di salahkan selain saya dan khalis,
tak perlu saya jelaskan mengapa, tapi yah iseng-iseng aja dah saya jelaskan
lagi , salah satu penyebab utama keberangkatan kami terlambat adalah krn saya
baru tiba di pemberhentian bus jam 6 , sedangkan kak shutan udah siap dari jam
5 , berarti saya dan khalis udah bisa disebut sumber kekacauan bila
kberangkatan ini di cancel toh? Hha peduli apalah pikir saya.
Pukul 08.00 WIB
kami belum tiba juga di bandara soeta, heeey
serius nih? Iya kawan, ini tak direkayasa, pesawat Internasional keberangkatan
09.00 WIB namun satu jam sebelumnya sekitar 8 orang penumpangnya masih di bus
damri? Mending kalau udah di bandara, tinggal checkin , ngurus imigrasi yg saya
rasa lumayan memakan waktu, tapi ini masih di bus, macet pula, apa kata dunia? Haha.
Begitulah semuanya mulai gelisah , saya ? yah dari awal udah gelisah sih jadi
biasa aja, gak tau malu bener yak , dan
bus pun tiba di bandara skitar pukul 08.30 WIB
Bandara Soekarno Hatta, Setengah jam
sebelum keberangkatan.
“dari mana saja kaliaaaan?” Sahut kakak2
yang saya lupa namanya dengan nada yang begitu kesal. Tak perlu saya jelaskan
lagi apa sebab kekesalannya , langsung berlari , mengurus pasport, menju petugas
imigrasi, apa yang kata orang “the power of kepepet” itu saya buktikan, padahal
ini pertama kalinya keberangkatan internasional saya, tapi rasanya dari satu
petugas ke petugas lainnya saya sudah biasa seakan akan tiap minggu keluar
negeri, dikarenakan mengejar waktu dan tepat jam 9 kurang satu menit kali ya, “maaf
mba pesawat lion air tujuan malaysia yang jam 09.00 gerbang mana ya?”, “gerbang
sana mas” (lupa nama gerbangnya :D ) tapi silahkan tunggu dulu karena
pesawatnya di delay , mngkin sekitar jam setengah 10 baru berangkat. “Subhanallah”
, maha suci Allah yang segala isi langit dan bumi ini berada di tangannya, baru
kali ini kata-kata “delay” menyejukkan hati haha, yah seketika hilang kekhawatiran
akan ditinggal pesawat karena satu kata “delay”. Satu kata yang sangat
mengesalkan, satu kata yang membuat kita bisa menunggu ntah berapa lama itu
kini makna nya berbeda yah begitulah, saya yakin semua ini sudah diatur dan di rekayasa
oleh sebaik-baik pengatur, tidak lain Allah S.W.T, tuhan semesta Alam, Allahuakbar.
Grup Matriks
Diruang tunggu saya bercanda bersama
khalis dan oh ya saya lupa mengenalkan, dari matriks ( anak STEI Tazkia
angkatan pertama yang masuk asrama di daerah darmaga terlebih dahulu, semester
3 baru kampus kami pindah ke Sentul) ada 5 orang anak matriks, itu yang ikhwannya, yang akhwat nya ada berapa ya, klw gak salah sih ada sepuluh atau sebelas atau dua belas atau tujuh puluh delapan orang ya tak taulah, waktu saya terlalu mahal untuk menghitung mereka satu persatu, wedew gayanya haha, nah inilah lima orang ikhwan itu, pertama namanya
langsung nama panggilan ajalah toh kalian juga tak peduli nama aslinya, biasa
di panggil kang reza, sudah pernah umroh, orangnya yah gtulah nurut sih, dan
dia punya suara yang bagus, tak heran menjadi vokalis utama grup nasyid
matriks, yang kedua namanya Haris, berasal dari keluarga militer, karena itulah
dia tertarik dengan dunia-dunia tentara, tapi posturnya,bukan maksud menghina
ya, “bukan tentara banget dah” hhe, agak gendut memakai kaca mata, macem
anak-anak culun disekolahan gtulah, kayaknya sih pinter, dan hobby nya suka
foto, tapi bukan di foto melainkan memfoto orang-orang, dan selanjutnya namanya
kasyfi, laki-lak keturunan arab, mukanya arab banget dah, sampai biasa di
panggil onta hha, biasa juga dipanggil kaspong karena dia juga akrab dengan
akhwat, asyik sih orangnya tapi rela bagi-bagi? Iklan banget yak –‘ Haha dan
keempat khalis dan saya sendiri sehingga kami disebut grup “matriks” kami
bercanda ria menunggu keberangktan yang sepertinya akan sangat menyenangkan. ^^