Kamis, 12 Juni 2014

Ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta vs Aksi Trisaka Jokowi-JK


Tergelitik untuk “ikut-ikutan” meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, tapi tentu mencoba untuk tidak terjebak dalam pragmatism dukung-mendukung salah satu calon, malu sama almamater cihuy, yah izinkanlah sebagai mahasiswa ekonomi mengkritisi paparan visi misi dan program kedua calon dari perspektif ekonomi tentunya. Masih jauh dari sempurna, dan belum tentu benar apa yang akan saya kritisi, tapi setidaknya ini bukti saya mencintai negeri ini, dan saya peduli siapa yang akan menjadi pemimpin saya setidaknya 5 tahun kedepan.

Dari berbagai sumber baik dari media massa dan www.kpu.go.id sendiri, saya menemukan visi dan misi kedua capres, tak akan dikritisi semua karena saya belum punya kapasitas untuk itu, tapi setidaknya mencolok untuk mengkritisi di bidang ekonominya, sebenernya ini sudah masuk ke program bukan lagi visi dan misi, karena sudah mulai rinci dan spesifik apa yang akan mereka lakukan di bidang ekonomi jika nanti terpilih memegang amanah sebagai presiden Republik Indonesia. Berikut program dari kedua calon , dimana pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta mereka sebut dengan Ekonomi Kerakyatan dan pasangan nomor 2 Jokowi-jusuf Kalla dengan sebutuan Aksti Trisaka.

Ekonomi kerakyatan versi Prabowo-Hatta:.

1. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran untuk program pembangunan pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, koperasi dan UMKM, serta industri kecil dan menengah.

2. Mendorong perbankan nasional dan lembaga keuangan lainnya untuk memprioritaskan penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai, industri kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil lainnya.

3. Mendirikan Bank Tani dan Nelayan yang secara khusus menyalurkan kredit pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi rakyat kecil, petani, peternak, nelayan buruh, pedagang tradisional dan pedagang kecil.

4.  Melindungi dan memodernisasi pasar tradisional serta mengkonsolidasi belanja negara untuk program pengembangan koperasi dan UMKM dan revitalisasi pasar tradisional.

5. Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW).

6. Mengalokasikan dana minimal Rp 1 miliar per desa atau kelurahan setiap tahun secara langsung, dan mengimplementasikan pula UU Tentang Desa.  Dana APBN yang disiapkan sebesar Rp 385 triliun selama tahun 2015 sampai 2019 bagi 75.244 desa atau kelurahan. Dana ini digunakan untuk program pembangunan pedesaan dan membangun infrastruktur untuk rakyat melalui 8 Program Desa.

Aksi Trisaka Jokowi JK
1.   Akan melakukan Pembangunan Sumber daya manusia, dengan menerapkan kebijakan Indonesia pintar, Indonesia kerja, Indonesia sehat, dan Indonesia sejahtera.

2.  Akan meningkatkan daya saing dan produktivitas rakyat, dengan membangun infrastruktur, pasar tradisional dan sentra perikanan, investasi mudah dan menarik, serta menjadikan BUMN sebagai agen pembangunan

3. Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi.

 Begitu garis besar dari program ekonomi kedua calon, nah saatnya berpendapat, kalau dari sudut pandang ekonomi konvensional kayaknya udah biasa dan gak terlalu penting lah ya, saya coba dari sudut pandang ekonomi islam. Salah satu yang menjadi ruh dari ekonomi islam adalah ingin menghilangkan dekapling , yaitu kesenjangan antara ekonomi moneter dengan ekonomi di sector riil, sehingga berbicara ekonomi islam adalah berbicara bagaimana meningkatkan ekonomi di sector riil yang sejatinya merupakan tonggak dan fondasi khusus dalam pertumbuhan ekonomi.

Dari pemaparan diatas saya rasa kedua calon sudah mengarahkan kepada pembangunan disektor riil , baik dari ekonomi kerakyatan Prabowo-Hatta maupun dari Aksi trisaka Jokowi-JK , namun apabila ingin membandingkan dalam hal siapa yang lebih mendekati kepada pembangunan di sector riil maka menurut saya Prabowo-Hatta mempunyai nilai lebih daripada jokowi – Jk, kenapa? Terbukti dari pemaparan program Prabowo-Hatta yang sudah spesifik sampai membahas dari pedagang sebagai individu, kemudian UMKM sebagai kelompok dalam usaha mikro sampai kepada perbankan yang biasanya hanya untuk kepentingan menengah keatas diarahkan kepada masyarakat menengah ke bawah. Sedang dari pemaparan dari Jokowi-JK yang memulai dengan pembangunan dari manusianya sampai kepada kedaulatan energy dan pangan masih terlalu melebar dan belum spesifik, padahal ini sudah masuk kedalam program yang seharusnya lebih spesifik, dan langsung bisa di implementaskan. Namun dari paparan diatas, Jokowi-JK masih dalam taraf sebuah konsep yang belum rinci. Sebenarnya salah satu point dari trisaka sudah mulai rinci mengarah kepada pembangunan di sector riil seperti pembangunan infrastruktur dan pasar tradisional, namun sayang tidak diikuti dengan 2 point lainnya yang masih dalam taraf normative, seperti ingin melakukan Pembangunan ekonomi mandiri, dengan memperbaiki kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan keuangan, serta penguatan teknologi, tapi sederhananya kedaulatan seperti apa yang diharapkan? Kedaulatan untuk rakyat atau untuk asing? Masih terlalu ambigu dan belum sampai ketaraf apa yang akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut, sehingga dari sisi kedekatan program ekonomi ke sector riil yang merupakan ruh dari system ekonomi islam satu point untuk Prabowo-Hatta.

eits tapi baru dari sisi ini ya, silahkan di analisa dari sisi yang lain, sehingga dengan cara sepert ini ini kita mengharapkan mempercepat proses demokrasi yang substansial  dan tidak terjebak dalam aksi dukung mendukung tanpa alasan yang jelas, apalagi yang mahasiswa, ehm malu sama almameter cuy hee, sekian. Wallahua’lam. 

Akulah Produk Privatisasi Pendidikan

Kini aku ingin berbicara tentang pendidikan, yap pendidikan di Indonesia, “Luar biasa” mungkin itu yang ingin aku katakan, pelajar yang tawuran hingga ditemukan tewas ditepi jalan sampai yang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sukacita mewarnai berita tentang potret gelap dunia pendidikan kita, belum lagi ditambah kontroversi Ujian Nasional  dan permasalahan lain yang sederhana seperti masih banyak anak-anak keluyuran yang tidak sekolah karena tidak punya biaya, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada Human Development Index dan kemampuan penguasan iptek serta persaingan global yang rendah dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Di tengah hiruk pikuk permasalahan itu mulai bermunculan sekolah-sekolah swasta yang menawarkan system pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri pada umumnya, tentu berawal dari kritikan terhadap system pendidikan negeri yang mengecewakan sehingga menghasilkan orang-orang yang tidak lagi percaya menempatkan anak-anaknya di sekolah negeri. Dan aku pun salah satu produk dari itu, yap produk dari privatisasi pendidikan.

Tidak bermaksud menyalahkan siapapun, sama sekali tidak, hanya mencoba menguraikan masalah yang ada sehingga menjadi bahan diskusi untuk menyelesaikannya, karena orientasi saya menulis adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengumbar masalah dan menikmatinya. Begitulah aku menyebut diriku produk privatisasi pendidikan, aku sekolah di Sekolah dasar Islam Terpadu atau kalau teman-teman kenal sekarang dengan SDIT, sekolah yang menawarkan system yang tentunya menambahkan nilai islam tapi tidak melupakan pelajaran dasar di sekolah negeri. Ku akui sekolah ini baik, dan aku pun tentu harus bersyukur menjadi salah satu dari anak-anak yang merupakan produk dari “SDIT” , namun mengapa aku harus sekolah di SDIT kalau ada sekolah negeri? Kalau memang biayanya murah pun tak mengapa, tapi itu tidak mungkin, sekolah swasta tentu relative lebih mahal karena harus membiayai dirinya sendiri, berbeda dengan sekolah negeri, tapi lagi-lagi kenapa harus ada sekolah ini? Kenapa harus ada SDIT dan sekolah-sekolah swasta lain baik berideologi islam maupun agama lain di negeri ini? Ini pertanyaan yang harus kita jawab.

Sederhananya seperti yang aku katakan di atas, banyak orang-orang yang kecewa akan pendidikan yang diberikan kepada Negara sehingga rela membayar mahal untuk masa depan anaknya yang lebih baik, salahkan orang tua itu? Tentu saja itu hak mereka untuk memilih, lalu salahkah para pembuat dan pendidik di sekolah swasta yang seakan mengambil kesempatan dari permasalahan ini? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu karena justru mereka memberikan tawaran dan solusi dari permasalahan yang ada, lalu pemerintah kah yang salah membiarkan sekolah-sekolah swasta itu bermunculan ? tentu tidak, karena ini bukan Negara sosialis yang semua berada ditangan pemerintah. Lalu siapakah yang salah? Oke mungkin aku berani berkata yang salah adalah orang-orang yang diam dan membiarkan dunia pendidikan kita terus seperti saat ini!

Aku tak ingin diam tentunya lewat goresan ini aku menuangkan pemikiran ku, pertama secara umum aku tak sepakat dengan adanya privatisasi pendidikan, walaupun aku produk dari itu, tapi menurutku ada yang salah dalam hal ini. Pendidikan adalah hak setiap orang di suatu Negara, sehingga urusan yang merupakan hajat hidup orang banyak seperti ini adalah tugas Negara untuk melakukannya, mutlak tugas Negara, tidak bisa ditolerir sehingga apabila dibiarkan maka tentu masuk keranah bisnis dimana uang berbicara, untuk Negara berkembang seperti Indonesia akan sangat merugikan dimana masih banyaknya anak-anak yang tidak dapat menempuh pendidikan tersebut. Namun pendapat ini akan efektif jika  system pendidikan sudah established atau sudah mapan, sekali lagi, argument saya ini akan saya pertahankan secara berdarah dan mati-matian apabila system pendidikan di Indonesia sudah established, namun melihat kondisi sekarang maka jelas system pendidikan kita yang belum mapan inilah yang harus menjadi konsen utama kita.

Masuk ke system pendidikan kita, tidak akan aku uraikan terlalu banyak, hanya beberapa potongan dari pokok permasalahan yang sempat aku tulis dalam sebuah paper ilmiah, permasalahan pertama dan utama adalah dikotomi pendidikan antara agama dan Negara, tercermin dengan adanya sekolah umum dan sekolah agama atau pesantren sehingga seolah-olah kita dibebaskan untuk memilih, mau menjadi ustadz di masjid namun tidak faham realita sosial, atau mau menjadi seorang pengusaha , politikus ataupun advokad tapi jauh dari nilai nilai agama. Tentu ini masalah utama yang menyebabkan lahirnya sekolah sekolah swasta seperti Sekolah Islam terpadu untuk agama islam dan sekolah-sekolah yang berideologi non islam yang banya saya temukan, tapi tak bisa juga saya pungkiri, kualitas dari lulusan-lulusan sekolah swasta ini justru yang menonjol , khususnya di sekolah yang non islam, dimana kalau saya ikut perlombaan matematika atau sains mereka yang menguasai mayoritas panggung pemenang itu adalah yang kulitnya putih dan sipit-sipit kalian taulah siapa mereka, walau kadang aku sempat berada diantara mereka tapi ini tetap menjadi hal yang menyebalkan bagiku.


Menarik membahas tentang dikotomi pendidikan di Indonesia saat ini, dimana ini merupakan sebuah efek dari ketegangan hubungan antara Negara dan agama di Indonesia, tapi mungkin tidak akan masuk ke ranah itu karena sudah ada bahasan tentang hal ini yang ditulis oleh salah satu tokok politik di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi sehingga munculnya privatisasi tadi, sehingga kedepan masalah ini harus segera di selesaikan, pasca reformasi Negara ini menemukan bentuk ideal hubungan antara Negara dan agama, tidak ada lagi ketegangan disana, panggung legislative menjadi tempat peperangan yang di halalkan saat ini, maka tinggal membuat undang-undang terkait hal ini dan memperjuangkannya di panggung legislative, sehingga kedepan , pendidikan di Indonesia semakin menuju kearah yang lebih baik, salah satu yang utamanya menghilangkan dikotomi pendidikan yang ada seperti saat ini, ah aku menantikan saat itu tiba, saat Indonesia memimpin peradaban dunia dengan manusianya yang berwawasan namun tetap berakhlak mulia. J

Kebutuhan Sang Manusia

Asfahani berpendapat bahwa kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis dan spiritual, dimana kebutuhan fisiologis adalah seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal yg merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yg umum kita kenal dengan kebutuhan primer, namun di dalam kebutuhan fisiologis ini sang ulama juga menambahkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan kebutuhan primer setiap manusia sama pentingnya seperti kebutuhan primer lainnya. lalu yg dimaksud dengan kebutuhan spritual Asfahani berpendapat bahwa manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan yg bersifat ketuhanan , atau kebutuhan untuk dekat kepada tuhannya, yaitu Allah S.W.T dalam konteks kita sebagai muslim tentunya.

Dari pendapat ulama di atas ada hal yg menarik menurut saya, seperti mengapa pernikahan oleh Asfahani disamakan dengan kebutuhan primer? sampai benarkah seseorang membutukan kemampuan spiritual? Bukankah nyatanya ada orang-orang yg tidak bertuhan atau beragama hanya sebatas identitas tapi hidupnya nyaman-nyaman saja bahkan tak sedikit yg hidupnya sejahtera, mengapa seperti itu? Apakah Asfahani salah mendeskripsikan kebutuhan manusia yg memang beragam macamnya di dunia ini?

Sebelumnya kita kesampingkan pengertian fisiologi dan spiritual secara tekstual, Dalam pandangan saya, Asfahani memapakarkan kebutuhan manusia dengan baik, namun apabila ada hal2 yg tidak sesuai dengan diatas maka pasti ada yg salah dengan manusianya. Kita coba analisis perlahan apa yg dikatakan Asfahani terkait kebutuhan manusia, dari kebutuhan fisiologis berupa makanan, apakah ada yg di dunia ini tidak butuh makan? Saya rasa semua butuh, apabila tidak maka itu tidak masuk kedalam jenis manusia yg kita kenal dan di paparkan oleh Asfahani, lalu pakaian dan tempat tinggal? Saya rasa sama dengan makanan tadi, lalu beranjak ke pernikahan? Apakah semua butuh pernikahan? Manusia normal tentu membutuhkan ini, untuk dirinya dan juga untuk keberlangsungan umat manusia, hanya waktu dan kondisi munculnya kebutuhan ini yg berbeda dan tidak sama, ada yg cepat ada yg lambat. Terkait dengan kosa kata “pernikahan” itu merupakan sebuah ungkapan dalam islam yang indah, kita tidak perlu berdebat dengan ini, karena pada dasarnya kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis, apabila kebutuhan ini tidak dirasakan atau objeknya berubah maka sudah tentu kita akan golongkan kepada seseorang yang mempunyai kelainan dan lagi-lagi berarti ada yang salah dengan manusia tersebut.

Sampai disini tidak ada masalah, lalu ketika berbicara kebutuhan spritual, apakah semua manusia butuh ilmu pengetahuan atw sekarang yg kita kenal dengan pendidikan ? Tentu butuh tapi dalam kondisi yang ideal, bagaimana yg saya maksud dalam keadaan ideal? Yaitu seseorang yg telah menyelesaikan kebutuhan fisiologisnya, sehingga selanjutnya dia akan mencari utk memenuhi kebutuhan spritualnya.

Sederhananya begini, seseorang yg sudah punya makanan, rumah dan pakaian tentu akan lebih leluasa dalam menggapai pendidikan yg layak untuk dirinya, sehingga tak heran kalau kita melihat banyak anak2 yg tidak sekolah karena pada dasarnya kebutuhannya akan makanan, rumah atau pakaian belum terselesaikan, sederhananya lagi bagaimana mau sekolah sedangkan utk makan esok saja belum jelas? Lebih baik saya mengamen sehingga esok hari masih bisa bertahan hidup, begitulah didalam alam bawah sadar mereka yg tinggal di jalanan. Sehingga apabila kebutuhan fisiologisnya saja belum terpenuhi maka akan sangat jauh untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Yang menarik adalah mengapa Asfahani meletakkan kebutuhan akan pernikahan sama dengan kebutuhan primer lainnya?  di atas saya berkata bahwa kebutuhan spiritual akan timbul ketika kebutuhan fisiologis terpenuhi, sehingga ketika kita sudah memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan pada dasarnya kebutuhan kita selanjutnya adalah pernikahan sebelum ilmu pengetahuan, apabila merujuk kepada urutan dari yang ashafani utarakan, Lalu Bukankah sebagian dari kita masih mengenyam pendidikan ketika belum menikah? yap saya pun seperti itu, tapi ketahuilah, bahwa pendidikan yg kita emban sekarang tidak sepenuhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yg dimaksudkan Asfahani di atas, banyak dari kita yang saya yakin paradigmanya dlm menuntut ilmu adalah agar saya bisa bekerja atau bisa mendirikan usaha agar saya bisa melanjutkan hidup, dan sebagian besar orang tua pun menyekolahkan kita atas dasar itu, agar kita bisa hidup mandiri, dan ini bukankah kebutuhan ilmu pengetahuan yg di jelaskan Asfahani.

Semisal saya seorang yg insya Allah akan menjadi ekonom, kuliah saya tujuannya bukanlah dengan ilmu ini saya bisa melanjutkan hidup, ilmu saya sesungguhnya bukanlah untuk modal mencari kerja atw menciptakan pekerjaan dengan membuat perusahaan nantinya, itu hanya sebagian kecil dari substansi ilmu pengetahuan, tapi ilmu ekonomi yang saya punya pada dasarnya adalah untuk menciptkan sebuah kehidupan yang semakin mendekatkan diri kepada yang mempunyai jagat raya ini. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat menciptakan sebuah peradaban dan kehidupan untuk seluruh umat manusia yang lebih baik di masa depan. Karena apabila tujuan saya hanya untuk mencari kehidupan untuk diri saya sendiri maka ilmu pengetahuan hanya akan menjadi kebutuhan fisiologis sebelum pernikahan. Namun karena substansi dari ilmu pengetahuan adalah untuk peradaban yang lebih baik maka Asfahani meletakkannya setelah kebutuhan pernikahan terpenuhi, barulah pada saatnya semua ini berakhir kedalam kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kita telah selesai dengan urusan pribadi kita, telah selesai dengan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi untuk menciptakan peradaban yang baik, maka selanjutnya fokuslah untuk menggapai kehidupan akhirat mu. Begitu pesan yang saya tangkap dari sang ulama ini.


Sehingga selanjutnya adalah di bagian manakah kebutuhan kita saat ini? Apabila telah selesai dengan kebutuhan yang satu maka berarilah ke kebutuhan yang lainnya agar pada akhirnya kebutuhan kita hanya tersisia kepada kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. Wallahua’lam J