Sabtu, 05 Mei 2012

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%


Bab I dari Buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Penerbit : Pustaka Pohon Bodhi (Oktober 2007)

Terjemahan dari artikel : Larry Hannigan


sebuah dongeng sebelum memulai...

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%

Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan sekarang rencana barunya siap untuk dimulai.

Selama puluhan generasi, masyarakat terbiasa dengan sistem perdagangan barter. Seseorang akan menghidupi keluarganya dengan memproduksi semua yang mereka butuhkan ataupun mengkhususkan diri dalam perdagangan produk tertentu. Kelebihan dari yang dia produksi, akan dia tukarkan dengan kelebihan barang lain yang diproduksi orang lain.

Pasar setiap hari ramai dan bersemangat, orang-orang berteriak dan melambaikan dagangannya. Sebelumnya pasar adalah tempat yang menyenangkan, tetapi sekarang jumlah orang terlalu banyak, pertengkaran pun semakin banyak. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dan bercanda, sebuah sistem yang lebih baik mulai diperlukan.


Secara umum, orang-orang relatif bahagia, dan mereka menikmati buah dari hasil kerja keras mereka.

Di setiap komunitas dibentuk sebuah pemerintahan yang sederhana yang tugasnya menjaga agar kebebasan dan hak setiap anggota masyarakat dilindungi dan untuk memastikan bahwa tak seorang pun akan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan oleh siapapun juga.


INI ADALAH TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PEMERINTAH (GOVERNMENT) DAN SETIAP ANGGOTA PEMERINTAH DIPILIH SECARA SUKARELA OLEH ANGGOTA KOMUNITAS YANG ADA.

Jumat, 04 Mei 2012

Serumpun Tapi Tak Sama


(Catatan Perjalanan bag 2 ^^ )


“Kita berperang untuk kita, namun kita akan menggunakan akses dana Negara lain untuk membiayainya” – Meshulam Nahari ( Menteri Perekonomian Israel)
“Hancurkan kaum yahudi ya Allah sebagaimana engkau menghancurkan mereka dulunya di Benteng khaibar” - Abu Sulaiman (panglima hamas)
“Bergembiralah untuk syahid, wahai jiwa. Karena engkau akan dikaruniakan tubuh yang baru di hadapan rabbmu.” - Hasan ( wakil pimpinan pasukan hijau)
“Hari ini mereka telah merasakan sedikit ketakutan, seperti ketakutan yang mereka berikan kepada anak-anak, ibu-ibu dan saudara-saudara kita.” – Ismail Haniyah ( Perdana mentri otoritas Palestina)

        Begitulah sedikit cuplikan dari sebuah novel berjudul “The Gate of Heaven” karangan R.H. Fitriadi. Walaupun ini sebuah novel namun kisah ini didasari dari fakta akurat dan perkembangan harian di gaza. Lokasi tempat dan situasi kejadian seratus persen nyata. Sebagian nama pelaku benar adanya, dan tulisan ini juga mengarah kepada suatu kebenaran yang paling nyata. Terlepas kita mau percaya atau tidak, terlepas apabila sebagai anak ekonomi saya akan mengatakan bahwa ini hanya sebuah pernyataan agar membuat novel ini laku, seperti halnya apabila kalian juga telah membaca buku-buku karya Zaynur Ridwan, salah satunya berjudul Novus Ordo seclorum ( Tatanan Dunia Baru) yang bercerita ttg berbagai konspirasi yahudi, dibuat menjadi sebuah novel agar lebih menarik, buku yang bahkan membuat kita merasa tak ada tempat lagi dibumi ini yang tidak terjamah oleh mereka, hingga tujuan akhirnya adalah membuat dunia baru di bawah kekuasaan mereka. Kita bisa percaya atau tidak, namun saya rasa hal-hal seperti ini perlu untuk kita ketahui kawan, karena apa? Tak lain adalah mereka adalah salah satu musuh utama kita sebagai umat islam, bagaimana mungkin kita akan berperang kalau kita tidak mengetahui kekuatan lawan? Dalam permain catur itu, yang paling hebat merancang strategi belum tentu dialah yang menang, namun siapa yang bisa membaca pergerakan lawan, lalu dapat meredamnya sudah bisa di pastikan dia tidak akan kalah. Mengerti maksudku? Jangan terlalu focus kepada kekuatan kita, pelajari juga kekuatan lawan, yah begitulah. Atau anda bukan orang muslim? Wah berarti tulisan ini bukan untuk mu kawan ;)
        “hey tih, kepalamu gak pusing”
        “ loh kenapa pusing? Buku ini gak seberat buku-buku fisika dasar kok”
        “gak makudnya bisa-bisanya disaat seperti ini baca buku.”
“lah terserah ane dong, yang jelas kan gak ada larangan baca, yang ada kan hanya larangan mengaktifkan hp dan apalah itu. Week “
        “yah terserah mulah” . sahut kawan ku kesal

        Diatas ketinggan puluhan ribu kaki dari dasar laut, diatas sebuah burung besi raksasa, di dalam pejalanan menuju negeri seberang, disinilah saya sekarang. Sedang menikmati penerbangan  Indonesia-malaysia, rasa kantuk yang tak kunjung datang memaksa ku untuk membuka sebuah novel tentang perjuangan saudara kita di palestina. Hanya sekadar mengisi waktu dan saya menikmati itu. Setelah jantung ini dibuat sedikit deg-degan ketika melakukan perjalanan dari bogor menuju bandara, ditengah-tengah pertanyaan “apakah saya jadi berangkat?, apakah saya akan ditinggal, dan bla bla, akhirnya begitulah semua berakhir gembira hho.  

Kamis, 19 April 2012

SYADDU RIHAL ILAL AQSHA


 Perjalanan Menuju Pembebasan Masjid Al Aqsha

Gaza.. Gaza.. Gaza..
Semuanya bermula
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Tanah para syuhada
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Kemenangan kan nyata
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Palestina merdeka
                Bersorak, bernyani, meloncat, sambil bertakbir  dan dengan suara lantang meneriakkan,
“Satu kata untuk palestina, BEBASKAN”
“Dua kata untuk palestina, BEBASKAN PALESTINA”
“Tiga kata untuk Palestina ,BEBASKAN PALESTINA ALLAHUAKBAR”
                 Begitulah kira-kira semaraknya acara penggalangan dana sekaligus pelepasan relawan berjumlah sekitar 8 orang ke palestina, bersama kurang lebih 8 orang teman-teman ku kami datang dari bogor untuk ikut andil dalam acara didepok itu.
                Izzatul islam, Arruhul jadid, dan beberapa grup nasyid lain ikut meramaikan acara tersebut, namun minus satu, sohaaaaaaaaaar gak adaaaaaaaa  , yap minus shoutul harokah, sibuk kali ya, andaikan ada wuiiih lengkap sudah , namun apalah daya Allah berkehendak mereka tak datang, namun izzis dan arruhul jadid pun rasanya sudah cukup membuatku dan teman-teman ku berkeringat karena loncat sana sini hahay mantep dah  
Ini Panggung Utama nya kawan,











Tau siapa orang tua disamping? Bukan , bukan kakek kakek nyasar , enak aja hha, beliau adalah taufik ismail bro, bersama dengan seorang pemuda dari palestin sedang membacakan puisi, udah tua namun semangat jihadnya luar biasa, salah satu yang dikirim ke palestina juga lo




Senin, 16 April 2012

Jenis-Jenis serta Dampak Negatif RIBA

-->

                 Terdapat beberapa jenis jenis Riba, yang Insya Allah akan coba saya bahas disini,
1.   Riba Al-Fadhl
  • Riba ini muncul karena adanya pertukaran dua barang sejenis dengan kelebihan/tambahan pada salah satunya.
  • Diskusi tentang riba al-fadhl muncul dalam hadis ketika emas, perak, gandum, roti, kurma dan garam ditukar di antara barang tersebut harus dilakukan saat itu juga serta harus sama dan sejenis.
2.   Riba An-Nasi’ah
  • Berasal dari kata nasa’a yang berarti menunda atau menunggu.
  • Riba Nasi’ah adalah riba yang timbul karena adanya tambahan dari nilai premium yang diperjanjikan karena terjadi penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.
  • Riba ini merupakan tambahan atas pinjaman.

Namun terdapat sedikit perbedaan pendapat, yah disini perlu saya jelaskan perbedaan dalam fiqh muamalah itu sering terjadi tapi Insya Allah semuanya berasal dari sumber yang sama yaitu Al-Quran dan Al Sunnah.
Ada juga yang membagi RIBA menjadi 2 garis besar dulu baru kemudian di jelaskan lebih rinci lagi agar lebih, misalkan saja yang terdapat dalam buku “Bank Syariah dari teori Ke praktik” karya DR.M.Syafii antonio, beliau membagi RIBA menjadi
Ø  Riba utang piutang, terdiri dari :
          Riba qardh: suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang, contohnya Bunga.
          Riba Jahiliyah : utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

Di Balik Sudut Kecil Kota Jakarta



            Magrib yang kelam di kota bogor, kota yang disebut kota hujan ini benar benar kota hujan, setelah hampir seharian mendung, sang awan menumpahkan juga isi perutnya ketika azan magrib berkumandang. Deras, deras sekali sampai sampai dapat membuat alasan untuk tidak shalat kemasjid namun tetap saya lakukan, menerjang badai dan hujan untuk berjalan menuju masjid , ya iyalah orang jarak kamar ke masjid hanya beberapa langkah hehe, namun satu yang kufikirkan jadikah aku pergi malam ini? Menghapus lelah dan penat sejenak kehidupan keras di asrama dengan bermain main kerumah seorang teman liqo di jakarta. Setelah shalat isya akhirnya kami putuskan untuk tetap pergi karena nampaknya hujan sudah mulai berganti dengan gerimis. Setelah sedikit beres beres, kami berangkat menuju stasiun, lalu naik kereta menuju keramat jati, jakarta timur, (kalau gak salah). Sampai di stasiun keramat jati kami naik angkot 2 kali lalu sampailah kami di rumah saudara saya itu.
 sederhana, tak terlalu besar, sedikit berantakan,  kertas disana sini, bahkan terkesan sempit karena banyak barang-barang , waduh jujur amat yak , tapi ada perasaan aneh yang saya rasakan ketika memasuki rumah tersebut, sebuah kerinduan yang ntah datang darimana, pikirian saya melayang jauh menuju pelabuhan merak lalu menyebrangi selat sunda hingga sampai di pelabuhan bakauheni di lampung, terus berjalan hingga melewati palembang terus mencapai daerah jambi lalu naik ke gunung kerinci terus turun lagi, bermain main di kebun tehnya, sungguh tak jelas mw kemana,  belum belum, fikiran saya terus ke ibukota sumatera barat, masuk kota padang sampai di sebuah perumahan bernama belimbing, Jeruk 3 nomor 6, memasuki rumah yang sederhana , perkarangannya, dindingnya sampai bau tanah tempat saya sering bermain kelereng pun rasanya masih jelas terbayang, rumah tempat aku menghabiskan masa kecil ku selama kurang lebih 5 tahun, indah ,tenang dan damai begitulah yang kuingat dari rumah ku itu dulu.
“Eh tih, itu kue nya di makan,” kata kawan ku itu sambil menyodorkan sepiring berisi kue2 kecil. “yoi , makasih makasih, gak usah repot-repot, yang ada keluarin aja semua,” jawabku dengan penuh percaya diri haha. Pandangan ku kembali menyapu ke seluruh ruangan, berantakan tapi damai, rasanya seperti kembali kemasa-masa itu, sungguh kerinduan yang tiba2 menusuk. Lalu melihat adik-adiknya yang masih kecil , gemes dah, dan akhirnya pandangan ku tertuju ke sebuah kertas iklan, yah kurang lebih seperti brosur gtulah, ketika ku baca judulnya sangat menarik, mau tau ya? Gak mau? Ya udah siapa juga yang peduli haha.
“Hidayat-Didik, Ayo bereskan jakarta” begitulah, sebentar lagi pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI JAKARTA. Aku baca brosur ttg riwayat pendidikan dan organisasi ke2 orang tersebut, menarik dan sedikit menyita perhatianku, setelah selesai membolak-balik brosurnya kututup dengan berdoa untuk kemenangan pak hidayat ini, semoga pak hidayat menang dan partainya berkuasa sehingga islam kembali berjaya di negeri ini amin. Malah kampanye –‘ haha bodo amat, terserah saya dong,  lalu penasaran aku bertanya, “orang tua antum mana?” , “belum pulang, lagi rapat kayaknya” , jawabnya. mendegar itu aku langsung tersenyum, kayak abi  buanget, malem2 belum pulang, rapat teruuus, gak sudah sudah memikirkan umat haha. Lalu tak lama kemudian orang tuanya pulang, dan tak selang beberapa menit sudah keluar lagi, oalah sibuk amat ni orang, pikirku, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, penasaran aku keluar dan ternyata apa yang sedang beliau lakukan? Sedang menempel sebuah poster “Hidayat-Didik” ternyata, wah timses nih kayaknya hahay. Hingga akhirnya kawan saya tersebut berkata,
“eh tih yuk kita jalan , udah malem nih.”
“yang bilang siang siapa? –‘ , emang kita mau jalan kemana malem2 gini?” tanyaku
“ke Kalibata, kita tidur disana aja, gak enak disini, agak sempit dan lagi pada sibuk kayaknya.”
“loh , kenapa? Ane suka kok disni.”
“ya gak papa kita kesana aja .”
“woke ane ikut antum aja lah”
“sip lah.”

            Lalu menaiki motor sederhananya kami bertolak dari keramat jati menuju kalibata, berasama adek kecilnya yg bernama ibrahim, biasa di panggil aim, yah biasa panggilan imut seorang anak yang belum genap berumur 3 tahun itu. Saya penasaran apakah ketika umurnya sudah mencapai 40 tahun masih di panggil aim haha. Sejenak saya tinggalkan keluarga aktivis , wih aktivis, keren bener yak bahasanya, begitulah. Lalu sampailah kami di daerah kalibata, memasuki sebuah perumahan, dan saya membaca tulisan di gerbangnya, karena sudah gelap dan mata saya sedikit mengantuk kayaknya saya salah baca atau apa, kalau gak salah tulisannya seperti ini ,
 “RUMAH JABATAN ANGGOTA DPR-RI KALIBIATA JAKARTA”
??? ha serius nih? Ah kayaknya kawan saya ini salah masuk perumahan, atau memang mata ini minusnya semakin parah kali ya, tak taulah, dan akhirnya kami memasuki sebuah rumah , 2 tingkat , 4 kamar atau mungkin 5 lengkap dengan kasur empuk atw biasa di sebut springbed ya,  3 atau 4 kamar mandinya ya, ( maaf gak tau jelas, rumah orang uy haha) ruang tamu, ruang tengah, dapur , garasi dan ruangan2 kosong ntah apa gunanya kyknya sih untuk kantor atau ruang kerja, dan ada lagi ruangan untuk pembantu kayaknya di bagian dekat atap, yah gak gede dan mewah mewah amat sih, cuman mewah banget haha, pokonya jauh dari rumah yang sebelumnya,  tapi teng nong sepi luar biasa, disana cman tinggal seorang anak sma kelas 1 bernama hafid yang kyknya di tugasi untuk menjaga rumah tersebut, hampa, begitulah pandangan pertama ketika saya memasuki rumah tersebut.
            “ Kita nginap disini?” tanyaku
            “ yap, disini lebih luas”. Jawabnya
            “hm yah luas sih, tapi..”
            “kenapa ? ada yg aneh?”
            “ gak gak, emang ini rumah antum?” , Sungguh pertanyaan yang benar-benar tolol , udah jelas tulisannya rumah jabatan, ya jelas rumah dinas milik pemerintah --‘
            “ya bukanlah, “
            “Jadi orang tua antum anggota DPR?”
“Bukan – bukan, ada saudara aja, jadi rumahnya jarang dipakai, kalau ada tamu-tamu aja biasa di pakai”
            “ooh gitu,” kata ku seolah tak terlalu peduli.
 Tak ingin rasanya bertanya lebih lanjut masalah pribadinya, cukuplah aku tau malam ini akan menginap di rumah mewah. Ini mah rasanya bukan jadi kayak nginep di rumah kawan, tapi kayak pindah ke hotel, gak seru ah batinku.
“Eh tau gini kemaren pas ke jakarta ama anak-anak mau ke IBF , malemnya mending kami kesini aja ya?” aku memulai perbincangan lagi .
            “ Loh emang kalian gak jadi ke mesjid BI?”
“apaan, di kunci uy, kami agak kemaleman datangnya, heran ntah kenapa mesjidnya gak 24 jam, mungkin orang BI nyimpen duit jga di mesjid kali ya haha, akhirnya kami kerumah arif di bekasi” kataku
“Jadi mabitnya gak jadi?”
“Yah gtu dah,tapi Insya Allah niatnya udah, ttp dpt pahala lah hehe.”
“Yah kalian gak ngomong sih, ane waktu itu pas lagi ngumpul ama keluarga besar jadi gak bisa ikut.”
“Ya udahlah mw diapakan”

Begitulah, lain waktu saya pernah bersama sekitar 11 orang anak2 liqo juga pernah maen ke jakarta untuk mencari buku atau tepatnya menghabiskan uang, yang penting jelas dari pada menghabiskan uang untuk orang orang yang tak jelas mending beli buku, yang tersinggung tersinggunglah, karena sesungguhnya saya benar benar tak peduli haha, sempat terlantar malam harinya di jakarta karena tak ada penginapan, seru abiis tapi bukan waktunya membicarakan itu sekarang, kapan kapanlah kalau ada umur panjang :D
Lanjut , akhirnya malam itu kami habiskan waktu dengan mengobrol bersama, saya , kawan saya , dan seorang anak sma kelas 1 dan adek kecil berumur kurang dari 3 tahun di sebuah rumah yang saya rasa bisa diisi lebih dari 10 orang, sesekali bermain PS 2, bola tentunya, alhamdulillah saya menang beberapa kali, gak penting –‘ . Kemudian ketika jam menujukkan setengah satu pagi, kawan saya menuju kamar di lantai 1, dan berkata,
“Tih, kalau antum mw tidur dilantai atas aja ya,”
“Ah gampanglah, ntar ane lihat2, paling ane tidur di sofa ini aja.”
“janganlah, mending di atas aja.”
“ya ya”. Sahutku sambil membaca artikel di sebuah website.
Akhirnya aku naik keatas, melihat lagi 3 kamar besar lengkap dengan springbednya dan ac nya, sungguh menggiurkan , sayangnya dari 3 kamar itu saya tak menemukan tempat yang nyaman untuk tidur, gaya amat yak , padahal emang biasa tidur di lantai ni hehe, dan ujung-ujungnya saya tertidur di atas sofa bersama laptop yang menyala..
Pagi yang cerah, shalat subuh agak telat namun belum terlambat, pagi yang indah untuk jalan-jalan melihat perumahan mewah anggota DPR rasanya,
“eh , jalan-jalan yuk.” Ajakku
“kemana?”
“Muter-muter aja”
“oh ayok lah”

            Berkeliling melihat-lihat , yah tak perlu lagi ku jelaskan lagi , satu hal yang pasti dari setiap rumah dinas semua rumah sama bro, hanya di bedakan dengan nomor, penasaran aku bertanya lagi tentang mesjidnya, setelah melihat-lihat, afwan ini hanya pendapat pribadi ya,  yah cukuplah untuk dikatakan sebuah mesjid bagus, hanya kalau di fikirkan ini perumahan dinas DPR seharusnya mesjidnya bisa 200 kali lipat lebih bagus dari ini , berapa sih anggarannya tak akan melebih anggaran toilet di DPR kurasa?? haha, yah minimal 2 tingkat atau gmana kek, tapi mungkin yang buat juga mikirnya gini, “Berapa banyak sih anggota DPR yang mau shalat kemesjid?” jadi mungkin itu juga menjadi salah satu alasan sehingga mesjidnya tak terlalu besar dan mewah seperti halnya rumah rumah persinggahan mereka. Maaf pak bercanda :D
            Sempat mencicipi mesjidnya dengan shalat duha, dan berkeliling-keliling sendirian dengan motor dan sempat melihat cengiran satpam karena benar-benar keliling mencari rumah kawan saya itu. “Ni orang pasti baru dateng, daritadi muter muter kayak orang tolol,” begitulah yang saya fikirkan dari cengiran sang satpam itu haha. Rencanya saya mau diajaknya main ke TMII, tapi karena kayaknya hari udah siang akhirnya kami putuskan untuk balik kerumah kawan saya yang di keramat jati agar sorenya bisa balik ke asrama.
            Keramat jati,  sekitar pukul 14.00
Rumah sederhana itu kumasuki lagi, kali ini lebih terlihat lebih rapi,
            “Bentar ya ane mau kedalem dulu.” Sahut kawan saya
            “Eh ane mw rebahan nih, disini emang gak papa?” ketika itu sedang berada di ruang tamunya.
            “Hem, janganlah kita ke atas saja.”
            “Okeeh,” aku menurut sama tuan rumah tentunya.

            Lagi-lagi bagian atasnya , afwan kayak kapal pecah, eh tapi ini kawan ane sendiri yang ngomong :D, “benar-benar kayak kapal pecah ni rumah” begitu katanya. Aku hanya tersenyum, tak sedikitpun suasana ini membuatku tak nyaman, jujur justru aku merasa rileks berada disini, lalu aku merebahkan diri di kamarnya yang berisi sekitar 4 kasur sederhana yang disitu juga ada adek2nya yang laki-laki sedang khusyuk dengan laptopnya.
            Pulas hingga ketika ashar aku tak sempat kemasjid, karena sdikit terlambat, asik sih, rumahnya gue banget kayaknya haha, udah lama gak bertemu dengan suasana seperti ini sih, suara berisik adek-adek nya yang bermain , kadang ada suara anak perempuan yang menangis, pasti abangnya ada yang jahil, gak kayak saya yang tak pernah membuat adek nangis, boong banget haha , suara umminya yang lagi masak waaa kangen rumaaaah uy.
            Magrib,
Sedikit ada insiden, sendal gunung ane yang baru beli hilang bro hik hik , curhat nih bang? Haha. Gak sekedar info aja, ke mesjid jangan make sendal bagus, kecuali kalau udah ikhlas dan niat mau berinfak hehe, yah Insya Allah ikhlas lah kehilangan sendal itu, *ikhlas ngomong-ngomong, apanya yang ikhlas yak –‘ wkww,  hanya saja saya berfikir yah bayaran dari perjalanan yang menyenangkan ini rasanya pantas lah untuk sekedar kehilangan sendal gunung ;)
Ba’da isya,
Di mesjid yang sama, sendalnya masih tak ada ternyata, ooh masih ngarep toh –‘, ya iyalaahh wkwkw,          
“ayok tih kita siap-siap balik ke asrama” sahut kawan ku di jalan menuju rumahnya dari masjid.
“Yoi”. Jawabku santai
            Setelah pamitan dengan orang tuanya kami pun berjalan menuju angkot, sebagai cerita penutup, ada yang sedikit menarik di angkot, gak sengaja di tengah keramaian jakarta kami dapat angkot yang kosong, dan si mamang angkot yang kayaknya sudah tua dan bangka hha, gak ding tua aja gak make bangka, bangka itu kampung saya tempat yang indah yang tak bisa disangkut pautkan dengan ni abang angkot, apaan sih geje banget yak wkwk, dan kemudian dia tiba tiba nyeletuk,
“hmm, kalau dulu motor dan mobil seramai ini di jakarta pasti mau kampanye, sekarang mah rame terus.”
            Ya iyalah bang, namanya juga ibu kota, kalau papua kali dah. Tapi dalam hati hehe
“wah iya ya bang?” tanyaku pura-pura bego, nenek-nenek juga pasti tau klw jakarta padetnya minta ampun.
            “yah begitulah, gimana kalau ntar ada kampanye ya? Pasti lebih rame nih”
            “hha , iya mungkin gtu bang .” sahutku tak terlalu tertarik.
“eh ngomong-ngomong kalian ntar milih siapa? Sebentar lagi kan pemilihan gubernur kalian tinggal di jakarta kan?” . Si abang ini ngoceh lagi, tapi kali ini menarik kyaknya
            Saya biarkan kawan saya yang menjawab.
            “iya bang tuh di keramat jati.” Jawab temanku
            “Jadi kalian ntar milih siapa?” tanya nya lagi kayak badan survei aje
Saya tersenyum, gak tau dia nih bapak orang yang ditanya timses hidayat-didik wkwkw. Saya biarkan kawan saya yang menjawab,  ya iyalah masak saya yang mw jawab, milih kagak –‘
“kami kayaknya milih pak Hidayat pak” . sahut kawan ku,eh bntar, katanya tadi kami? Lu aja kali gw kagak. Haha
            “ooh wah hidayat, berarti ada kader PKS nih hehe” kata sang abang angkot nyengir
            “gak gak kami milih karena pak didik juga.” Kata kawanku lagi
Ehem ehem aku batuk yang tak perlu, “emang bapak milih apa pak?” tanyaku membalas pertanyaan si bapak karena kayaknya kwanku mulai terdesak dengan penyataan si bapak  :D
“hem saya ya? Sebenernya saya pada awalnya agak apatis dengan pemilihan ini. Yah rasanya tak akan ada yang jauh berubah siapapun pemimpinnya. Tapi kalau ditanya saya milih siapa saya ada 2 kandidat sih, yah kita kan negara demokrasi jadi bebas toh. Tapi ini saya baru nglihat-lihat aja belum terlalu yakin.”
            Iya iya, ni tukang angkot udah kayak pejabat yang birokrasinya berbelit-belit, ngomong muter muter jawab aja langsung woy hha ,
            “yang pertama saya kayaknya lebih condong ke jokowi, karena melihat solo sekarang kayaknya ada kemajuan, orangnya juga merakyat, sering  kemasyarakat tanpa ada pengawalan , yang kedua kayaknya faisal.”
            “Oh gitu ya pak, ya ya ya betul juga.” Jawab ku seolah olah sependapat dengan pernyataan si bapak angkot, tak taunya dia kalau-kalau preman di pasar itu anak buah jokowi semua, sama halnya dengan partai “sensor” yang dimana mana banyak preman menjadi anggota partai mereka, jadi ya wajar aja dia gak bawak pengawal, memang udah pengawal semua di sekitar dia, paling cuman mau nyari muka, astaugfirullah jadi seudzon dah ama jagoan si supir angkot ini haha . yah ini juga berbicara berdasarkan fakta yang banyak saya temui kok. Dan bolehlah  saya menshare ini untuk kalian gratis silahkan di baca wahai para pemuda-pemudi islam 
http://www.shoutussalam.com/read/in-depth/12737/di-balik-pencitraan-dahlan-iskan-dan-jokowi
wallahua’lam , kebenaran hanya Allah yang tau, cukuplah bangsa yahudi terkutuk itu mencampuri urusan negara kita, Demi Allah saya tidak rela bila negara ini benar benar di pimpin seorang yang ada hubungan dengan yahudi.
            Tapi yang pasti pelajaran yang saya dapat, rakyat itu cinta apabila merasa pemimpinnya itu benar-benar peduli, tak perlu ribet-ribet mengurusi korupsi, tak perlu bersuara keras untuk menentang kenaikan BBM sehingga bakal di keluarin dari koalisi, sekedar main – main kepasar aja mereka udah seneng, apalagi kalau dikasih "oleh-oleh sedikit" , Eh eh ngawur –‘ haha. Begitulah dan akhirnya saya kembali ke asrama dengan perasaan yang bahagia karena banyak mendapat pelajaran dari perjalanan singkat ini, keserdahanaanmu, ketenanganmu,perkataan dan candamu sungguh menjadi pelajaran, terimakasih kawan, sungguh aku mencintaimu karena Allah ya akhi ^^


Senin, 26 Maret 2012

Hisablah dirimu sebelum dirimu dihisab



Umar bin Al Khattab berkata : “hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyii dari kalian.”

Saudaraku sekalian, pernahkah kita menyendiri dan menghisab apa yang telah kita katakan dan kita perbuat ? pernahkan kita satu hari menghitung keburukan kita sebagaimana kita menghitung kebaikan ? bahkan apakah kita pernah mengkhayal tentang ketaatan kita yang kita banggakan ? bila kita mendapatkan bahwa kebanyakan dari amalan kita itu dipenuhi dengan riya' lalu bagaimana mungkin kita dapat bersabar pada keadaan seperti ini, sedangkan perjalanan hidup ini selalu penuh dengan liku liku dan godaan, bagaimana mungkin kita akan menghadap Allah sedangkan kita dipenuhi dengan beban dan dosa-dosa ? Karena itu marilah kita mulai berbenah diri , salah satu caranya dengan muhasabah diri sendiri.

Beberapa macam muhasabah diri
Muhasabah diri terbagi menjadi dua : sebelum perbuatan dan sesudah perbuatan.
1.      Macam yang pertama : muhasabah diri sebelum perbuatan yaitu seorang hamba melihat awal kemauannya, dan jangan bersegera beramal hingga jelas perioritas amalannya. Al Hasan berkata : Allah memberikan rahmat kepada seorang hamba yang melihat tujannya, bila tujuannya karena Allah dia melakukannya, dan bila tidak dia mengakhirkannya.
2.      Macam yang kedua : muhasabah diri setelah perbuatan


Cara bermuhasabah diri
Imam Ibnul Qoyyim RA menyebutkan bahwa muhasabah diri dapat dilakukan dengan :
  • Memulai dari melihat perbuatan-perbuatan yang wajib, bila dia mendapatkan kekurangan maka usahakan memenuhinya.
  • Kemudian larangan-larangan Allah, bila dia mengetahui bahwa dia telah berbuat satu dosa, maka tutuplah dengan taubat, istighfar dan kebaikan yang dapat menghapusnya.
  • Bermuhasabah diri atas kelalaian, dan menutupinya dengan dzikir dan menghadap Allah.
  • Bermuhasabah diri atas gerak-gerik anggota tubuh, ucapan lisan, perjalanan kedua kaki, perbuatan tangan, dan pendengaran kedua telinga, apa yang kamu inginkan dengan ini semua ? dan untuk siapa dia melakukannya ? dan demi apa kamu melakukannya ?


Beberapa faedah muhasabah diri adalah :
1.        Melihat aib diri sendiri, dan barang siapa yang tidak mampu melihat aibnya sendiri maka dia tidak mungkin menghilangkannya.
2.        Bertaubat, menyesal dan berusaha mengganti yang tertinggal dikala mampu.
3.        Mengetahui hak Allah, karena dasar muhasabah diri adalah bermuhasaba atas keteledorannya terhadap hak Allah.
4.        Merasa banyak salah dihadapan Allah.
5.        Mengetahui kebaikan Allah, ampunan, dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya bahwa Dia tidak menyegerakan memberikan balasan walaupun mereka telah berbuat kemaksiatan dan pelanggaran.
6.        Mencoba menghilangkan ujub dan riya' terhadap amalan.
7.        Berusaha sekuat mungkin untuk taat dan meninggalkan kemaksiatan agar mempermudah muhasabah.
8.        Mengembalikan hak-hak pada pemiliknya, dan meminta kerelaannya, dan berbudi baik, ini merupakan buah dari muhasabah yang paling besar.


Mari kita lihat para kebiasaan sahabat Rasul ketika dahulu kala,
Ø  Abu bakar As shiddiq RA : dia banyak menangis, dan dia berkata : menangislah kalian, bila tidak dapat menangis maka berusahalah menangis, dan dia berkata : demi Allah saya lebih senang menjadi pohon yang dapat dimakan dan dapat dijadikan tongkat.
Ø  Umar bin Al Khattab RA membaca surat At Thur dan ketika sampai pada firman Allah yang berbunyi: “sungguh azab tuhanmu pasti terjadi” (QS. At Thur: 7) dia menangis dan tangisnya semakin menjadi hingga dia jatuh sakit dan dia selalu membiasakan itu. Suatu saat dia melewati ayat pada wirid malamnya dan membuatnya takut, dia tinggal dirumah beberapa hari dan orang-orang menjenguknya, mereka mengiranya sakit, dan pada wajahnya terdapat dua garis hitam disebabkan menangis.
Ø  Utsman bin Affan RA bila dia berdiri diatas kuburan dia menangis hingga jenggotnya basah, dan dia berkata : andaikata saya berada antara surga dan neraka, saya tidak tahu kemana saya diperintahkan, maka saya akan memilih menjadi debu sebelum saya mengetahui kemana saya akan kembali.
Ø  Ali bin Abi Thalib RA : dia banyak menangis dan takut, dan banyak menghisab dirinya. Dan ketakutannya yang paling besar adalah dari dua hal : panjang cita-cita dan mengikuti hawa nafsu. Dia berkata : adapun panjang cita-cita akan melupakan pada akhirat, dan adapun mengikuti hawa nafsu maka akan menutup dari kebenaran.


Beginilah keadaan para salaf kita, mereka mendekatkan diri pada Allah dengan segala ketaatan, dan berlomba-lomba dengan beragam perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya pada Allah, dan mereka menghisab dirinya atas keteledoran, kemudian mereka merasa takut bila amalan mereka tidak diterima Allah. Sekarang bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan ibadah kita selama ini? Jangankan menangisi kesalahan kita, untuk shalat ke masjid saja terkadang kita masih sulit, sedikit beramal tapi panjang ceritanya, seakan-akan amal kita sudah pasti di terima, karena itu marilah kita saling menghisab diri kita masing-masing sebelum kelak Allah yang maha teliti akan menghisab semua amal kita.

Wallahua’lam bisshawab