Senin, 26 Mei 2014

Politik, off the record yaa..



“Ketika Islam beribadah maka akan dibiarkan, ketika islam berekonomi maka akan diawasi, ketika islam berpolitik maka akan di hancurkan sampai keakar-akarnya”, begitu kata Mohammad Natsir.
Politik? Yaa sekali-kali menulis politik boleh lah ya, walaupun kayaknya banyak yang tak suka politik, banyak yang bilang politik itu keji dan kotor, sampai orang-orang yang kerjaannya memaki-maki politik dengan system serta semua dinamikanya seolah-olah tau luar dalam padahal mungkin tau kulitnya saja tidak, yah selamat anda telah termakan tipuan-tipuan sang politikus kotor sehingga anda tidak akan tertarik kepada politik jadi dia kekurangan saingan deh , tapi ya sudahlah. Saat ini hanya ingin membagi pandangan ku terhadap politik, semoga menarik.
Politik bagiku tak ubahnya seperti ilmu pengetahuan yang lain, seperti ekonomi, hokum, sampai ilmu fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Mereka suci, mereka bersih, mereka ada untuk menunjang peradaban dan kehidupan umat manusia di dunia, tanpa perkembangan semua ilmu itu maka tidak berkembang juga kualitas kehidupan kita, benar kalau ada orang didalamnya yang keji dan kotor, benar kalau ada orang yang menguasai ilmu-ilmu itu digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga seolah-olah kita tak sadar membenci ilmu-ilmu yang suci itu, sesederhana itu kesalahanfahaman sebagian besar orang-orang yang memaki-maki politik menurutku.
Tapi tidak bisa dipungkiri, ada sedikit yang berbeda dalam ilmu ini, “Fatih, ini off the record yaa” , kata sang jendral kepadaku, begitu kerap kali kalimat yang kutemui ketika dalam proses pembelajaran ilmu ini, tak semua hal orang perlu tau, tak semua hal perlu dikatakan, apa yang terucap di mulut memang kadang berbeda dengan yang di hati, tidak berarti bohong walau kadang kebohongan itu tetap dilakukan sebagian orang, hah tidak sesederhana itu, ini semua hanya seni, sehingga bagi kalian yang tak biasa hanya akan menjadi penonton dan terdiam, tapi begitulah politik, seni untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan. Tapi catat, tujuannya adalah selalu mulia, selalu mulia, politik yang identic dengan kekuasaan adalah dalam rangka untuk mengatur hajat hidup orang banyak untuk menjadi lebih baik, itulah tujuan utama kita berpolitik, mulia bukan? Justru kalau mau fair aku bisa mengatakan berbeda dengan ilmu ekonomi yang aku kuasai, ilmu ekonomi diawali dengan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tercermin dalam selalu dimulainya mikro sebelum belajar makro, dalam sudut pandang ini individual sekali bukan?
Tapi politik dimulai dengan tujuannya yang mulia, namun jalan menuju kekuasaan itu crowded kawan, macet, penuh, sehingga orang-orang yang berniat baik tadi harus bersaing untuk menuju singgasana tersebut, dalam proses menuju singgasana inilah orang-orang yang mulai tak sabar akan menjadi sang pecundang yang melupakan tujuan awalnya tadi sehingga menghalalkan semua cara, orang-orang ini biasa kita sebut dengan orang-orang yang pragmatis, namun tidak jarang juga orang-orang yang tak sanggup bertahan dalam persaingan itu mundur mengakui kekalahannya sambil memaki-maki dari luar medan perang, sehingga biasa kita sebut dengan orang-orang idealis, setidaknya mereka merasa seperti itu.

Karena itu menurutku keseimbangan dan integrasi sangat diperlukan disini, yap jadilah seseorang yang idealis namun tetap menikmati proses yang ada, sehingga kau akan menguasai seni berpolitik, yang terpenting adalah ingat tujuan mulia kita dalam berpolitik, mengatur hajat hidup orang banyak, sehingga ini adalah tugas mulia yang harus kita rebut, namun perkataan M. Natsir diatas tentu menunjukkan bahwa musuh kita nyata, bahwa dunia tau, kepemimpinan islam akan menghancurkan barat dengan hegemoninya, karena itu mereka selalu berusaha menghancurkan kita, ssst ini of the record yaa hee, okelah mungkin cukup dulu, lain kali mungkin menarik membahas demokrasi atau prabowo dan jokowi? J

Sabtu, 24 Mei 2014

Cinta, Kata ini yang sempat hilang!



Bismillahirrohmanirrohim
Lama rasanya tak bercerita, sudah terlalu lama diri ini disibukkan dengan aktivitas-aktivitas di luar sana sehingga membuatku jauh dari ini, ya jauh dari goresan tinta sejarah yang ingin aku hidupkan kembali, tiada maksud lain hanya ingin berbagi bahwa dunia ini tak sesederhana yang kalian bayangkan, lahir hidup mencari makan lalu berakhir di liang lahat, tidak, tidak hanya itu, ada banyak hal yang membuat dunia ini ada dan menarik, ada banyak tugas-tugas bumi dan langit yang harus kita emban, dan itu akan kembali coba kuuraikan lewat tulisan dan goresan-goresan yang entah sampai kapan habisnya.
Hari ini tepat dua hari sebelum aku melepaskan jabatanku sebagai presiden mahasiswa di kampusku, posisi ini mengantarkanku kepada sebuah tempat dan wadah yang membuatku semakin mengerti akan arti sebuah kehidupan. Posisi ini membuatku bertemu dengan bermacam-macam orang, dari orang-orang yang mempunyai sifat pengabdian dan ketulusan, sampai kepada orang-orang yang tak punya nilai-nilai kehidupan, pengemis yang hanya ingin meminta posisi, pendendam yang tidak pernah bisa menerima jalan takdir illahi, sampai kepada pecundang yang hanya tau akan kepentingan pribadi. Yah semua itu terekam di kepala ini, raut wajah kalian satu persatu, tidak akan pernah lupa, dan akan selalu ku kenang sebagai salah satu proses pendewasaan diri ini menuju pengabdian yang kekal abadi.
Dua hari menjelang aku akan mempertanggung jawabkan kepemimpinan ku selama ini, tentu hanya di dunia, belum di akhirat, aku tak tau apa yang akan terjadi nanti, apakah Lembar pertanggung jawabanku akan ditolak atau diterima, itu yang biasanya menghinggapi fikiran orang-orang sepertiku, tentu aku ingin semuanya lancar, tidak seperti presiden Habibie yang sangat kuhormati, kepandaiannya di bidang ilmu pengetahuan mungkin belum bisa mengantarkannya kepada sang politikus yang abadi, sehingga Lembar pertanggung jawabannya ditolak dan itulah yang tercatat dalam sejarah. Tidak, sama sekali tidak berniat untuk mengkritisi ataupun mencela habibie, karna saya tahu dari sekian kepemimpinan di negeri ini habibie lah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai islam dalam kepemimpinannya, dan itu juga mungkin yang membuat lembar pertanggung jawabannya ditolak, tapi apalah daya sejarah sudah mencatat seperti itu.
Namun disaat saat waktu luangku saat ini, dibuktikan dengan adanya waktu untuk diri ini kembali membuat goresan sebuah sejarah hidup, aku menemukan sesuatu dalam perenunganku, karena merenung akan membuatmu dapat menyerap energy dan ketenangan akan membuatmu menyimpan energy dan memberi adalah caramu menyalurkan energy, begitu sebuah buku yang kubaca mengatakan tentang proses perenungan, dan aku mulai bertanya apa yang kurang dalam kepemimpinan ku selama ini?
Aku tak ingin mengatakan refrensi utama pemikiran ku saat ini, karena kalian tidak perlu mengetahuinya, dan aku juga tidak perlu mencantumkannya karena ini bukanlah tulisan ilmiah, berbeda dengan tulisan-tulisan dan paper-paper ilmiah ku yang kutulis untuk memenuhi kewajibanku sebagai mahasiswa sampai kepada paper-paper iseng yang kutulis untuk mencari tambahan uang jajan, namun aku menemukan sebuah hal yag hilang, mungkin tidak hilang, hanya belum bisa aku keluarkan secara maksimal, “Cinta” , yah kata ini yang sempat hilang, kata inilah yang muncul dari sebuah perenungan dan pemikiranku saat ini.
Jangan menggangguku dengan persepsi kalian tentang cinta, karena bagiku ini tidak sesederhanya yang kalian fikirkan, jangan menggodaku dengan persepsi kalian tentang cinta seseorang yang sedang memadukasih di seberang jalan sana, tidak, ini lebih dari itu, karena cinta adalah tentang komitmen dan sebuah konskwensi untuk terus memberi tanpa henti. Seperti matahari yang terus memberikan sinarnya kepada bumi walaupun seluruh penduduk bumi tak banyak yang bersyukur, seperti kisah cinta Rasulullah S.A.W yang memberikan semuanya kepada umat nya hingga akhir hayat, sampai kepada kisah cinta Ali bin abi thalib kepada Fatimah hingga akhir hayat.
Mereka semua pemberi , karena hakikat cinta adalah selalu memberi, dan karena itu pula sayap-sayap cinta itu tak akan pernah patah, “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain” begitu kata Rumi. Rumi benar, tapi hanya ada orang-orang yang salah mengartikannya, sehingga menghasilkan orang-orang yang patut kita kasihani. Ketika kita memutuskan untuk mencintai apapun itu, maka sang pecinta sejati tak akan pernah kecewa, karena ketika objek yang dicintainya tak menerima cintanya maka itu berarti dia hanya kehilangan kesempatan memberi, tidak kurang dan tidak lebih, ini hanya masalah waktu sampai sang pecinta sejati menemukan objek yang tepat untuk menyalurkan semua energy cinta yang dia punya.
Begitu juga denganku, tapi ini bukan tentang seseorang, mungkin lain kali akan kugoreskan tentang itu, tapi ini tentang kepemimpinanku, setahun belakangan ini tentu penuh liku, dan rasa yang sama yang pasti akan dirasakan setiap pemimpin, aku sadar dibalik orang-orang yang mendukungku, tidak sedikit juga yang tidak mengharapkan kehadiranku disini, itu memang keniscayaan, tak ada pemimpin yang tidak mempunyai musuh, begitu sebuha filosofi yang pernah kubaca. “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepadamu tapi apa yang telah kau berikan kepada negaramu” begitu juga tradisi kepemimpinan dalam Amerika Serikat, sehingga aku bisa saja berdalih bahwa aku sangat tidak peduli dengan kebencian kalian, justru kalianlah yang harus sadar, apa yang telah kalian berikan untuk kampus ini, apakah lebih baik dari yang kuberikan untuk kalian dan untuk kampus ini? Namun dari tradisi nubuwwah kita, aku menemukan sesuatu yang lain, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.”
Ah indah sekali bukan? Sehingga kini aku tersadar bahwa aku merasa memang kurang dan belum mencintai kalian semua, mungkin aku mencintai sebagian tapi belum sebagian lainnya, aku terlalu egois untuk duduk bersama kalian karena aku merasa ada urusan lain yang lebih penting, namun kini aku juga tersadar bahwa inilah yang mengganggu kerja-kerja besarku selama ini, hal-hal yang disangka remeh ternyata mempunyai efek yang besar. melalui goresan ini aku ingin mengucapkan maaf kepada kalian semua yang belum keberikan rasa Cinta dan pengabdianku secara maksimal . Cinta , yah kata ini yang sempat hilang, dan aku tidak mengatakan ini terlambat, mungkin aku belum bisa memberikannya sekarang, tapi aku berjanji untuk terus belajar menjadi pecinta sejati, bukan hanya untuk seseorang atau kampus ini, tapi juga untuk negeri ini , agar negeri ini dapat kita ubah bersama menjadi sepenggal firdaus yang akan memimpin peradaban dunia suatu saat nanti, Insya Allah J