Semuanya bermula
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Tanah para syuhada
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Kemenangan kan nyata
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Palestina merdeka
Bersorak,
bernyani, meloncat, sambil bertakbir dan
dengan suara lantang meneriakkan,
“Satu kata untuk palestina,
BEBASKAN”
“Dua kata untuk palestina,
BEBASKAN PALESTINA”
“Tiga kata untuk Palestina ,BEBASKAN
PALESTINA ALLAHUAKBAR”
Begitulah kira-kira semaraknya acara
penggalangan dana sekaligus pelepasan relawan berjumlah sekitar 8 orang ke
palestina, bersama kurang lebih 8 orang teman-teman ku kami datang dari bogor
untuk ikut andil dalam acara didepok itu.
Izzatul
islam, Arruhul jadid, dan beberapa grup nasyid lain ikut meramaikan acara
tersebut, namun minus satu, sohaaaaaaaaaar gak adaaaaaaaa , yap minus shoutul
harokah, sibuk kali ya, andaikan ada wuiiih lengkap sudah , namun apalah daya
Allah berkehendak mereka tak datang, namun izzis dan arruhul jadid pun rasanya
sudah cukup membuatku dan teman-teman ku berkeringat karena loncat sana sini
hahay mantep dah
Ini Panggung Utama nya kawan,
Tau siapa
orang tua disamping? Bukan , bukan kakek kakek nyasar , enak aja hha, beliau
adalah taufik ismail bro, bersama dengan seorang pemuda dari palestin sedang
membacakan puisi, udah tua namun semangat jihadnya luar biasa, salah satu yang
dikirim ke palestina juga lo
Terdapat
beberapa jenis jenis Riba, yang Insya Allah akan coba saya bahas disini,
1. Riba
Al-Fadhl
Riba ini muncul karena adanya pertukaran
dua barang sejenis dengan kelebihan/tambahan pada salah satunya.
Diskusi tentang riba al-fadhl
muncul dalam hadis ketika emas, perak, gandum, roti, kurma dan garam
ditukar di antara barang tersebut harus dilakukan saat itu juga serta
harus sama dan sejenis.
2. Riba An-Nasi’ah
Berasal dari kata nasa’a yang
berarti menunda atau menunggu.
Riba
Nasi’ah adalah riba yang timbul karena adanya tambahan dari nilai premium
yang diperjanjikan karena terjadi penangguhan dalam pembayaran yang
diperjanjikan sebelumnya.
Riba ini merupakan tambahan
atas pinjaman.
Namun terdapat sedikit perbedaan
pendapat, yah disini perlu saya jelaskan perbedaan dalam fiqh muamalah itu
sering terjadi tapi Insya Allah semuanya berasal dari sumber yang sama yaitu
Al-Quran dan Al Sunnah.
Ada juga yang membagi RIBA
menjadi 2 garis besar dulu baru kemudian di jelaskan lebih rinci lagi agar
lebih, misalkan saja yang terdapat dalam buku “Bank Syariah dari teori Ke
praktik” karya DR.M.Syafii antonio, beliau membagi RIBA menjadi
ØRiba utang piutang, terdiri dari :
•Riba qardh: suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu
yang disyaratkan terhadap yang berhutang, contohnya Bunga.
•Riba Jahiliyah : utang
dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya
pada waktu yang ditetapkan.
Magrib yang kelam di kota bogor,
kota yang disebut kota hujan ini benar benar kota hujan, setelah hampir
seharian mendung, sang awan menumpahkan juga isi perutnya ketika azan magrib
berkumandang. Deras, deras sekali sampai sampai dapat membuat alasan untuk
tidak shalat kemasjid namun tetap saya lakukan, menerjang badai dan hujan untuk
berjalan menuju masjid , ya iyalah orang jarak kamar ke masjid hanya beberapa
langkah hehe, namun satu yang kufikirkan jadikah aku pergi malam ini? Menghapus
lelah dan penat sejenak kehidupan keras di asrama dengan bermain main kerumah
seorang teman liqo di jakarta. Setelah shalat isya akhirnya kami putuskan untuk
tetap pergi karena nampaknya hujan sudah mulai berganti dengan gerimis. Setelah
sedikit beres beres, kami berangkat menuju stasiun, lalu naik kereta menuju
keramat jati, jakarta timur, (kalau gak salah). Sampai di stasiun keramat jati
kami naik angkot 2 kali lalu sampailah kami di rumah saudara saya itu.
sederhana, tak terlalu besar, sedikit
berantakan, kertas disana sini, bahkan
terkesan sempit karena banyak barang-barang , waduh jujur amat yak , tapi ada
perasaan aneh yang saya rasakan ketika memasuki rumah tersebut, sebuah
kerinduan yang ntah datang darimana, pikirian saya melayang jauh menuju
pelabuhan merak lalu menyebrangi selat sunda hingga sampai di pelabuhan
bakauheni di lampung, terus berjalan hingga melewati palembang terus mencapai
daerah jambi lalu naik ke gunung kerinci terus turun lagi, bermain main di kebun
tehnya, sungguh tak jelas mw kemana,
belum belum, fikiran saya terus ke ibukota sumatera barat, masuk kota
padang sampai di sebuah perumahan bernama belimbing, Jeruk 3 nomor 6, memasuki
rumah yang sederhana , perkarangannya, dindingnya sampai bau tanah tempat saya
sering bermain kelereng pun rasanya masih jelas terbayang, rumah tempat aku
menghabiskan masa kecil ku selama kurang lebih 5 tahun, indah ,tenang dan damai
begitulah yang kuingat dari rumah ku itu dulu.
“Eh tih, itu kue nya di makan,” kata kawan
ku itu sambil menyodorkan sepiring berisi kue2 kecil. “yoi , makasih makasih,
gak usah repot-repot, yang ada keluarin aja semua,” jawabku dengan penuh
percaya diri haha. Pandangan ku kembali menyapu ke seluruh ruangan, berantakan
tapi damai, rasanya seperti kembali kemasa-masa itu, sungguh kerinduan yang
tiba2 menusuk. Lalu melihat adik-adiknya yang masih kecil , gemes dah, dan
akhirnya pandangan ku tertuju ke sebuah kertas iklan, yah kurang lebih seperti
brosur gtulah, ketika ku baca judulnya sangat menarik, mau tau ya? Gak mau? Ya
udah siapa juga yang peduli haha.
“Hidayat-Didik, Ayo bereskan jakarta”
begitulah, sebentar lagi pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI JAKARTA. Aku
baca brosur ttg riwayat pendidikan dan organisasi ke2 orang tersebut, menarik
dan sedikit menyita perhatianku, setelah selesai membolak-balik brosurnya
kututup dengan berdoa untuk kemenangan pak hidayat ini, semoga pak hidayat
menang dan partainya berkuasa sehingga islam kembali berjaya di negeri ini
amin. Malah kampanye –‘ haha bodo amat, terserah saya dong, lalu penasaran aku bertanya, “orang tua antum
mana?” , “belum pulang, lagi rapat kayaknya” , jawabnya. mendegar itu aku
langsung tersenyum, kayak abi buanget,
malem2 belum pulang, rapat teruuus, gak sudah sudah memikirkan umat haha. Lalu
tak lama kemudian orang tuanya pulang, dan tak selang beberapa menit sudah
keluar lagi, oalah sibuk amat ni orang, pikirku, padahal jam sudah menunjukkan
pukul setengah sebelas malam, penasaran aku keluar dan ternyata apa yang sedang
beliau lakukan? Sedang menempel sebuah poster “Hidayat-Didik” ternyata, wah
timses nih kayaknya hahay. Hingga akhirnya kawan saya tersebut berkata,
“eh tih yuk kita jalan , udah malem nih.”
“yang bilang siang siapa? –‘ , emang kita
mau jalan kemana malem2 gini?” tanyaku
“ke Kalibata, kita tidur disana aja, gak
enak disini, agak sempit dan lagi pada sibuk kayaknya.”
“loh , kenapa? Ane suka kok disni.”
“ya gak papa kita kesana aja .”
“woke ane ikut antum aja lah”
“sip lah.”
Lalu menaiki motor sederhananya kami
bertolak dari keramat jati menuju kalibata, berasama adek kecilnya yg bernama
ibrahim, biasa di panggil aim, yah biasa panggilan imut seorang anak yang belum
genap berumur 3 tahun itu. Saya penasaran apakah ketika umurnya sudah mencapai
40 tahun masih di panggil aim haha. Sejenak saya tinggalkan keluarga aktivis ,
wih aktivis, keren bener yak bahasanya, begitulah. Lalu sampailah kami di
daerah kalibata, memasuki sebuah perumahan, dan saya membaca tulisan di
gerbangnya, karena sudah gelap dan mata saya sedikit mengantuk kayaknya saya
salah baca atau apa, kalau gak salah tulisannya seperti ini ,
“RUMAH JABATAN ANGGOTA DPR-RI KALIBIATA
JAKARTA”
???
ha serius nih? Ah kayaknya kawan saya ini salah masuk perumahan, atau memang
mata ini minusnya semakin parah kali ya, tak taulah, dan akhirnya kami memasuki
sebuah rumah , 2 tingkat , 4 kamar atau mungkin 5 lengkap dengan kasur empuk
atw biasa di sebut springbed ya, 3 atau
4 kamar mandinya ya, ( maaf gak tau jelas, rumah orang uy haha) ruang tamu,
ruang tengah, dapur , garasi dan ruangan2 kosong ntah apa gunanya kyknya sih
untuk kantor atau ruang kerja, dan ada lagi ruangan untuk pembantu kayaknya di
bagian dekat atap, yah gak gede dan mewah mewah amat sih, cuman mewah banget
haha, pokonya jauh dari rumah yang sebelumnya,
tapi teng nong sepi luar biasa, disana cman tinggal seorang anak sma
kelas 1 bernama hafid yang kyknya di tugasi untuk menjaga rumah tersebut,
hampa, begitulah pandangan pertama ketika saya memasuki rumah tersebut.
“ Kita nginap disini?” tanyaku
“ yap, disini lebih luas”. Jawabnya
“hm yah luas sih, tapi..”
“kenapa ? ada yg aneh?”
“ gak gak, emang ini rumah antum?” ,
Sungguh pertanyaan yang benar-benar tolol , udah jelas tulisannya rumah
jabatan, ya jelas rumah dinas milik pemerintah --‘
“ya bukanlah, “
“Jadi orang tua antum anggota DPR?”
“Bukan – bukan, ada saudara aja, jadi
rumahnya jarang dipakai, kalau ada tamu-tamu aja biasa di pakai”
“ooh gitu,” kata ku seolah tak
terlalu peduli.
Tak
ingin rasanya bertanya lebih lanjut masalah pribadinya, cukuplah aku tau malam
ini akan menginap di rumah mewah. Ini mah rasanya bukan jadi kayak nginep di
rumah kawan, tapi kayak pindah ke hotel, gak seru ah batinku.
“Eh tau gini kemaren pas ke jakarta ama
anak-anak mau ke IBF , malemnya mending kami kesini aja ya?” aku memulai
perbincangan lagi .
“ Loh emang kalian gak jadi ke
mesjid BI?”
“apaan, di kunci uy, kami agak kemaleman
datangnya, heran ntah kenapa mesjidnya gak 24 jam, mungkin orang BI nyimpen
duit jga di mesjid kali ya haha, akhirnya kami kerumah arif di bekasi” kataku
“Yah kalian gak ngomong sih, ane waktu itu
pas lagi ngumpul ama keluarga besar jadi gak bisa ikut.”
“Ya udahlah mw diapakan”
Begitulah, lain waktu saya pernah bersama
sekitar 11 orang anak2 liqo juga pernah maen ke jakarta untuk mencari buku atau
tepatnya menghabiskan uang, yang penting jelas dari pada menghabiskan uang
untuk orang orang yang tak jelas mending beli buku, yang tersinggung
tersinggunglah, karena sesungguhnya saya benar benar tak peduli haha, sempat
terlantar malam harinya di jakarta karena tak ada penginapan, seru abiis tapi bukan
waktunya membicarakan itu sekarang, kapan kapanlah kalau ada umur panjang :D
Lanjut , akhirnya malam itu kami habiskan
waktu dengan mengobrol bersama, saya , kawan saya , dan seorang anak sma kelas
1 dan adek kecil berumur kurang dari 3 tahun di sebuah rumah yang saya rasa
bisa diisi lebih dari 10 orang, sesekali bermain PS 2, bola tentunya,
alhamdulillah saya menang beberapa kali, gak penting –‘ . Kemudian ketika jam
menujukkan setengah satu pagi, kawan saya menuju kamar di lantai 1, dan
berkata,
“Tih, kalau antum mw tidur dilantai atas aja
ya,”
“Ah gampanglah, ntar ane lihat2, paling ane
tidur di sofa ini aja.”
“janganlah, mending di atas aja.”
“ya ya”. Sahutku sambil membaca artikel di
sebuah website.
Akhirnya aku naik keatas, melihat lagi 3
kamar besar lengkap dengan springbednya dan ac nya, sungguh menggiurkan ,
sayangnya dari 3 kamar itu saya tak menemukan tempat yang nyaman untuk tidur,
gaya amat yak , padahal emang biasa tidur di lantai ni hehe, dan ujung-ujungnya
saya tertidur di atas sofa bersama laptop yang menyala..
Pagi yang cerah, shalat subuh agak telat
namun belum terlambat, pagi yang indah untuk jalan-jalan melihat perumahan
mewah anggota DPR rasanya,
“eh , jalan-jalan yuk.” Ajakku
“kemana?”
“Muter-muter aja”
“oh ayok lah”
Berkeliling melihat-lihat , yah tak
perlu lagi ku jelaskan lagi , satu hal yang pasti dari setiap rumah dinas semua
rumah sama bro, hanya di bedakan dengan nomor, penasaran aku bertanya lagi
tentang mesjidnya, setelah melihat-lihat, afwan ini hanya pendapat pribadi
ya, yah cukuplah untuk dikatakan sebuah
mesjid bagus, hanya kalau di fikirkan ini perumahan dinas DPR seharusnya
mesjidnya bisa 200 kali lipat lebih bagus dari ini , berapa sih anggarannya tak
akan melebih anggaran toilet di DPR kurasa?? haha, yah minimal 2 tingkat atau
gmana kek, tapi mungkin yang buat juga mikirnya gini, “Berapa banyak sih
anggota DPR yang mau shalat kemesjid?” jadi mungkin itu juga menjadi salah satu
alasan sehingga mesjidnya tak terlalu besar dan mewah seperti halnya rumah
rumah persinggahan mereka. Maaf pak bercanda :D
Sempat mencicipi mesjidnya dengan
shalat duha, dan berkeliling-keliling sendirian dengan motor dan sempat melihat
cengiran satpam karena benar-benar keliling mencari rumah kawan saya itu. “Ni
orang pasti baru dateng, daritadi muter muter kayak orang tolol,” begitulah
yang saya fikirkan dari cengiran sang satpam itu haha. Rencanya saya mau
diajaknya main ke TMII, tapi karena kayaknya hari udah siang akhirnya kami
putuskan untuk balik kerumah kawan saya yang di keramat jati agar sorenya bisa
balik ke asrama.
Keramat jati, sekitar pukul 14.00
Rumah
sederhana itu kumasuki lagi, kali ini lebih terlihat lebih rapi,
“Bentar ya ane mau kedalem dulu.”
Sahut kawan saya
“Eh ane mw rebahan nih, disini emang
gak papa?” ketika itu sedang berada di ruang tamunya.
“Hem, janganlah kita ke atas saja.”
“Okeeh,” aku menurut sama tuan rumah
tentunya.
Lagi-lagi bagian atasnya , afwan
kayak kapal pecah, eh tapi ini kawan ane sendiri yang ngomong :D, “benar-benar
kayak kapal pecah ni rumah” begitu katanya. Aku hanya tersenyum, tak sedikitpun
suasana ini membuatku tak nyaman, jujur justru aku merasa rileks berada disini,
lalu aku merebahkan diri di kamarnya yang berisi sekitar 4 kasur sederhana yang
disitu juga ada adek2nya yang laki-laki sedang khusyuk dengan laptopnya.
Pulas hingga ketika ashar aku tak
sempat kemasjid, karena sdikit terlambat, asik sih, rumahnya gue banget
kayaknya haha, udah lama gak bertemu dengan suasana seperti ini sih, suara
berisik adek-adek nya yang bermain , kadang ada suara anak perempuan yang
menangis, pasti abangnya ada yang jahil, gak kayak saya yang tak pernah membuat
adek nangis, boong banget haha , suara umminya yang lagi masak waaa kangen
rumaaaah uy.
Magrib,
Sedikit ada insiden, sendal gunung ane yang
baru beli hilang bro hik hik , curhat nih bang? Haha. Gak sekedar info aja, ke
mesjid jangan make sendal bagus, kecuali kalau udah ikhlas dan niat mau
berinfak hehe, yah Insya Allah ikhlas lah kehilangan sendal itu, *ikhlas
ngomong-ngomong, apanya yang ikhlas yak –‘ wkww, hanya saja saya berfikir yah bayaran dari
perjalanan yang menyenangkan ini rasanya pantas lah untuk sekedar kehilangan
sendal gunung ;)
Ba’da isya,
Di mesjid yang sama, sendalnya masih tak
ada ternyata, ooh masih ngarep toh –‘, ya iyalaahh wkwkw,
“ayok tih kita siap-siap balik ke asrama”
sahut kawan ku di jalan menuju rumahnya dari masjid.
“Yoi”. Jawabku santai
Setelah
pamitan dengan orang tuanya kami pun berjalan menuju angkot, sebagai cerita
penutup, ada yang sedikit menarik di angkot, gak sengaja di tengah keramaian
jakarta kami dapat angkot yang kosong, dan si mamang angkot yang kayaknya sudah
tua dan bangka hha, gak ding tua aja gak make bangka, bangka itu kampung saya
tempat yang indah yang tak bisa disangkut pautkan dengan ni abang angkot, apaan
sih geje banget yak wkwk, dan kemudian dia tiba tiba nyeletuk,
“hmm, kalau dulu motor dan mobil seramai
ini di jakarta pasti mau kampanye, sekarang mah rame terus.”
Ya iyalah bang, namanya juga ibu
kota, kalau papua kali dah. Tapi dalam hati hehe
“wah iya ya bang?” tanyaku pura-pura bego,
nenek-nenek juga pasti tau klw jakarta padetnya minta ampun.
“yah begitulah, gimana kalau ntar
ada kampanye ya? Pasti lebih rame nih”
“hha , iya mungkin gtu bang .”
sahutku tak terlalu tertarik.
“eh ngomong-ngomong kalian ntar milih siapa?
Sebentar lagi kan pemilihan gubernur kalian tinggal di jakarta kan?” . Si abang
ini ngoceh lagi, tapi kali ini menarik kyaknya
Saya biarkan kawan saya yang
menjawab.
“iya bang tuh di keramat jati.” Jawab
temanku
“Jadi kalian ntar milih siapa?”
tanya nya lagi kayak badan survei aje
Saya tersenyum, gak tau dia nih bapak orang
yang ditanya timses hidayat-didik wkwkw. Saya biarkan kawan saya yang
menjawab, ya iyalah masak saya yang mw
jawab, milih kagak –‘
“kami kayaknya milih pak Hidayat pak” .
sahut kawan ku,eh bntar, katanya tadi kami? Lu aja kali gw kagak. Haha
“ooh wah hidayat, berarti ada kader
PKS nih hehe” kata sang abang angkot nyengir
“gak gak kami milih karena pak didik
juga.” Kata kawanku lagi
Ehem ehem aku batuk yang tak perlu, “emang
bapak milih apa pak?” tanyaku membalas pertanyaan si bapak karena kayaknya
kwanku mulai terdesak dengan penyataan si bapak :D
“hem saya ya? Sebenernya saya pada awalnya
agak apatis dengan pemilihan ini. Yah rasanya tak akan ada yang jauh berubah
siapapun pemimpinnya. Tapi kalau ditanya saya milih siapa saya ada 2 kandidat
sih, yah kita kan negara demokrasi jadi bebas toh. Tapi ini saya baru
nglihat-lihat aja belum terlalu yakin.”
Iya iya, ni tukang angkot udah kayak
pejabat yang birokrasinya berbelit-belit, ngomong muter muter jawab aja langsung
woy hha ,
“yang pertama saya kayaknya lebih
condong ke jokowi, karena melihat solo sekarang kayaknya ada kemajuan, orangnya
juga merakyat, sering kemasyarakat tanpa
ada pengawalan , yang kedua kayaknya faisal.”
“Oh gitu ya pak, ya ya ya betul
juga.” Jawab ku seolah olah sependapat dengan pernyataan si bapak angkot, tak
taunya dia kalau-kalau preman di pasar itu anak buah jokowi semua, sama halnya
dengan partai “sensor” yang dimana mana banyak preman menjadi anggota partai
mereka, jadi ya wajar aja dia gak bawak pengawal, memang udah pengawal semua di
sekitar dia, paling cuman mau nyari muka, astaugfirullah jadi seudzon dah ama
jagoan si supir angkot ini haha . yah ini juga berbicara berdasarkan fakta yang
banyak saya temui kok. Dan bolehlah saya
menshare ini untuk kalian gratis silahkan di baca wahai para pemuda-pemudi
islam
wallahua’lam
, kebenaran hanya Allah yang tau, cukuplah bangsa yahudi terkutuk itu
mencampuri urusan negara kita, Demi Allah saya tidak rela bila negara ini benar
benar di pimpin seorang yang ada hubungan dengan yahudi.
Tapi yang pasti pelajaran yang saya
dapat, rakyat itu cinta apabila merasa pemimpinnya itu benar-benar peduli, tak
perlu ribet-ribet mengurusi korupsi, tak perlu bersuara keras untuk menentang
kenaikan BBM sehingga bakal di keluarin dari koalisi, sekedar main – main kepasar
aja mereka udah seneng, apalagi kalau dikasih "oleh-oleh sedikit" , Eh eh ngawur –‘ haha. Begitulah dan akhirnya saya kembali ke
asrama dengan perasaan yang bahagia karena banyak mendapat pelajaran dari
perjalanan singkat ini, keserdahanaanmu, ketenanganmu,perkataan dan candamu
sungguh menjadi pelajaran, terimakasih kawan, sungguh aku mencintaimu karena
Allah ya akhi ^^